Naik Bianglala Bertenaga Manusia di Myanmar

CNN Indonesia | Selasa, 03/12/2019 20:33 WIB
Naik Bianglala Bertenaga Manusia di Myanmar Bianglala bertenaga manusia di pasar malam Myanmar. (Ye Aung THU / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dengan satu tangannya, Aung Sein Phyo (22) bergantung di bianglala. Bersama rekan seprofesinya, ia menentang gravitasi untuk memutar kincir ria itu bertenaga manusia itu.

Tercatat Aung sudah menjalani profesinya sebagai petugas bianglala bertenaga manusia sejak usia sembilan tahun.

Wahana permainan unik itu hadir dalam festival tahunan di Taunggyi, ibukota Negara Bagian Shan, Myanmar.


Aung meniup peluitnya, kemudian memanjat bianglala setinggi 20 meter bersama rekan-rekan setimnya.

Roda bianglala mulai berputar, semakin cepat dan semakin cepat, satu persatu pekerja dengan mahir melompat ke tempat yang aman sebelum putaran roda menjatuhkan mereka ke tanah.

Aung sesekali berdiri di bawah roda, untuk memberikan dorongan tambahan kepada wahana tersebut.

"Saya mulai melakukan ini ketika saya berusia sembilan tahun," katanya kepada AFP saat istirahat.

"Orang tua saya tidak suka saya melakukannya, tetapi saya melakukannya di belakang mereka," katanya sambil tersenyum, mengakui itu adalah pekerjaan "berbahaya".

Aung adalah satu dari beberapa ratus pemuda yang bekerja di char yahat, bianglala bertenaga manusia khas Myanmar.

Selama sembilan bulan setahun timnya yang terdiri dari 15 orang berada di jalananan dan bekerja tanpa hari libur, menghasilkan antara US$70 hingga US$100 (sekitar Rp988 ribu hingga Rp1,4 juta) sebulan sebelum libur panjang selama musim hujan.

"Kami memiliki tim yang bersemangat," kata Aung, mengakui bahwa kadang-kadang mereka tidak bisa menahan diri untuk menggoda penumpang perempuan yang naik.

"Ketika para gadis naik tinggi dan kami mengayunkan keranjang, mereka sangat takut lalu berteriak," katanya sambil tersenyum - meskipun dia menambahkan tim selalu berlaku santun saat membantu mereka keluar dari wahana sehingga mereka pulang dengan bahagia.

Aung mengatakan dia tidak menyesal karena tidak melanjutkan pendidikan akibat pekerjaan ini, tetapi mengakui kadang-kadang rindu dengan keluarganya.

Hidup yang normal bukan untuknya, dia menegaskan, dan ia berencana memasarkan bianglala bertenaga manusia ini selama dia bisa.

"Hanya hal ini yang saya tahu cara menggunakannya."

[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)