'Memento' Revolusi di Kulit Kaum Muda Irak

CNN Indonesia | Senin, 16/12/2019 13:44 WIB
Anak-anak muda di Irak mulai merajah tubuhnya demi mengenang aksi pergerakan yang terjadi di negaranya. Hasil tato di salah satu punggung anak muda Irak. (Haider HUSSEINI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seni tato bukan cuma monopoli penduduk di negara Barat. Di Irak, seni merajah tubuh juga populer.

Adalah Maram, salah satu seniman tato perempuan yang bermukim di Irak. Tato buatannya tak sekedar indah, namun juga memiliki pesan bernada politis.

Pesan tersebut dibubuhkannya sebagai pembakar semangat pergerakan bagi kaum muda di Irak.


Di dalam tenda beratapkan terpal dan bercahaya biru, remaja mungil itu dengan hati-hati menggerakkan pena tato mekaniknya di bahu kiri temannya.

Yang sedang digambarnya ialah ilustrasi dalam Monumen Kebebasan Baghdad di Lapangan Tahrir, lokasi utama protes anti-pemerintah Irak.

"Saya suka mendobrak norma," kata Maram Uday sembari menggambar karikatur berwarna hitam itu, seperti yang dikutip dari AFP pada Senin (16/12).

"Tidak banyak orang yang menerima seni ini. Tapi saya berusaha melupakan anggapan tersebut, karena perubahan sangatlah penting," kata Maram yang berambut pendek dan mengenakan eyeliner berwarna hitam.

Maram yang merupakan mahasiswa sekolah seni dan sesekali menjadi model amatir mulai meniti karier sebagai seniman tato sejak delapan bulan yang lalu untuk mendapatkan uang tambahan.

Ia bergabung dengan protes menentang korupsi pemerintah pada Oktober. Saking tersentuhnya, ia membuat tato di pergelangan tangan kirinya bertuliskan 'OCT 25'.

Kenangan dalam tato

Terinspirasi oleh Maram, teman-temannya mulai mendatanginya untuk dirajah.

"Ada orang yang memutuskan untuk menyumbangkan obat atau pakaian dalam aksi protes, saya memutuskan untuk menyumbang tato," ujar Maram.

Dia telah menggambar setidaknya 15 tato yang terkait dengan protes, termasuk tulisan "25 Oktober", ilustrasi Monumen Kebebasan, dan topeng gas yang digunakan para pengunjuk rasa.

Sebanyak 60 persen dari 40 juta penduduk Irak ialah anak muda. Sebagian besar adalah klien Maram.

Maram datang ke Tahrir setiap pagi dengan alat tato portabelnya, sekaligus daftar nama klien yang telah melakukan pemesanan tempat melalui Instagram-nya yang memiliki lebih dari 80 ribu pengikut.

Hashem (18) mengangkat kemeja kuning pucatnya untuk menunjukkan kepada AFP tato kecil yang ia goreskan di pinggul kanannya pada seminggu yang lalu - tato pertamanya.

"Kami memiliki banyak kenangan ... jadi saya ingin mendapatkan tato itu," katanya.

Dia telah berada di Tahrir selama berminggu-minggu untuk ikut aksi protes. Meski demikian ia mengaku kalau tak bisa membuat tato di tangan karena takut dimarahi orang tuanya.

"Saya tidak bisa menggambar tato di tangan karena orang tua saya tidak akan menerimanya," katanya malu-malu.

Merajah Tubuh, Menyimpan 'Memento' dari Revolusi IrakMaram saat menggambar tato untuk kliennya. (Haider HUSSEINI / AFP)

Tato pengingat sejarah

Aksi protes yang didominasi anak muda Irak, yang disebut paling tangguh dan rusuh ini, belum pernah terjadi sebelumnya.

Tercatat sekitar 460 orang telah tewas dan 20 ribu orang terluka. Di sekitar Lapangan Tahrir, monumen peringat kecil bermunculan untuk memperingati mereka - mulai dari mural bertuliskan nama-nama korban atau pondok kecil dengan lilin.

Klien terbaru Maram, seorang anak muda berusia 19 tahun yang mengidentifikasi dirinya sebagai Crush, menginginkan pengingat yang lebih permanen untuk para korban.

"Saya mendapatkannya sebagai kenang-kenangan untuk teman-teman yang meninggal dan diculik," kata Crush, menunjuk ke karikatur Monumen Kebebasan di bahunya.

Pada usia 23, Mushtaq Taleb dari kota pelabuhan selatan Basra sudah memiliki lebih dari setengah lusin tato di lengannya.

Yang terbaru, di bahu kanannya, adalah gambar populer: tanggal pemberontakan, peta Irak, dan Monumen Kebebasan yang melebur menjadi dua tangan bergabung bersama dalam bentuk kepalan tangan.

"Tato ini mewakili fakta bahwa revolusi 25 Oktober menghapus sesuatu yang besar yang tidak dapat dihapus oleh 16 tahun terakhir: sektarianisme," kata Taleb.

Tak cuma pemeluk Syiah. Penduduk yang memeluk Sunni dan Kristen juga turun dalam aksi unjuk rasa.

"Saya harus mengingat tato ini," katanya.

"Besok, hari berikutnya, tahun berikutnya, ketika kami dewasa, orang-orang akan bertanya kepada kami, apa arti tato itu? Apa yang terjadi? Kami harus menjelaskan apa yang terjadi dalam revolusi ini."

[Gambas:Video CNN]
(AFP/ard)