Belenggu Tabu dan Wanita yang 'Susah' Bercinta

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 07/12/2019 08:44 WIB
Belenggu Tabu dan Wanita yang 'Susah' Bercinta Ilustrasi. Budaya tabu yang berkembang membuat gejala disfungsi seksual yang dialami wanita kerap dikesampingkan. (Istockphoto/ OcusFocus)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak hanya pada pria, disfungsi seksual juga bisa terjadi pada wanita. Namun, budaya tabu yang berkembang membuat gangguan yang dialami wanita saat 'susah' bercinta sering kali dikesampingkan.

Ahli kandungan dan kebidanan, Ni Komang Yeni mengatakan bahwa banyak wanita mengalami disfungsi seksual. Meski kondisi itu bisa menghambat pencapaian kepuasan seksual, namun tak banyak dari mereka yang berusaha mencari pertolongan untuk sembuh dan mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.

"Norma yang berlaku menganggap perempuan pasif, perempuan selalu menerima, perempuan sebagai objek saja, enggak berani mengutarakan hal tersebut kepada suami," kata Yeni kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


Budaya tabu yang hidup langgeng di tengah masyarakat tak ayal membuat banyak perempuan tak bahagia dalam menjalankan kehidupan.

"Hasilnya, banyak perempuan dengan kualitas hidup enggak bagus, enggak bahagia, pura-pura bahagia, banyak banget yang seperti itu," ungkap Yeni.

Studi global menunjukkan, disfungsi seksual merupakan masalah yang umum terjadi dengan prevalensi 43 persen pada wanita, lebih banyak dari pada pria yang hanya 31 persen.

Di Indonesia, belum ada prevalensi yang menunjukkan angka kasus disfungsi seksual. Namun, sebuah studi kecil yang dilakukan RSCM Jakarta menemukan ketidakpedulian banyak wanita soal gangguan seksual yang dialami.

Studi dilakukan pada 2018 lalu terhadap 300 partisipan wanita yang telah aktif secara seksual. Studi menemukan, 90 persen wanita menunjukkan gejala disfungsi seksual. Namun, hanya 6 persen dari mereka yang terganggu dengan gangguan seksual yang dialaminya.

Yeni menjelaskan, perempuan lebih rentan mengalami disfungsi seksual karena sejumlah alasan. Pertama, perempuan dipengaruhi oleh hormon. Ketidakstabilan hormon dapat berpengaruh pada disfungsi seksual.

"Sekitar 80 persen dikuasai oleh hormon," ujar Yeni. Perubahan hormon itu terjadi saat menstruasi, hamil, menyusui, hingga menopause. Pada kondisi-kondisi tersebut, perempuan lebih rentan mengalami disfungsi seksual.

Selain itu, sifat dasar mengedepankan perasaan yang dimiliki perempuan juga dinilai berpengaruh. Menurut Yeni, faktor psikologis berperan besar dalam keberhasilan hubungan suami istri.

"Perempuan punya stresor yang lebih tinggi, berbeda dengan laki-laki yang lebih mudah mengutarakan kebutuhannya," tutur Yeni.

Yeni menyebut, perempuan seharusnya mulai menyadari mengenai disfungsi seksual karena berisiko dapat mengganggu kehidupan rumah tangga. Disfungsi seksual dapat disembuhkan dengan komunikasi yang baik, pengobatan, dan sejumlah terapi.

CNNIndonesia.com membahas mengenai disfungsi seksual lebih lanjut dalam balutan fokus Kala Wanita 'Susah' Bercinta.

[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)