'Modifikasi' Anjing Jadi Mirip Panda, Kafe di China Dikritik

CNN Indonesia | Selasa, 29/10/2019 12:23 WIB
'Modifikasi' Anjing Jadi Mirip Panda, Kafe di China Dikritik Anjing jenis Chow Chow yang "dimodifikasi" mirip panda. (STR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok pecinta hewan, People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), meminta turis untuk tidak mendatangi objek wisata yang menjual interaksi dengan hewan "modifikasi" seperti yang dilakukan sebuah kafe di Chengdu, China.

Seperti yang dikutip dari Lonely Planet pada Sabtu (26/10), kafe bernama Cute Pet Games itu memiliki layanan kongko sambil bermain bersama kawanan anjing jenis Chow Chow yang "dimodifikasi" seperti panda.

"Modifikasi" tersebut berupa pewarnaan bulu anjing, hingga bulunya berwarna hitam dan putih mirip panda.



Dibuka pada bulan lalu, kafe ini berada di selatan provinsi Sichuan. Sang pemilik mengatakan kalau kafenya juga menyediakan layanan "memodifikasi" anjing pengunjung hingga berwarna serupa panda.

PETA mengatakan kafe seperti ini mendulang keuntungan dengan mengubah nasib hewan secara tidak alami, dalam hal ini mengubah warna bulu anjing chow chow yang alami menjadi hitam putih seperti panda.

"Ada cara yang jauh lebih baik untuk menunjukkan sayang kepada panda daripada dengan menggunakan anjing sebagai pajangan dekoratif," kata Lisa Lange, wakil presiden senior komunikasi di PETA Amerika Serikat.

"Anjing yang bulunya diwarnai terancam mengalami masalah kesehatan akibat terpapar bahan kimia, seperti masalah kulit, hidung, dan mata."


Seperti yang diberitakan sebelumnya, objek wisata Pulau Monyet di Vietnam dikecam sebagai objek wisata yang mempromosikan kekejaman terhadap hewan liar.

Di Pulau Monyet, monyet-monyet mengendarai sepeda motor, mengangkat beban, dan menembak bola basket dalam pertunjukan sirkus yang berakhir dengan seekor monyet dengan rok berenda yang mengumpulkan uang saweran para penonton.

Di tempat lain di pulau itu, pengunjung dengan penuh semangat menempatkan taruhan pada perlombaan monyet berenang.

"Monyet tidak bisa memilih untuk berjalan dengan kaki belakangnya, mengendarai sepeda, atau melakukan trik yang tidak berarti dan memalukan - mereka hanya belajar untuk takut apa yang akan terjadi jika mereka tidak melakukannya," kata Jason Baker, wakil presiden kelompok perlindungan fauna PETA.

"Perusahaan perjalanan dan turis harus berhenti membeli tiket ke objek wisata kejam seperti Pulau Monyet ini," tambahnya.

Ada sekitar 1.200 monyet di pulau kecil itu, tempat eksperimen vaksin pernah dilakukan oleh para ilmuwan Soviet sebelum diubah menjadi objek wisata pada 1990-an.


[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)