Mi Instan Buat Anak-anak Asia Kurang Gizi

tim, CNN Indonesia | Rabu, 16/10/2019 22:04 WIB
Mi Instan Buat Anak-anak Asia Kurang Gizi Mi instan (Istockphoto/estebanmiyahira)
Jakarta, CNN Indonesia -- 'Diet' dengan makanan murah dan modern seperti makan mi instan telah menyebabkan jutaan anak di Asia Tenggara jadi kurus tak sehat dan ada juga yang kelebihan berat badan.

Kasus ini meningkat pesat di Filipina, Indonesia, dan Malaysia. Ketiga negara ini punya ekonomi yang berkembang pesat dan standar kehidupan yang meningkat. Namun berbanding terbalik dengan itu, banyak orang tua yang bekerja dan tak punya waktu, uang, atau kesadaran untuk menghindari makanan yang melukai anak-anak mereka.

Dari ketiga negara tersebut, rata-rata 40 persen anak berusia lima tahun ke bawah mengalami kekurangan gizi. Menurut laporan dari UNICEF jumlah ini jauh lebih tinggi dari rata-rata global satu dari tiga orang.


"Orang tua percaya bahwa mengisi perut anak-anak mereka adalah yang penting. Mereka tidak benar-benar memikirkan asupan protein, kalsium, atau serat yang memadai," kata Hasbullah Thabrany, pakar kesehatan masyarakat di Indonesia kepada AFP.


UNICEF mengatakan bahwa masalah ini terjadi karena adanya masalah di masa lalu dan prediktor kemiskinan di masa depan. Sementara kekurangan zat beso merusak kemampuan anak untuk belajar dan meningkatkan risiko kematian ibu selama atau setelah melahirkan.

Di tahun lalu, berdasar data UNICEF menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 24,4 juta anak di bawah usia lima tahun, Filipina punya 11 juta, dan Malaysia punya 2,6 juta anak di bawah lima tahun yang mengalami masalah kurang gizi.

Mueni Mutunga, spesialis nutrisi UNICEF ASIA menelusuri kembali tren bagi keluarga yang meninggalkan makanan tradisional untuk makanan modern yang dianggap lebih terjangkau, mudah diakses, dan mudah disiapkan.

"Mi itu mudah, mi murah, cepat, dan mudah menggantikan apa yang seharusnya menjadi makanan seimbang," katanya.

ilustrasi mi instanFoto: safir makki
ilustrasi mi instan


Meski mi harganya murah namun pada kenyataannya, makanan ini rendah nutrisi penting dan zat gizi mikro seperti zat besi dan juga kekurangan protein serta punya kandungan lemak dan garam yang tinggi.

Menurut World Instant Noodles Association, Indonesia adalah konsumen mi instan terbesar kedua di dunia. Di posisi pertama ada China dengan 12,5 miliar porsi pada 2018.


"Kemiskinan adalah masalah utama," kata T. Jayabalan, ahli kesehatan masyarakat di Malaysia.

Selain mi instan, biskuit yang kaya gula, minuman dan makanan cepat saji juga menimbulkan masalah di negara-negara tersebut.

"Promosi dan periklanan sangat agresif," kata Thabrany.

"Ada distribusi besar-besaran. Mi instan tersedia di mana-mana, bahkan di tempat-tempat paling terpencil sekalipun." (chs)