Museum Vagina Pertama di Dunia Bakal Buka di London

CNN Indonesia | Senin, 07/10/2019 01:41 WIB
Museum Vagina Pertama di Dunia Bakal Buka di London Ilustrasi. (DieterRobbins/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Museum bertema vagina yang pertama di dunia bakal dibuka di London, Inggris, pada November mendatang, setelah usaha pengumpulan dana biaya pembangunan berhasil mencapai jumlah lebih dari 50 ribu poundsterling (sekitar Rp871 juta).

Museum Vagina akan mendidik pengunjung tentang vulva dan vagina sambil menantang stigma yang ada mengenai alat kelamin, kata manajer pengembangan dan pemasaran Zoe Williams seperti yang dikutip dari CNN Travel pada Minggu (6/10).

Pendiri museum, Florence Schechter, mengembangkan konsep untuk Museum Vagina setelah menemukan sebuah museum yang didedikasikan untuk penis di Islandia, Museum Falologi Islandia, tetapi tidak ada yang membahas vagina dengan media yang berimbang.



Schechter dan timnya kemudian meluncurkan kampanye di Crowdfunder, awalnya bertujuan untuk mengumpulkan donasi sebesar 300 ribu poundsterling.

"Karena ini adalah museum pertama di dunia yang didedikasikan untuk vagina, vulva dan anatomi ginekologi, kami tidak tahu apa yang diharapkan dari pengunjung nantinya. Namun kami senang dengan donasi yang berhasil terkumpul," kata Williams.

Museum ini akan dibuka pada 16 November 2019 di lokasi sementara di Camden Market London, dengan pameran berjudul "Muff Busters: Myths Vagina and How to Fight Them."

Pameran ini akan menantang "mitos yang melebar" tentang vagina dan vulva, kata Williams, "salah satunya seperti bahwa vagina dan vulva perlu dibersihkan melalui penggunaan produk pembersih feminin; namun vagina sepenuhnya bisa bersih dengan sendirinya."


Acara komedi dan teater, lokakarya kerajinan dan diskusi pendidikan akan diadakan di museum, katanya, yang akan membantu mengumpulkan dana untuk pindah ke lokasi yang lebih permanen.

Museum juga menjadi forum menyuarakan isu "feminisme, hak-hak perempuan, komunitas LGBT + dan komunitas interseks," "perbincangan mengenai perilaku heteronormatif dan cisnormatif" dan "mempromosikan nilai-nilai interseksional, feminis dan trans-inklusif."

"Kami ingin memberi setiap orang kepercayaan diri untuk membicarakan bagian anatomi yang sebenarnya sangat normal," Williams menjelaskan, mengutip penelitian dari badan amal penelitian kanker, The Eve Appeal, yang menemukan fakta bahwa 65 persen remaja dan anak perempuan di Inggris kesulitan menggunakan kata-kata "vagina" atau "vulva."

"Tidak ada yang memalukan atau menyinggung mengenai vulva dan vagina," katanya.

"Mereka adalah bagian dari tubuh yang harus diapresiasi!"

(ard/ard)