Sifilis Kongenital, Infeksi Seksual yang Melonjak Pesat di AS

Tim, CNN Indonesia | Senin, 14/10/2019 01:41 WIB
Sifilis Kongenital, Infeksi Seksual yang Melonjak Pesat di AS Ilustrasi penyakit seksual. (Istockphoto/ Hailshadow).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus infeksi menular seksual (IMS) seperti sifilis mengalami lonjakan yang signifikan di Amerika Serikat pada 2018 lalu. Sifilis kongenital yang ditularkan ibu pada bayi saat masa kehamilan jadi sorotan. 

Hal ini diketahui dalam laporan teranyar terkait IMS yang diterbitkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS baru-baru ini. Selain sifilis, peningkatan juga terjadi pada gonore dan klamidia.

"Gabungan ketiganya total tercatat sebanyak 2,4 juta kasus infeksi yang didiagnosis pada 2018," ujar ahli epidemiologi CDC, Elizabeth Torrone, mengutip CNN. Temuan ini merupakan jumlah terbanyak yang pernah terekam di AS sepanjang sejarah.


CDC memprediksi, peningkatan ini salah satunya disebabkan oleh penurunan penggunaan kondom. Selain itu, peningkatan kesadaran masyarakat akan pemeriksaan medis terkait IMS juga turut berpengaruh.

Salah satu yang paling disoroti dalam laporan itu adalah meningkatnya angka sifilis kongenital sejak 2013 lalu. Sifilis kongenital merupakan infeksi menular seksual yang ditularkan ibu pada bayi saat masa kehamilan.

"Salah satu yang benar-benar menonjol dalam laporan ini adalah soal sifilis kongenital," ujar Torrone.

Laporan terkait penyakit menular seksual pada 2017 menemukan, kasus sifilis kongenital meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2013 lalu.

Menukil situs resmi CDC, sifilis kongenital berisiko memicu keguguran, stillbirth, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan kematian bayi tak lama setelah lahir. Sebanyak 40 persen kasus sifilis kongenital berujung pada kematian bayi saat baru dilahirkan.

Beberapa bayi dilaporkan bertahan. Namun, besar kemungkinan bayi akan mengalami kondisi berupa cacat pada tulang, anemia, hati dan limpa yang membesar, penyakit kuning, masalah otak dan saraf, meningitis, serta ruam kulit.

Tak ada gejala yang dapat dideteksi saat bayi baru dilahirkan. Umumnya, sifilis kongenital berkembang dalam beberapa pekan pertama setelah kelahiran.

CDC menulis, semua ibu hamil harus mengikuti tes sifilis pada kunjungan prenatal pertamanya. Perlu diketahui, gejala sifilis jarang diketahui secara fisik. Jika pun ada, gejala itu hanya berupa luka ringan atau mirip dengan tanda masalah kesehatan lainnya.

Sifilis sendiri merupakan infeksi bakteri yang menular melalui kontak seksual. Mengutip situs kesehatan MayoClinic, penyakit umumnya dimulai dari sebuah luka yang muncul pada alat kelamin, dubur, atau mulut.

Tanpa pengobatan, sifilis dapat sangat merusak jantung, otak, dan organ tubuh lainnya. Dalam tingkat yang lebih parah, sifilis juga dapat mengancam jiwa.

[Gambas:Video CNN] (asr)