Penanganan Demam Berdarah sesuai dengan Fase DBD

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 24/10/2019 19:16 WIB
Penanganan Demam Berdarah sesuai dengan Fase DBD Ilustrasi. Bila dilakukan dengan tepat, penanganan demam berdarah dapat menghindari pasien dari bahaya komplikasi akibat demam berdarah. (Foto: Istockphoto/KatarzynaBialasiewicz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pergantian musim dianggap sebagai masa yang paling rawan munculnya sejumlah penyakit, salah satunya demam berdarah dengue (DBD) yang kerap masuk sebagai kejadian luar biasa (KLB) di sejumlah wilayah di Indonesia. Bila penanganan demam berdarah tak dilakukan dengan tepat, demam berdarah bisa berujung bahaya.

Demam berdarah merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Gejala khas dari demam berdarah ialah demam
tinggi hingga 40 derajat celcius yang muncul mendadak dan berlangsung selama 2-7 hari.

Gejala tersebut umumnya dalam tiga fase, yaitu fase demam tinggi, lalu fase demam turun yang menandai masa kritis, serta fase demam ringan sebagai fase penyembuhan.
Setiap fase memiliki penanganan demam berdarah yang berbeda.
Fase demam tinggi


Demam mencapai 40 derajat yang tak kunjung turun lebih dari 4 hari dengan obat penurun panas dapat menjadi indikasi awal demam berdarah. Demam biasanya muncul tiba-tiba saat Anda sedang dalam kondisi yang bugar.

Setelah demam berlangsung lebih dari 2 hari, umumnya kepala akan terasa sakit terutama di area belakang bola mata, diikuti rasa nyeri pada sendi dan otot, beberapa juga mengalami ruam merah pada kulit. Bila demam berlangsung hingga 4 hari, umumnya jumlah trombosit mulai menurun dan stamina tubuh pun hilang.

Selama fase demam tinggi, penanganan demam berdarah yang perlu dilakukan ialah minum banyak air putih. Pasalnya, demam tinggi rentan membuat tubuh dehidrasi dan
menjadi semakin lemah. Konsumsi air sebanyak 2,5 liter sangat dianjurkan sebagai upaya menurunkan demam.

Sedangkan untuk membantu menurunkan demam dengan cepat dan menghindari kejang pada anak, serta mengurangi rasa nyeri, konsumsi obat penurun panas sesuai dengan anjuran dokter bisa dilakukan.

Fase kritis

Bila kondisi demam tak membaik selama 4 hari dan tubuh semakin lemah, gejala unik dari demam berdarah selanjutnya ialah fase kritis. Fase ini ditandai dengan suhu tubuh yang turun, kerap dianggap fase sehat. Padahal, jika demam turun namun tubuh justru semakin lemah, maka sebenarnya tubuh sedang memasuki fase kritis demam berdarah.

Selama fase kritis, penderita demam berdarah sangat berisiko alami kebocoran pembuluh darah yang ditandai dengan keluarnya bintik merah yang tak hilang saat disentuh, mimisan, sakit perut yang patah, hingga muntah-muntah.

Untuk menegakkan diagnosa demam berdarah, pemeriksaan darah di laboratorium harus dilakukan. Bila fase ini dibiarkan, maka penderita bisa mengalami komplikasi demam berdarah yang berbahaya bagi kesehatan, seperti kebocoran pembuluh darah yang berujung pada pendarahan hebat, kerusakan organ, hingga kematian.

Penanganan demam berdarah untuk fase ini haruslah intensif, seperti perawatan di rumah sakit, agar komplikasi akibat demam berdarah tak terjadi, sehingga penderita bisa kembali pulih dengan lebih cepat.

Fase penyembuhan

Fase kritis biasanya berlangsung tak lebih dari 38 jam. Bila penderita berhasil melaluinya dengan baik, maka perjalanan infeksi demam berdarah masuk dalam fase penyembuhan. Fase penyembuhan ditandai dengan demam ringan, stamina tubuh membaik, perbaikan nafsu makan, serta sakit perut yang berangsur hilang.
Walau begitu, penanganan demam berdarah pada fase penyembuhan tetap harus dilakukan, yaitu dengan cukup minum, konsumsi makanan yang tinggi protein, konsumsi banyak buah dan sayur, serta beristirahat cukup.

Bila dilakukan dengan tepat, penanganan demam berdarah dapat menghindari pasien dari bahaya komplikasi akibat demam berdarah.

[Gambas:Video CNN] (ayk/ayk)