Taejongdae, Tebing Bersejarah di Pesisir Busan

CNN Indonesia | Kamis, 14/11/2019 16:47 WIB
Taejongdae, Tebing Bersejarah di Pesisir Busan Taman Taejongdae di Busan, Korea Selatan. (Istockphoto/ Joel Carillet)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korea Selatan bukan cuma Seoul. Ada juga Busan yang dikenal sebagai kota pelabuhan. Salah satu objek wisata di Busan ialah Taman Taejongdae.

Taman Taejongdae merupakan salah satu lanskap alam terbaik di Korea Selatan. Lokasinya di bagian selatan Busan atau sekitar 14 kilometer dari Distrik Yeongdo (pusat kota Busan).

Tebing di Taman Taejongdae merupakan penghalang ombak atau pelindung alami Pelabuhan Busan. Saat hendak memasuki pelabuhan, dua kapal yang berseberangan terlihat berhenti di kedua sisi tebing untuk saling memberikan kabar.


Di taman ini turis bisa menemukan sedikit ketenangan setelah menjelajahi kesibukan di pusat kota Busan.


Seperti yang dikutip dari Antara pada Kamis (14/11), Taejongdae diambil dari nama salah satu raja di Korea Selatan, yaitu Raja Taejong Muyul (654-661) dari Dinasti Silla. Ia dikenal karena berhasil mempersatukan tiga kerajaan kecil di Korea. Dahulu kala, Raja Taejong selalu berlatih memanah di wilayah ini.

Taman Taejongdae didirikan pada tahun 1967. Namun taman ini sempat tertutup dan tidak dapat dikunjungi hingga Perang Korea berakhir pada 1969. Hal itu disebabkan karena wilayah Taejongdae menjadi salah satu basis angkatan laut Korea Selatan untuk memantau musuh.

Di halaman depan dekat pintu gerbang Taman Taejongdae, pengunjung dapat melihat Monumen Petugas Medis dalam Perang Korea.

Monumen ini didedikasikan untuk mengenang jasa-jasa para sukarelawan asing dari enam negara, yang bertugas untuk memberi bantuan medis kepada tentara Korea dan masyarakat sipil yang terluka akibat perang.

Jalan dari pintu gerbang menuju ke dalam taman menanjak dan berkelok-kelok. Dari pintu gerbang hingga ke dalam taman berjarak lebih dari 1 kilometer. Kendaraan pribadi dilarang masuk ke wilayah Taman Taejongdae.

Oleh sebab itu pengelola menyediakan kereta khusus yang disebut Danubi Train, untuk mengantar dan menjemput pengunjung. Danubi Train akan berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di beberapa titik.

Taejongdae, Tebing Bersejarah di Pesisir BusanDanubi Train. (Dok. Badan Pariwisata Korea Selatan)

Meskipun mengunjungi Taman Taejongdae tidak dipungut biaya alias gratis, pengunjung yang menggunakan Danubi Train harus membayar 3.000 Won (sekitar Rp36 ribu) untuk dewasa dan 1.500 Won (sekitar Rp18 ribu) untuk anak-anak.

Namun pengunjung yang menyukai hiking biasanya memilih berjalan kaki, sambil menikmati birunya laut dan hijaunya hutan di kawasan ini.


Belajar sejarah

Pemberhentian pertama kereta Danubi adalah Observation Deck. Pengunjung dapat melihat gedung Observation Deck yang unik berbentuk oval dan pipih menyerupai pesawat luar angkasa.

Gedung ini berada di pinggir tebing dekat dengan jalan utama yang dilalui Danubi Train.

Dari balkon gedung, pengunjung dapat melihat Pulau Oryuk dengan jarak yang cukup dekat. Bila cuaca sedang bagus dan tidak berkabut, pengunjung dapat melihat Pulau Tsushima yang merupakan bagian dari kepulauan Jepang.

Taejongdae, Tebing Bersejarah di Pesisir BusanDek observasi. (Dok. Badan Pariwisata Korea Selatan)

Di halaman depan gedung observasi ini, terdapat satu patung ibu dengan dua anaknya yang bernama Mojasang.

Patung ini dibangun untuk mengingatkan seluruh korban perang yang kehilangan sanak saudaranya usai Perang Korea pada 1969, supaya tetap memiliki semangat untuk hidup.

Usai Perang Korea, banyak masyarakat Korea Selatan yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena merasa sebatang kara.

Patung Mojasang mengingatkan para korban supaya mengenang dan mengingat kasih sayang ibu agar tidak bunuh diri.

Taejongdae, Tebing Bersejarah di Pesisir BusanPatung Mojasang. (Dok. Badan Pariwisata Korea Selatan)


Di pemberhentian kedua, pengunjung dapat menikmati keindahan alam di Taman Taejongdae melalui Mercusuar Yeongdo.

Mercusuar yang merupakan ikon dari kota Busan ini, didirikan pada Desember 1906. Bangunan ini juga kerap disebut Mercusuar Taejongdae karena berada di kawasan Taman Taejongdae.

Pada tahun 2001, mercusuar ini ditutup untuk umum selama tiga tahun untuk direnovasi. Pada 2004 bangunan ini kembali dibuka untuk umum. Di samping bangunan mercusuar, turut dibangun beberapa fasilitas penunjang kebudayaan seperti perpustakaan, ruang sinematografi, ruang pameran dan galeri.

Di tebing atas mercusuar, terdapat undakan yang dipersembahkan untuk mengenang jasa-jasa para pemimpin Perang Korea.

Di undakan tersebut terdapat sejumlah patung para pemimpin perang dan orang-orang yang dianggap berjasa karena telah memberikan kontribusi kepada negara, selama masa perang.

Di depan undakan, terdapat balkon pinggir tebing yang dahulu digunakan para pemimpin Perang Korea untuk memantau musuh.

Dari tempat ini, pengunjung juga dapat melihat batu Mangbu yang berada di tebing bebatuan Sinseon.

Batu yang berdiri tinggi di atas batuan rata, bentuknya menyerupai seorang perempuan yang sedang berdiri. Bila di Indonesia terkenal dengan legenda Malin Kundang, maka di Korea Selatan dikenal legenda Batu Mangbu.

Konon dahulu ada seorang wanita yang menunggu suaminya yang diculik tentara Jepang ke Pulau Tsushima. Wanita ini kemudian berdiri di pinggir tebing tanpa mengenal waktu hingga kemudian dia berubah menjadi batu di tempat itu.

Di Taman Taejongdae juga terdapat dua kuil yang dilewati Danubi Train. Dua kuil itu adalah; Kuil Taejongsa dan Kuil Gumyeongsa.

Kuil Taejongdae merupakan tempat ibadah yang didonasikan oleh pemerintah Sri Lanka. Kuil ini terkenal dengan keindahan taman bunga hidrangea yang selalu bermekaran pada bulan Juli.

Sementara itu Kuil Gumyeongsa awalnya hanya berupa tenda di pinggir tebing, yang digunakan untuk menyelamatkan orang-orang yang hendak bunuh diri akibat Perang Korea. Pemerintah kemudian membangun kembali kuil ini pada 1969.


[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)