Evaluasi 5 Tahun Kabinet Kerja

Efek Jokowi dan Cita-cita Kiblat Fesyen Muslim 2020

tim, CNN Indonesia | Jumat, 18/10/2019 14:36 WIB
Efek Jokowi dan Cita-cita Kiblat Fesyen Muslim 2020 ilustrasi fashion (wendybuiter/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peran pemerintah di era Jokowi pada sektor ekonomi kreatif fashion dianggap masih kurang terasa.

Selama lima tahun berada di bawah kepemimpinan Jokowi, sektor fashion sebagai sektor ekonomi kreatif masih agak lesu.

Suara-suara meminta dukungan dan juga perhatian dari desainer, pengrajin lokal, serta pelaku industri fesyen lokal kepada pemerintah juga masih terdengar sampai saat ini.


Setidaknya ada dua hal yang bisa jadi highlight dan catatan khusus dari sektor fashion selama era kepemimpinan Jokowi.

Cita-cita Kiblat Fashion Muslim 2020

Salah satu tantangan fashion adalah karena adanya cita-cita Indonesia untuk menjadi pusat mode muslim dunia pada 2020. Agenda untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat industri fesyen muslim ini juga sudah ada di dalam agenda kepemimpinan Jokowi.

"Saya yakin, insyaallah Indonesia bisa menjadi kekuatan besar dalam menguasai pasar busana muslim," ujar Jokowi di Istana Bogor, Kamis (26/4).

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut kunjungan Jokowi ke Muslim Fashion Festival (MuFest) 2018 di JCC beberapa hari lalu. Saat itu, Presiden menyadari busana muslim merupakan satu potensi yang memiliki pasar besar.

Pada 2016 saja, industri fashion saat ini mampu menyumbang 50 persen dari pendapatan negara di bidang industri kreatif dan terdapat 2-3 persen pertumbuhan ekspor setiap tahun.

Di tahun 2018, nilai ekonomi industri fesyen di Tanah Air dalam setahun mencapai Rp166 triliun. Sementara itu, hampir sepertiganya, yakni Rp54 triliun disumbang dari busana muslim.

"Ini jumlah yang sangat besar sekali. Saya kira bisa diinjeksi lagi untuk naik terutama ke pasar-pasar luar," kata Jokowi saat itu.

"Saya kira kesempatan itu terbuka lebar di depan. Tapi memang harus ada kerja sama yang baik antara desainer, pengusaha, dan pemerintah," ucapnya.

Sekarang, tahun 2020 hanya tinggal beberapa bulan lagi. Sampai sejauh mana cita-cita Indonesia ini bisa sudah terwujud? Bagaimana kondisi fashion Indonesia saat ini? Adakah kritik dan saran bagi pemerintah?

"Dalam setahun terakhir, sebenarnya pemerintah sudah banyak membantu banyak deainer UKM melalui Bekraf dan beberapa Kementerian. Bank Indonsia bhkan November ini akan merilis ISEF," kata desainer busana muslim Hannie Hananto kepada CNNIndonesia.com.

"Tapi bagaimana akan jadi pusat kalau desainer modest atau muslim luar tak kenal Indonesia? Desainer Indonesia dan dunia tidak dijadikan satu stage. Satu stage di Indonesia."
2 Catatan Penting Dunia Fashion di Era Jokowi Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)

Penyebabnya, kata Hannie, adalah bentuk event yang diselenggarakan kurang tepat.

Selain itu, dalam beberapa kondisi, Hannie mengungkapkan dukungan pemerintah untuk pertunjukan desainer di luar negeri juga masih dirasa kurang.

"Faktanya kalau desainer yang ke luar negeri dan mendapat suppport pemerintah dan show di KBRI KJRI, mayoritas penontonnya hanya orang Indonesia."

Hal ini dirasakan oleh Hannie dan -memang faktanya- kurang tepat sasaran. Seharusnya show di luar negeri bertujuan untuk memperkenalkan kreasi Indonesia ke mata dunia, bukan hanya untuk orang Indonesia yang ada di luar negeri.

Melihat berbagai pers rilis dan foto-foto yang diterima CNNIndonesia.com dari banyak desainer Indonesia yang mengadakan show di luar negeri (catatan: bukan pekan mode dunia), terutama di KBRI dan KJRI tamunya lebih banyak yang merupakan orang Indonesia.

Lalu melihat kenyataannya saat ini, optimiskah Hannie bahwa Indonesia bisa menjadi kiblat busana muslim 2020?

"Sebenanya kita punya lho. Pusat busana muslim sentra Tanah Abang, Thamrin City untuk kelas menengah bawah. Sentra high class-nya belum bisa kerjasama sebetulnya dengan mal-mal besar Indonesia." ucap dia.

"Untuk event internasional kita punya lokasinya dan punya desainernya, punya pengrajin, punya bahannya. Tinggal undang desainer luar negeri, dan kita punya linknya."

"Jadi tunggu apalagi, 2020 bisa itu terwujud, tapi kalau masih mau mewujudkan dengan cepat lho."

Dia menambahkan bahwa banyaknya jumlah desainer adalah aset Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat mode muslim.

"Selain itu butuh adanya penelitian dan riset khusus. Ketika memenuhi undangan khusus show di Korea, mereka sangat serius menanggapi maka dibentuk KRIFI (Korea Research and Fashion Industry. Itu khusus, tidak digabung dalam satu lembaga, (kalau di Indonesia) seperti Bekraf."

Kebangkitan Label Lokal

Sampai saat ini, kreativitas dan kemajuan mode Indonesia memang tak perlu diragukan. Hal ini terlihat dari banyaknya desainer serta label fashion lokal yang bermunculan dan bahkan menjamur. Kebanyakan memang dimotori oleh anak muda dengan pikiran kreatif serta sentuhan yang dinamis, sebut saja Sean and Sheila, Julianto, sampai Cotton Ink, Byo, Freiderich Herman, Albert Yanuar, Toton, dan lainnya.

Jumlah desainer dan label fashion lokal baru bakal terus bertambah. Tengok saja jadwal berbagai pekan mode Indonesia yang menelurkan berbagai desainer-desainer lokal baru dalam tiap ajangnya.

Namun ironisnya, mereka lebih dulu diakui oleh penikmat fesyen luar negeri dibanding di dalam negeri.

"Ironisnya walau brand lokal, brand dari indonesia, kami dapat pengakuan dan dukungan itu dari Malaysia dan Singapura," kata Sheila saat ditemui CNNIndonesia.com di 2018.
2 Catatan Penting Dunia Fashion di Era Jokowi Sneakers ala Presiden. (Foto: Biro Pers Setpres/ Rusman)

"Saat itu dengar Indonesia masih punya stigma, bisa masuk (pekan mode) kalau bisa bayar. Dan saat itu kami enggak bisa bayar, ya mau gimana lagi?" katanya.

Berdasar data BPS 2016, jumlah usaha ekonomi kreatif DKI Jakarta berjumlah 482.094. Sekitar 20,92 persen di antaranya dikuasai oleh bidang fesyen. Ini menduduki posisi ketiga disetelah kuliner dan kriya.

Melihat tren saat ini, jumlah pengusaha fesyen seharusnya meningkat. Salah satu titik poinnya terjadi ketika Jokowi mulai ikut mempopulerkan gerakan fesyen lokal.

Jokowi sempat membuat geger warga Indonesia dengan membeli dan memakai berbagai produk dalam negeri. Sneakers Jokowi yang dibelinya di salah satu label sepatu lokal NAH Project.


Sneakers buatan produsen lokal asal Bandung, Nah Project itu berwarna hitam dengan sol putih yang terkesan sangat kekinian. Sneakers ini juga dipakai saat mengunjungi acara musik We The Fest 2018.

Aksi nyentrik Jokowi kembali terlihat kala touring ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi dengan menunggangi motor chopperland ditambah jaket denim berpadu sneakers Vans metallica berwarna hitam. Jaket buatan Never Too Lavish itu didesain khusus untuk sang presiden. Desain itu menggambarkan Indonesia dengan segala keberagaman yang dimilikinya.

Sejak saat itu kedua label lokal ini pun menjadi incaran banyak orang. Bisnis-bisnis lokal pun berkembang, salah satunya sang anak yang juga membuat bisnis jas hujan yang diberi nama Tugas Negara yang juga sempat jadi buah bibir.

Langkah ini dianggap menjadi sebuah pengakuan kualitas dari Jokowi. Langkah ini patut diapresiasi karena dukungan Jokowi secara tak langsung ini membangkitkan gairah kreativitas dan jiwa bisnis label-label dan desainer lokal. Namun cukupkah hal ini?

"Pak Jokowi kan pemikirannya milenials banget dan selalu melibatkan anak muda," kata desainer Indonesia Didiet Maulana kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Ada harapan yang juga diungkapkan Didiet.

"Mudah mudahan di periode mendatang Pak Jokowi bisa ikut bersama praktisi seperti kami yang memang terjun langsung ke lapangan untuk memikirkan bagaimana cara membuat anak-anak muda agar ikut menenun," katanya. "Kalau menurut saya harus masuk ke dunia pendidikan, seperti masuk ke sekolah sekolah SMK."

[Gambas:Video CNN]