Masuk Lorong Waktu di Pantai Boom Banyuwangi

Dias Saraswati, CNN Indonesia | Minggu, 06/10/2019 17:51 WIB
Masuk Lorong Waktu di Pantai Boom Banyuwangi Pantai Boom di Banyuwangi. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)
Banyuwangi, CNN Indonesia -- Bali, Lombok, atau Raja Ampat sudah lama terkenal dengan keindahan kawasan pesisir. Namun harga tiket pesawat yang mahal membuat banyak turis, terutama kaum millennial, jadi mengurungkan niatnya untuk menikmati 'vitamin sea'.

Sebenarnya kalau punya dana terbatas, turis masih bisa menjelajahi pantai-pantai yang ada di Banyuwangi. Selain dengan pesawat, dari Jakarta pulau yang berada di timur Jawa ini bisa didatangi dengan menumpang kereta atau sambung menyambung bus. Petualangan jalur darat menjadi nilai lebihnya.

Banyuwangi memiliki sejumlah pantai yang telah dikenal oleh wisatawan, mulai dari Pantai Pulau Merah, Pantai Sukamade, Teluk Hijau, dan sebagainya. Selain menyelam, turis juga bisa memancing sampai berselancar di sini.



Jika punya waktu singkat untuk berwisata di Banyuwangi setelah mengunjungi Kawah Ijen atau Taman Nasional Baluran, tidak ada salahnya bertandang ke Pantai Boom.

Mungkin belum banyak orang yang tahu tentang Pantai Boom. Maklum saja, pantai ini dulunya memang sepi dan saat ini baru dalam tahap proses pengembangan pariwisata.

Pantai Boom diketahui dikelola oleh PT Pelindo III. Hal itu karena mulanya kawasan tersebut merupakan dermaga atau pelabuhan untuk kapal-kapal pengangkut barang.

Tiba di sana, ada sebuah loket penjualan tiket. Saat itu, saya mesti merogoh kocek sebesar Rp10 ribu, sudah termasuk tiket masuk dan parkir mobil.

Melewati gerbang, saya disambut dengan sebuah monumen besar bertuliskan 'Pantai Boom'.


Di dekat lokasi itu, terdapat dermaga yang menjadi bersandar kapal-kapal pengangkut barang. Sementara di pinggir dermaga, terdapat sejumlah kursi dan payung, tempat para penjual menjajakannya barang dagangannya.

Dari informasi yang saya peroleh, katanya lokasi itu nantinya bakal dibangun sebuah resor dan bakal dilengkapi dengan dermaga untuk berlabuh kapal-kapal pesiar.

Di seputar area itu, juga terdapat gudang kuno. Konon katanya, gudang itu ada sejak zaman VOC, alias sejak zaman penjajahan Belanda dulu.

Namun, kini gudang itu sudah tak difungsikan lagi. Pintunya pun digembok rapat. Padahal saya penasaran ingin melihat seperti apa bagian dalam gudang itu. Saya pun hanya bisa mengelilingi gudang itu dari luar saja.

Setelahnya, saya langsung bergegas ke lokasi utama yang ingin saya tuju, yakni Pantai Boom.

Hari itu, suasana di sana terbilang sepi karena saat saya ke sana bukan hari libur. Sehingga memang tak banyak wisatawan yang berlibur di sana.

Pantai Boom memiliki pasir berwarna hitam. Di pinggiran pantainya, berjejer sejumlah kursi payung. Cocok untuk menikmati semilir angin pantai, namun tak ingin menghitam karena sinar matahari. Apalagi, jika didampingi dengan es kelapa muda.

Dari tepi pantai kita bisa langsung melihat Pulau Bali secara jelas. Benar-benar ada di depan mata. Kita bisa melihat perbukitan di sisi barat dan utara Pantai Bali.

Ada satu hal yang unik, jika jam di ponsel kita diatur secara otomatis mengikuti zona waktu di mana kita berada. Maka jam di ponsel kita secara otomatis akan mengikuti zona waktu Bali saat kita berada di tepi pantai. Dua waktu di satu tempat, ajaib!

Sebab, konon katanya, jika kita berada di tepi pantai, saat itu kita berada di ujung paling timur Pulau Jawa.

Di pantai ini, sejumlah festival juga kerap diselenggarakan. Banyuwangi sendiri memang dikenal sebagai kota festival, saking banyaknya festival yang digelar tiap tahunnya.

Beberapa festival yang diselenggarakan di Pantai Boom yakni Beach Jazz Festival, Gandrung Sewu, dan sebagainya.

Tak hanya hamparan pasir dan kursi payung yang berjejer saja, di salah satu sudut terdapat semacam monumen berbentuk sayap.

Lokasi itu, kerap dijadikan sebagai salah spot foto favorit para wisatawan. Bagaimana tidak, jika kita berfoto di tengah sayap tersebut, bakal menghasilkan foto seolah-olah kita memiliki sebuah sayap.

Selain itu, kita juga bisa menjelajahi hamparan pasir hitam di Pantai Boom dengan menunggangi kuda. Lumayan, untuk menghemat tenaga jika tak ingin menyusuri garis pantai dengan berjalan kaki.

Bila perut mulai merasa lapar pun kita tak perlu khawatir. Ada area kantin yang menyajikan berbagai makanan yang letaknya tak jauh dari pantai.

Pemandangan senja di pantai ini juga menjadi momen yang patut untuk dinantikan. Jika punya waktu tentu saja.

(ard)