Yang Perlu Dilakukan Orang Tua saat Anak Main Tembak-tembakan

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 10/12/2019 18:50 WIB
Yang Perlu Dilakukan Orang Tua saat Anak Main Tembak-tembakan Ilustrasi. Daripada melarang, orang tua didorong menjadikan permainan tembak-tembakan sebagai kesempatan untuk mengajari anak tentang batasan sikap agresif. (marcisim/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mainan senjata seperti pistol, pedang, dan senjata mainan lainnya merupakan salah satu permainan favorit anak, khususnya bagi anak laki-laki. Namun, tak sedikit orang tua yang dibuat resah jika sang anak melakukan permainan senjata.

Keresahan orang tua dipicu oleh kekhawatiran bahwa jenis mainan tersebut dapat menumbuhkan perilaku kasar pada anak. Terlebih pada anak laki-laki yang cenderung terlibat dalam permainan senjata ketimbang anak perempuan.

Michael G Thompson, psikolog klinis dan penulis buku Raising Cain: Protecting the Emotional Life of Boys, mengatakan bahwa tak ada hubungan langsung antara permainan senjata dengan tindak kekerasan. Kekerasan merupakan suatu tindakan agresif yang disengaja dan menyebabkan orang lain terluka, kata Thompson, sedangkan permainan senjata merupakan sesuatu yang menyenangkan dan umumnya tak menyebabkan luka yang disengaja.



Perlakuan kasar yang diterima anak-anak dinilai dinilai Thompson menjadi pencetus signifikan terhadap perilaku anak di kemudian hari. Sebagai contoh, anak yang sering dipukul akan cenderung lebih agresif. Mereka akan lebih peka terhadap tindak kekerasan dan cenderung mengulangi perilaku kasar tersebut di lingkungan.

Berikut hal-hal yang harus dilakukan orang tua saat si buah hati mulai tertarik pada permainan tembak-tembakan, mengutip Huffington Post.

1. Daripada melarang, lebih baik beri pemahaman
Melarang bermain pistol bisa jadi memberikan efek sebaliknya dari apa yang orang tua inginkan. Psikolog anak, Emily Edlynn mengatakan, pelarangan bisa saja membuat anak merasa lebih tertarik dengan permainan pistol.

"[Dengan bermain pistol] anak-anak akan merasa senang karena mereka mendapatkan perhatian orang tua," ujar Edlynn.

Sebagai gantinya, Edlynn mendorong orang tua untuk melihat permainan pistol sebagai kesempatan mengajarkan anak-anak tentang batasan sikap agresi. Pastikan anak mengerti bahwa tak seorang pun boleh terluka atau merasa tidak nyaman.

Berikan pula panduan tentang yang tepat dan tidak tepat mengenai permainan tembak-tembakan. Berpura-pura menembak teman di ruang kelas, misalnya, kategorikan sebagai tindakan yang dilarang. "Bicarakan tentang batasan-batasan itu," kata Edlynn.

Pertimbangkan pula urusan moral. Ajari anak tenang konsep keadilan dan latih mereka membangun empati saat tengah bermain dan berperan sebagai orang jahat dengan pistolnya.

"Beberapa bukti menunjukkan bahwa anak laki-laki yang senang melakukan permainan agresif akan kurang agresif pada interaksi lainnya," jelas Edlynn.

2. Waspadai perilaku agresif
Penting juga untuk mengetahui apakah anak berperilaku sesuai dengan perkembangan atau melampaui usianya. "Perhatikan jika perilaku agresif mulai muncul saat anak merasa kesal," kata Edlynn.

Kenali juga dari mana ketertarikan anak pada mainan pistol berasal. Entah itu karena informasi dari teman sekolah atau melalui video-video yang tersebar di internet. 

"Jika sudah diketahui, mungkin Anda bisa lebih dekat dengan akar masalahnya," kata Edlynn.

3. Bicara soal keamanan senjata asli
Orang tua harus berbicara dengan anak tentang apa yang harus mereka lakukan jika menemukan senjata asli. Pemahaman mengenai perbedaan antara apa yang ada dalam permainan dengan dunia nyata sangat penting.

[Gambas:Video CNN] (aul/ayk)