Akhir 2024, Jokowi 'Ngotot' Stunting Turun Sampai 14 Persen

tim, CNN Indonesia | Kamis, 28/11/2019 13:22 WIB
Akhir 2024, Jokowi 'Ngotot' Stunting Turun Sampai 14 Persen Bappenas meramal angka penurunan stunting mencapai 19 Persen sampai 2024, namun Jokowi ngotot agar bisa turun sampai 14 persen. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Angka stunting di Indonesia masih mengkhawatirkan. Menkes Terawan ditugaskan untuk menekan angka stunting di bawah 20 persen. Namun sampai akhir tahun 2024, Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin kondisi kekurangan gizi yang menyebabkan tubuh pendek alias prevelensi stunting di Indonesia mencapai angka 14 persen dari total angka kelahiran anak pada 2024.

Target penurunan stunting yang ditetapkan Jokowi ini ini jauh lebih tinggi dari 'ramalan' Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas di angka 19 persen. 

"Target kami lima tahun ke depan berada di angka 19 persen, tapi saya masih mau 'ngotot' di 14 persen, bukan 19 persen," ucap Jokowi di forum diskusi bertajuk 100 CEO Forum Kompas di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (28/11). 


Diungkapkan dia, target prevelensi stunting itu memang cukup ambisius, namun bukan hal yang tidak mungkin untuk dicapai. Syaratnya, para jajaran menteri di Kabinet Indonesia Maju bisa fokus dan konsisten pada program penurunan stunting. 


Pasalnya, menurut catatan Jokowi, Indonesia setidaknya berhasil menurunkan angka stunting dalam lima tahun kepemimpinan Kabinet Kerja. Ia mencatat prevelensi stunting berada di angka 37,2 persen pada 2013 lalu menurun ke 27,67 persen pada 2019, meski kondisi di masing-masing tahun sempat naik turun. 

"Kalau dikerjakan secara fokus, angka bukan sesuatu yang sulit untuk kita dapat. Tapi memang perlu kerja keras dan fokus detil dan tajam dalam menusuk masalah-masalah yang harus kita kerjakan," katanya. 

Lebih lanjut ia mengatakan pemerintah akan terus menata kebijakan dan program yang tepat untuk mengejar target tersebut. Sebab, fokus pembangunan lima tahun ke depan adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM). 

Pembangunan SDM, katanya, tidak hanya dilakukan melalui program di sektor pendidikan, namun juga kesehatan untuk menjamin kualitas hidup masyarakat. Tak ketinggalan, pemerintah juga memetakan beberapa jurus agar tingkat kemiskinan dan tingkat ketimpangan atau gini ratio bisa turun. 

"Tingkat kemiskinan kita tahu merupakan tantangan besar, dulu ada di 11,2 persen, sekarang 9,4 persen sampai 9,6 persen, ini tantangan yang harus dikurangi. Gini ratio juga harus bisa kita setop, meski tidak drastis, dari angka 0,408 di 2015 menjadi 0,38, ini kita jaga agar berkurang," tuturnya.  


Pada 2020, Jokowi menargetkan tingkat kemiskinan turun ke kisaran 8,5 persen sampai 9 persen. Lalu, gini ratio diharapkan berada di rentang 0,375 sampai 0,38. 

Sementara tingkat pengangguran ingin diseret ke kisaran 4,8 persen sampai 5 persen. Sedangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berada di 72,51 pada tahun depan. (uli/chs)