'Oleh-oleh' Desainer Indonesia dari New York Fashion Week

tim, CNN Indonesia | Senin, 30/09/2019 11:52 WIB
Setelah mendaparkan kesempatan tampil di NYFW, Julianto, 2Madison Avenue, dan Yogiswari berbagi cerita, keseruan, serta perjuangan mereka di pekan mode dunia. Karya para desainer Indonesia di NYFW (Ilya S. Savenok/Getty Images for Indonesian Diversity SS20 Collection/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pada Senin (9/9) lalu desainer Julianto bersama tiga desainer Indonesia lain yakni, Maggie Hutauruk Eddy, Yogiswari Prajanti dan Marina Christyanti unjuk gigi dalam gelaran New York Fashion Week (NYFW) 2020. Keempatnya mendapat sambutan meriah di sana. Euforia NYFW 2020 pun masih terbayang di benak Julianto hingga kepulangannya ke Indonesia.

Akan tetapi di balik kilau busana dan gemerlap lampu panggung runway, Julianto bercerita dirinya justru sempat merasa tidak percaya diri. Tawaran dari Indonesia Fashion Gallery, pusat industri kreatif Indonesia di AS, sudah datang sejak Februari silam. Namun desainer lulusan Instituto Di Moda Burgo ini masih enggan.

"Rasa percaya diri belum ada, pengalaman juga belum banyak. Tapi Ibu Teti, owner dari Indonesia Fashion Gallery kasih masukan, menguatkan bahwa saya bisa tampil. Akhirnya Mei 2019 memutuskan buat ikut," ujar Julianto saat konferensi pers di Tribrata, Dharmawangsa, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.


Julianto tak memiliki waktu banyak. Koleksi disiapkan hanya selama sekitar empat bulan. Sebelum bisa tampil, koleksi musti melewati tahap kurasi oleh pihak NYFW. Dia diminta mengirim sebanyak 15 desain busana. Kemudian pihak NYFW mengambil sebanyak 12 desain untuk bisa diproduksi dan ditampilkan.


Di Tribrata, Julianto kembali memamerkan karyanya yang bertajuk 'Il Fiore'. Dalam bahasa Italia, 'il fiore' berarti berkembang. Tema mengandung asa bahwa dirinya ingin terus maju dan berkembang. Julianto pun mengambil unsur mawar pada logo label Mojuya miliknya.

Mawar digunakan sebagai lambang wanita yang feminin dan anggun. Kesan ini pula yang ingin dihadirkan Julianto dalam 12 karya desainnya. Dia menggunakan warna-warna lembut seperti pink, olive green, putih serta terselip warna hitam.

Berkonsep ready to wear, busana mengambil siluet atasan strapless, terusan ketat lurus, bustier, gaun, gaun fit and flare, jaket, rok pensil, blus lengan besar dan celana panjang. Kesukaannya terhadap detail manik-manik diwujudkan pada busana tanpa memberikan kesan berat dan berlebihan. Sebagai gong, ada busana serupa gaun yang dia sebut semi busana pernikahan atau wedding. Busana berwarna putih dengan hiasan manik kristal. Bahan jacquard memberikan tekstur unik pada busana.

Karya Julianto di NYFWFoto: Ilya S. Savenok/Getty Images for Indonesian Diversity SS20 Collection/AFP
Karya Julianto di NYFW


Sambutan penikmat fashion New York cukup baik bahkan usai peragaan, ada seorang pengusaha AS yang ingin dia buatkan busana.

"Kami semua habis tampil diundang oleh KJRI di New York, lalu ada seorang pengusaha namanya Miss Elizabeth, dia minta dibuatkan gaun," kata Julianto sembari tersenyum.

Namun lebih dari itu, dirinya bangga bisa tampil di New York, kiblat fashion dunia. "Kiblat fashion dunia itu New York, baru Milan dan Paris. Saya ingin karya saya dipakai oleh artis sana (Hollywood)," imbuhnya.


Duo warna-warni

Selain Julianto, desainer Maggie Hutauruk dan Yogiswari Pradjanti juga berkesempatan menyambangi panggung ajang NYFW. Keduanya tampak sumringah saat berbagi cerita mulai dari persiapan hingga busana mereka 'mejeng' di panggung Spring Studio. Meski mengusung tema berbeda, nyatanya keduanya sama-sama menorehkan aneka warna di New York.

"Crazy, it's like a dream," ujar Maggie saat konferensi pers di 2Madison Gallery and Art Space, Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (27/9).

Di bawah label 2Madison Avenue, Maggie hanya punya waktu sebulan jelang deadline pengumpulan karya. Bak anak sekolah yang musti menyelesaikan pekerjaan rumah cepat-cepat. Buatnya waktu seolah tidak pernah cukup, tetapi apa boleh buat, selesai tidak selesai 'tugas' musti dikumpulkan.

Sebanyak 12 look busana dipamerkan dengan tema 'Vivify the Block'. 'Vivify' berarti memberikan gairah, energi atau warna dan 'block' bisa diartikan sebagai lingkungan. Menurut Maggie, tiap orang bisa memberikan warna. Koleksi kali ini membawa nuansa era 1980-an.

"Saya suka 1980 di New York. Ada Andy Warhol, Jean Michel Basquiat, pelukis. Mereka itu enggak takut jadi diri sendiri. Pria pakai make up, fun, memancarkan energi buat lingkungannya," kata dia.

Energi era 1980-an ini pun Maggie transfer ke dalam busana mix colour yang memang jadi DNA label. Siluet-siluetnya tidak menggambarkan era 1980-an. Maggie lebih memilih menggunakan siluet mini skirt, celana kargo, blus, jaket, dan mantel.

Warna-warna tertata ciamik dan tak terkesan 'lebay'. Tak sekadar warna blok, Maggie seolah menyatukan kain aneka warna. Lihat saja celana dengan sematan tenun Makassar. Mengapa tenun Makassar? "Because why not? Tenun Makassar itu colourful," ujarnya.

koleksi 2madison avenueFoto: Ilya S. Savenok/Getty Images for Indonesian Diversity SS20 Collection/AFP
koleksi 2madison avenue


Wajah Jean Michel juga wara-wiri pada jaket. Kemudian ada satu look busana pria yang cukup menarik perhatian. Terdapat tulisan 'Berat Bersih 25 kg' pada kantong bagian dada. Pada bagian punggung terdapat logo label tepung terigu Segitiga Biru lengkap dengan tulisannya.

"Itu enggak sengaja. Persiapan cuma sebulan. Ada beberapa look yang perlu grafis di tengah. Mana ada waktu untuk print atau bordir. Nah mbak Sum (ART) pulang dari pasar, ada karung tepung, grafis bagus, looks good. Ya sudah, karung dikumpulin, dicuci," katanya.  

Berbeda dengan Maggie, Yogis, sapaan akrab Yogiswari Pradjanti, punya persiapan enam bulan. Panggung NYFW sudah jadi impiannya sejak 2017 silam. Dirinya bercerita perjalanan menuju panggung tak jauh berbeda dengan fashion show di Indonesia. Dia musti mengajukan desain dan kurasi.

Yogis tak banyak bermain dengan siluet atau sematan detail rumit. Koleksi bertajuk 'Colorful Bring Happiness' fokus pada busana-busana print.

"Inspirasinya wanita Indonesia dari berbagai kultur, budaya. Ini saya bawa karakter namanya Diajeng Red, dia pakai kacamata, pakai batik kawung, rambut merah. Karena dia lagi ke New York, makanya bisa juga disebut Miss Liberty," kata Yogis dalam kesempatan serupa.

Indonesia DiversityFoto: Ilya S. Savenok/Getty Images for Indonesian Diversity SS20 Collection/AFP
Indonesia Diversity


Ingin menonjolkan karakter Diajeng Red, Yogis menempatkan karakter wanita ini pada semua busana. Siluet-siluet busana pun dibuat longgar seperti, dress, maxi dress, celana 3/4, blus dan jaket. Panggung makin meriah karena Yogis menggunakan warna-warna gradasi oranye, light blue dan kuning.

Keduanya bercerita koleksi mendapat respons positif dari penikmat fashion New York. Maggie mengaku banyak media ingin tahu tentang busana koleksinya hingga detail.

Pertunjukan di NYFW tak membuat keduanya cepat pongah. Yogis malah menargetkan keikutsertaan di NYFW paling tidak setahun sekali. "Paling enggak tiga kali, karena orang bakal ingat. Kalau sekali terus hilang, seperti numpang lewat saja," katanya. (els/chs)