Mengenal Terapi dan Obat Antidepresan untuk Atasi Depresi

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 27/11/2019 09:07 WIB
Mengenal Terapi dan Obat Antidepresan untuk Atasi Depresi Ilustrasi. Agar tak berujung bunuh diri, depresi perlu mendapat perhatian dan penanganan tepat. (Foto: Istockphoto/ Ericmichaud)
Jakarta, CNN Indonesia -- Depresi kini menjadi salah satu masalah kesehatan yang bisa berujung pada kematian. Menurut data World Health Organization (WHO) 2017, depresi berada pada urutan keempat penyakit yang mematikan di dunia.

Depresi disebabkan oleh banyak faktor, seperti pengalaman menyedihkan, kondisi sosial dan lingkungan, hingga tekanan hidup yang akhirnya memengaruhi kesehatan mental seseorang. Gejala paling umum dari depresi ialah rasa cemas, emosi tidak stabil, putus asa, hingga keinginan untuk mengakhiri hidup.

Depresi kerap dianggap bukan sebuah penyakit, sehingga membuat banyak orang mengabaikan gejalanya. Menyebabkan 800 ribu orang bunuh diri sepanjang tahun lalu akibat depresi yang tak ditangani dengan tepat. Bunuh diri kini juga menjadi penyebab kematian nomor dua yang mengancam remaja hingga dewasa usia 15-29 tahun.


Karena itu, gejala-gejala depresi baiknya tak diabaikan. Segera mengambil tindakan atau meminta pertolongan ketika mengalami gejala depresi, yaitu dengan berkunjung ke psikolog atau psikiater.


Penanganan awal yang umumnya dilakukan oleh dokter untuk mengatasi depresi dan segala bentuk masalah mental seperti cemas dan stres ialah psikoterapi. Psikoterapi dianggap langkah penting dalam mengubah pola pikir serta membagi pengalaman yang membuat pasien tertekan.

Spesialis kejiwaan Richard Budiman mengatakan, "kalau setelah menjalani psikoterapi kondisi pasien tidak membaik atau justru menjadi lebih berat, barulah diberikan terapi tambahan seperti pemberian obat antidepresan."

Obat antidepresan memang dinilai mampu membantu meringankan gangguan depresi serta kecemasan, sehingga mampu menekan angka bunuh diri. Namun, pemberiannya harus dengan resep dokter karena dosis perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.

Selain itu, Richard mengatakan bahwa obat golongan tertentu seperti duloxetine yang merupakan golongan SNRI (Serotonin-norepinephrine Reuptake Inhibitor) juga bisa meredakan rasa nyeri yang memiliki hubungan erat dengan gangguan depresi dan kecemasan.

"Depresi ini salah satu gejalanya adalah timbul rasa nyeri, dan obat jenis duloxetine juga bisa mengatasi itu secara keseluruhan," tutur Richard yang ditemui di peluncuran Duloxta, Jumat (22/11).

Obat antidepresan memang terbukti efektif membantu memperbaiki keadaan mental pasien, namun konsumsi obat antidepresan saja juga tidak cukup untuk menyembuhkan depresi. Obat harus diberikan seiring dengan terapi.

Obat antidepresan sendiri juga bukan jenis pengobatan yang akan memperlihatkan kemajuan secara instan. Butuh waktu sekitar 2 hingga 4 minggu bagi obat ini untuk meredakan depresi yang dirasakan pasien.


Selain itu, pengobatan ini juga membutuhkan waktu yang lama yaitu minimal 6 bulan. Jika kondisi pasien sudah membaik, barulah dokter akan menurunkan dosisnya secara bertahap.

"Pada keadaan yang sangat sulit, yang bahkan tidak bisa diobati oleh antidepresan, maka akan diambil tindakan selanjutnya yaitu terapi kejut atau Electroconvulsive Therapy (ECT)," tutup Richard.

Mengenal Terapi dan Obat Antidepresan untuk Atasi DepresiFoto: CNN Indonesia/Fajrian


(Aul/ayk)