Penyakit yang Perlu dan Tidak Perlu Pakai Antibiotik

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 21/11/2019 18:33 WIB
Penyakit yang Perlu dan Tidak Perlu Pakai Antibiotik Ilustrasi. Salah penggunaan antibiotik akan menyebabkan resistensi yang dapat memperparah penyakit hingga kematian. Istockphoto/ Ayo888
Jakarta, CNN Indonesia -- Antibiotik sering kali dianggap sebagai 'obat dewa' yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Namun, tidak semua penyakit harus menggunakan antibiotik. Antibiotik perlu digunakan pada kondisi penyakit tertentu saja.

Kesalahan dalam penggunaan antibiotik dapat menyebabkan resistensi antibiotik yang berakibat memperparah penyakit, kecacatan, hingga kematian.

"Antibiotik harus digunakan secara bijak. Jadi, jangan minum kalau tidak ada indikasi," ujar Ketua Komite Pencegahan Resistensi Antimikroba Nasional, Hari Paraton dalam konferensi pers Peringatan Pekan Kesadaran Antibiotik Dunia atau World Antibiotik Awareness Week di RS UI, Depok, Kamis (21/11). Pekan Kesadaran Antibiotik Dunia diperingati pada 18-24 November 2019.

Hari menyebut, sekitar 80 persen penyakit tidak memerlukan antibiotik. Antibiotik hanya digunakan untuk penyakit yang disebabkan oleh mikroba berupa bakteri. Sedangkan penyakit yang disebabkan oleh mikroba berupa virus, jamur, dan parasit tidak memerlukan antibiotik.

Pasien dan dokter harus mengetahui penyebab penyakit, sebelum memberikan antibiotik. "Virus, bakteri, parasit tidak bisa dibunuh oleh antibiotik, hanya bakteri saja," tutur Hari.

Menurut Hari, penyakit seperti batuk, pilek, flu, demam, dan radang tenggorokan disebabkan oleh virus sehingga tak memerlukan antibiotik. Begitu pula dengan penyakit diare, demam berdarah dengue, campak, cacar air, dan bisul yang dipicu oleh parasit dan virus. Pemberian antibiotik justru hanya akan membuat kuman resisten.

Penyakit yang disebabkan bakteri umumnya bersifat infeksi berat seperti pada paru-paru, tuberkulosis, usus buntu, radang otak, tipes, infeksi kandung kemih, dan sebagainya.

"Antibiotik cocok untuk infeksi berat. Selain [penyakit yang disebabkan] bakteri, tidak boleh [menggunakan] antibiotik," kata Hari.

Keberadaan bakteri harus diuji terlebih dahulu dengan pemeriksaan laboratorium. Antibiotik juga harus diberikan melalui resep dokter.

Salah menggunakan antibiotik dapat memicu terjadinya resistensi antibiotik yang kini menjadi ancaman kesehatan global, termasuk di Indonesia. Resistensi ini membuat bakteri penyebab penyakit tak dapat dimatikan dengan antibiotik. Kondisi ini membuat bakteri terus menggerogoti tubuh hingga dapat berujung kematian.

World Bank memprediksi, resistensi antibiotik dapat menyebabkan 10 juta kematian per tahun pada 2050 mendatang jika penggunaan antibiotik tidak dikontrol.

[Gambas:Video CNN]


(ptj/asr)