Pesona Tersembunyi di Ratenggaro

CNN Indonesia | Senin, 07/10/2019 12:10 WIB
Pesona Tersembunyi di Ratenggaro Ilustrasi kubur batu. (CNN Indonesia/Lalu Rahadian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sumba Barat Daya tak hanya memiliki keindahan alam berupa pantai eksotis atau kawasan perbukitan yang memesona.

Di balik sisi panorama yang menawan, daerah ini masih menyimpan kekayaan budaya yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah di Ratenggaro.

Desa Adat Ratenggaro terletak di dekat bibir pantai wilayah Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo. Ratenggaro berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota Tambolaka.

Ratenggaro memiliki arti yaitu "Rate" yang berarti kuburan, sedangkan "Garo" yang artinya orang-orang Garo.

Meski belum ada transportasi umum untuk mencapai ke sana dan masih harus menyewa kendaraan dari Tambolaka, akses jalanan dari Tambolaka menuju Ratenggaro cukup baik.

Kondisi jalan sudah beraspal dan terpelihara baik sehingga perjalanan dapat ditempuh dalam waktu 1,5 hingga 2 jam saja.


Memasuki kawasan Desa Adat Ratenggaro, pengunjung disambut jajaran kuburan batu besar mirip menhir lengkap dengan ukiran tatah aksara kuno.

"Ada sekitar 300-an kubur batu di atas (Desa Adat Ratenggaro), kalau di bawah sini (dekat pantai Ratenggaro) ada tiga, tiga-tiga ini memiliki kedudukan khusus dulunya makanya batu makamnya besar-besar dan ukirannya bagus," kata seorang warga Kodi Bangedo, Samuel, seperti yang dikutip dari Antara, Senin (7/10).

Desa yang berudara sejuk meski matahari bersinar terik itu terdiri dari deretan rumah adat yang disebut "Uma Kelada" yakni rumah panggung empat tingkat dengan ciri khas menara menjulang tinggi mencapai 15 meter. Atapnya terbuat dari jerami dan tinggi rendahnya atap dibuat berdasarkan status sosial.
Lantai paling bawah digunakan sebagai tempat hewan peliharaan, tingkat kedua adalah tempat pemilik rumah tinggal bersama, tingkat ketiga adalah tempat untuk menyimpan hasil panen.

"Paling atas tempat untuk meletakkan tanduk kerbau sebagai simbol tanda kemuliaan," kata Samuel.

Sayangnya, potensi keindahan wisata dan budaya di daerah itu tampaknya belum digarap maksimal oleh pemerintah daerah.

Selain tak ada transportasi umum yang memadai, tak ada fasilitas umum tampak di sekitar daerah wisata tersebut.

Jika ingin mampir melihat kehidupan masyarakat di Desa Adat Ratenggaro, jangan lupa membawa oleh-oleh untuk anak-anak desa yang akan senang jika diberi biskuit atau permen dan cokelat.
[Gambas:Video CNN] (ANTARA/agr)