Picu Kebakaran, Rusia Larang Merokok di Balkon

CNN Indonesia | Selasa, 01/10/2019 18:18 WIB
Picu Kebakaran, Rusia Larang Merokok di Balkon Ilustrasi. (Pixabay/Alexas_Fotos)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tidak akan ada lagi kongko sambil merokok di balkon, barbekyu musim panas, atau makan malam di teras dengan penerangan lilin, karena pemerintah Rusia memperketat undang-undang keselamatan kebakaran terbaru demi mengurangi dampak jilatan Si Jago Merah yang sering disebabkan oleh kecerobohan.

Mulai 1 Oktober 2019, aturan yang ditandatangani oleh Perdana Menteri Dmitry Medvedev menyatakan bahwa setiap balkon rumah atau hotel dilarang memperlihatkan "api secara terbuka".

"Dalam 60 persen kasus, penyebab kebakaran di balkon adalah kebiasaan merokok yang ceroboh," kata Kementerian Penanggulangan Bencana pada Jumat (27/9), seraya menambahkan bahwa peraturan baru bukan berarti mengobarkan perang terhadap perokok.



Langkah-langkah itu, katanya, dimaksudkan untuk mengurangi jumlah kebakaran yang dimulai di balkon - yang jumlahnya lebih dari 2.000 sepanjang tahun ini.

Jika kebakaran terjadi karena pelaku melanggar larangan baru, mereka setidaknya wajib membayar denda dan mungkin dituntut jika dampak kebakarannya serius.

Bagi turis Indonesia yang sedang sedang berwisata dan hendak merokok di balkon tempat penginapan, ada baiknya mengindahkan peraturan ini sebelum berurusan dengan petugas keamanan setempat.


Mengisap rokok di balkon tetap menjadi pilihan bagi perokok di Rusia setelah langkah-langkah anti-merokok pemerintah sebelumnya melarang merokok dalam gedung dan banyak ruang publik lainnya.

Larangan itu hampir tidak ditegakkan dan banyak yang masih terlihat merokok di daerah terlarang, termasuk di luar stasiun metro, halte bus dan platform kereta api.

Para perokok di Moskow, yang tinggal di blok-blok apartemen, merasa keberatan dengan aturan baru itu.

"Ini menyusahkan," kata Yulia Volkova-Voroshilova yang berusia 52 tahun kepada AFP.

"Sekarang hanya orang kaya dengan tanah dan rumah luas yang bisa merokok, dan orang miskin tidak bisa berbuat apa-apa."

"Anda tidak bisa membuat orang berhenti merokok dengan tindakan seperti ini," kata Natalia Selvestrenko, 40.

"Saya akan terus merokok di balkon saya. Siapa yang akan melihat saya saat berada di sana?"

(AFP/ard)