Menikmati Antartika Sebelum Kepunahan

CNN Indonesia | Senin, 02/12/2019 18:13 WIB
Menikmati Antartika Sebelum Kepunahan Penguin di Antartika. (Johan ORDONEZ / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Dinginnya sangat menusuk," seorang turis berseru, ketika dia terjun ke dalam air bersuhu 37 derajat Celcius di bawah tatapan penasaran sekelompok penguin.

Di sekitar Half Moon Island, di lepas Semenanjung Antartika, balok-balok es beragam ukuran dan bentuk mengapung di perairan yang tenang.

Untuk mencapai "destinasi wisata" di Antartika ini, turis Norwegia yang berusia 58 tahun, Even Carlsen, harus melakukan perjalanan 14.000 kilometer dan menghabiskan dana sampai ribuan euro.


Turis yang datang tak peduli dengan hawa dingin yang menampar. Mereka datang untuk menikmati pengalaman berada dekat di alam liar.

Kawanan Penguin terlihat berkerumun di darat atau berenang di air, sementara paus besar pelan-pelan menyelam. Singa laut dan anjing laut bermalas-malasan berjemur di bawah sinar matahari.

Antartika, tanah petualangan tanpa penguasa, "seperti jantung yang memompa darah ke seluruh belahan Bumi," menurut Marcelo Leppe, direktur Institut Antartika Chili.

Tapi kawasan yang berada dekat dengan Amerika Selatan ini lambat laun terkikis dampak buruk dari pemanasan global.

Gletsernya mencair dan ekosistemnya telah diserbu oleh sampah plastik yang dibawa oleh arus.

Membawa pulang kenangan

Dalam beberapa tahun belakangan ini, semakin banyak turis yang datang ke Antartik. Tahun ini diperkirakan hampir 80 ribu pengunjung datang, meningkat 40 persen dibandingkan tahun lalu.

Operator tur Antartika dengan tegas menyatakan bahwa mereka mempromosikan pariwisata yang bertanggung jawab.

"Jangan mengambil apapun selain foto. Jangan tinggalkan apapun selain jejak kaki. Bawalah pulang kenangan," adalah moto mereka.

Dampak buruk pemanasan global sangat terasa di Antartika. Turis yang datang sebagian besar berniat menikmatinya sebelum semuanya hilang.

Tetapi para kritikus mempertanyakan pariwisata semacam ini, karena emisi dari penerbangan lintas dunia dan gas buangan kapal pesiar adalah salah satu dampak buruk yang dialami Antartika.

Di Half Moon Island, Penguin Chinstrap - diberi nama untuk garis hitam di dagu mereka - kawin di musim semi. Di musim ini mereka bakal mengeluarkan suara lengkingan dari sarang berbatunya.

"Itu untuk memberi tahu laki-laki lain 'ini sarang saya' dan juga, mungkin, 'ini perempuan saya'," kata ahli burung Rebecca Hodgkiss kepada AFP.

Populasi 2.500 ekor penguin telah secara bertahap menurun selama bertahun-tahun. Tidak diketahui apakah itu juga salah satu "dosa" umat manusia yang menyebabkan pemanasan global semakin parah.

[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)