Naik Gaji 50 Persen Turunkan Risiko Penyakit Kardiovaskular

tim, CNN Indonesia | Jumat, 18/10/2019 12:21 WIB
Naik Gaji 50 Persen Turunkan Risiko Penyakit Kardiovaskular Naik Gaji 50 Persen Bisa Turunkan Risiko Penyakit Kardiovasku(Istockphoto/Vergani_Fotografia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Orang bilang uang atau gaji tinggi memang tak bisa membeli kebahagiaan, namun jika tak punya uang kebahagiaan juga akan berkurang.

Namun bukan cuma soal kebahagiaan, uang sedikit dan gaji kecil juga dikaitkan dengan risiko penyakit.

Sebuah studi yang diunggah dalam Journal of American Medical Association menunjukkan bahwa gaji yang lebih tinggi bisa mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Sedangkan pemotongan gaji bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 17 persen.


Tim peneliti dari Brigham and Women's Hospital serta Harvard Medical School melakukan penelitian terhadap 9.000 partisipan dengan rentang usia antara 45-64 tahun selama rentang usia 17 tahun.


Peneliti menemukan bahwa orang yang gajinya naik sampai 50 persen dalam kurun waktu enam tahun, berisiko 15 persen lebih rendah terserang penyakit kardiovaskular. Sementara itu, orang yang gajinya turun 50 persen memiliki risiko 17 persen lebih tinggi terserang penyakit tersebut.

Kesimpulan peneliti, hal ini bisa terjadi karena saat upah kecil atau diturunkan, orang mungkin tak punya cukup uang untuk pergi ke gym, merasa lebih cemas, makan lebih banyak junk food yang berakhir dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Studi tersebut menyebut bahwa penyakit kardiovaskular yang diderita antara lain infark miokard (MI), penyakit jantung koroner yang fatal, gagal jantung, atau stroke.

Salah satu peneliti dan ahli kesehatan masyarakat mengungkapkan bahwa gaji yang rendah bisa menyebabkan perubahan dalam kebiasaan makan. Selain itu orang dengan tekanan finansial lebih cenderung makan makanan murah dan berkalori tinggi.



"Alkohol dan tembakau juga terkait, meningkatnya stres dan depresi juga bisa menimbulkan risiko kardiovaskular," katanya dikutip dari World of Buzz.

Hanya saja penelitian ini masih membutuhkan penelitian lanjutan. Penelitian awal ini terbatas pada hubungan antara perubahan pendapatan dengan insiden penyakit kardiovaskular. (chs)