5 Tempat Paling Kotor di Rumah yang Jadi Sarang Bakteri

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 13/12/2019 05:01 WIB
5 Tempat Paling Kotor di Rumah yang Jadi Sarang Bakteri Ilustrasi. Bukan kamar mandi, dapur menjadi tempat paling kotor di rumah yang menjadi tempat tinggal banyak bakteri jahat. (Foto: Karina Armandani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kapan terakhir kali Anda membersihkan rumah dari segala jenis kotoran yang menempel? Bakteri ada di seantero rumah. Beberapa barang di rumah jadi tempat paling kotor sekaligus tempat terbaik untuk pertumbuhan bakteri.

Banyak orang beranggapan bahwa kamar mandi menjadi tempat paling kotor di rumah. Padahal, tidak demikian adanya.

"Kamar mandi bukan sarang kuman. Kita cenderung lebih sering membersihkannya dibanding tempat lain," ujar ahli mikrobiologi University of Arizona, Charles Gerba, mengutip CNN.


Alih-alih memenuhi toilet, bakteri disebut lebih senang berkembang biak di dapur.

"Itu sebabnya anjing dan kucing kerap minum dari air toilet. Mereka [anjing dan kucing] lebih pintar dari yang Anda kira," kata Gerba.

Tempat Paling Kotor di Rumah

Dapur menjadi salah satu tempat yang nyaman bagi bakteri untuk tumbuh. Dapur menjadi tempat bagi banyak orang menyiapkan makanan, yang memungkinkan terjadinya penyebaran bakteri Salmonella dan E-Coli.

"Survei rumah baru-baru ini menemukan lebih banyak bakteri di talenan daripada kloset duduk," ujar Gerba.

Berikut beberapa tempat paling kotor di rumah.

1. Wastafel
Wastafel pada dapur adalah wadah terbaik untuk bakteri jahat. Kegiatan seperti membersihkan daging mentah di wastafel ditengarai menjadi penyebabnya. Salmonella menjadi bakteri paling banyak yang ditemukan di wastafel.

Gerba menyarankan Anda untuk membersihkan wastafel dengan larutan pemutih dan sikat secara menyeluruh.

Anda juga disarankan untuk membersihkan saluran pembuangan dan saringan pada wastafel setidaknya sekali dalam sepekan. Jangan lupa juga untuk rajin membersihkan gagang keran.

2. Spons dan lap
Spons dan lap umumnya digunakan untuk membersihkan wastafel dan barang-barang dapur lainnya. Dengan kebiasaan itu, jangan kaget jika spons dan lap jadi barang paling kotor di rumah.

"Saya telah mengumpulkan spons dari ratusan rumah dan menemukan Salmonella di dalamnya," kata Gerba.

Sebuah studi pada 2017 juga menemukan, sebanyak 362 spesies bakteri yang berbeda tinggal di spons dapur.

Sebagai solusi, Anda bisa mengganti spons setidaknya sekali dalam sepekan.

3. Gagang lemari es
Lemari es menyimpan setiap kebutuhan memasak harian. Bolak balik membuka dan menutup lemari es adalah kesibukan yang biasa saat aktivitas memasak dilakoni. Tak heran jika gagang lemari es jadi salah satu lokasi terkotor yang ada di rumah.

"Gagang lemari es sering dipegang secara sembarangan. Tak peduli apakah tangan baru saja digunakan untuk memotong atau membersihkan daging mentah atau tidak," jelas Gerba.

Selain itu, kebiasaan banyak orang menggantung handuk dapur yang telah terkontaminasi di gagang lemari es juga jadi penyebab banyaknya bakteri di lokasi ini. Handuk dapur umumnya digunakan untuk membersihkan tangan.

4. Handuk
Ganti handuk mandi setidaknya tiga atau empat hari sekali. Bakteri E.Coli tumbuh baik di dalam handuk.

"Dalam waktu sekitar tiga atau empat hari, bakteri akan tumbuh karena kondisi handuk yang basah dan lembap," kata Gerba.

Kondisi handuk yang tebal juga membuat bakteri sulit dihilangkan meski telah dicuci. Apalagi jika handuk hanya dicuci dengan air dingin. Gunakan air panas saat mencuci jika ingin handuk benar-benar terbebas dari bakteri.

5. Kompartemen kulkas
Kompartemen daging kulkas mengandung 36 persen bakteri Salmonella dan E.Coli. Hal yang sama juga terjadi pada kompartemen sayuran yang diisi oleh 14 persen Salmonella dan bakteri listeria.

Tips Membersihkan

Alih-alih menggunakan semprotan pembersih dan mengelap atau menyikatnya, Gerba justru merekomendasikan penggunaan tisu disinfektan. Tisu jenis ini dinilai lebih efektif untuk membersihkan barang dari kuman.

Mengelap atau menggosoknya hanya akan membuat bakteri jahat tersangkut di permukaan kain atau sikat. "Jadi, cara itu [mengelap dan menyikat] tidak efektif," kata Gerba.

Lap atau sikat jelas berbeda dengan tisu disinfektan. Tisu yang mudah mengering dengan cepat akan membantu membunuh patogen.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)