CATATAN PERJALANAN

Berkemah di Sudut Eksotis Situ Gunung

Pramita Hendra Nurcahyo, CNN Indonesia | Minggu, 15/12/2019 20:19 WIB
Selain jembatan gantung terpanjang di Indonesia, Situ Gunung juga memiliki area berkemah, danau, dan curug yang tak kalah memesona. Pemandangan matahari terbit di Danau Situ Gunung. (Dok. Pramita Hendra Nurcahyo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pariwisata menjadi sektor yang potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Sukabumi. Letak geografisnya yang strategis membuat beragamnya objek wisata di sana, mulai dari wisata alam, wisata budaya, dan wisata minat khusus.

Terdapat sekitar 50 objek wisata yang memberikan dukungan terhadap perekonomian Kabupaten Sukabumi, meliputi 34 wisata alam, delapan wisata buatan, dan delapan wisata minat khusus.

Salah satunya adalah Situ Gunung. Berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Situ Gunung terletak di ketinggian 850 mdpl dengan panorama indah khas pegunungan dan udara yang sejuk.


Akhir pekan kemarin saya bersama lima orang teman saya dari Jakarta merapat ke Situ Gunung. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, saya tancap gas dari Jakarta menuju Cisaat, Sukabumi. Perlengkapan untuk bermalam di tenda sudah dipersiapkan dari jauh hari sebelumnya.

Perjalanan ke Sukabumi sudah tak lagi antahberantah, karena tinggal tol Jagorawi yang sudah terhubung langsung ke Sukabumi. Jarak dari Jakarta ke Sakabumi saya tempuh hanya empat jam dengan kendaraan pribadi. Tol berkelok dan aspal mulus menemani perjalanan malam itu.

Terlihat sudah banyak orang yang bernyanyi sembari membuat api unggun saat saya tiba di Situ Gunung. Hanya dengan membayar Rp35 ribu per orang saya sudah bisa bermalam di sini. Dibantu petugas Situ Gunung saya langsung disediakan tempat untuk mendirikan tenda.

Area berkemah di kawasan ini sudah berupa tanah lapang berumput yang datar, sehingga nyaman untuk mendirikan tenda. Penerangan dan akses jalan menuju camping ground juga sudah cukup baik. Sebagian jalanan berupa batuan sehingga tidak becek usai hujan.

Ada sejumlah lokasi berkemah yang tersedia. mulai dari dekat dengan akses keluar, hingga yang terjauh di sekitar Curug Sawer. Jadi, bebas memilih lokasi untuk berkemah.

Meski kawasan untuk berkemah sudah dibangun sedemikian rupa, suasana alam masih sangat terasa di kawasan ini.

Udara dingin tak terhindarkan, walaupun sudah memakai jaket yang cukup tebal, dinginnya masih menusuk kulit bahkan sampai ke tulang.

Salah satu teman bergegas mengambil kayu bakar yang sudah tersedia. Benar-benar sensasi kemah yang luar biasa.

Danau Situ Gunung

Pagi masih gelap, saya bergegas mengambil foto matahari terbit di sekitar danau yang jaraknya 1 kilometer dari area berkemah.

Melihat kelima teman saya masih bermalas-malasan, saya berinisiatif pergi sendiri. Terbilang cukup nekat, karena saya masih belum tahu posisi danau cantik tersebut. Berbekal air mineral saya terus berjalan ke arah selatan.

Sebenarnya ada jasa ojek menuju ke danau, tapi saya memutuskan untuk berjalan kaki.

Hutan rimbun dan udara dingin membuat saya sedikit was-was pagi itu. Sesekali terdengar suara burung bersahutan dengan suara kera. Saya melihat ke arah kiri sudah nampak danau yang akan saya tuju.

Tetapi perjalanan saya belum juga menemukan tanda-tanda akan sampai, justru kabut semakin tebal. Sempat berpikir untuk kembali, sudah kepalang tanggung. Sesekali saya menengok ke belakang untuk memastikan keamanan saya pagi itu.

Setelah berjalan hampir setengah jam, saya sudah memasuki kawasan danau. Perasaan lega dan bahagia karena sudah melewati hutan rimbun.

Tidak menyesal saya berjalan sejauh itu. Karena panorama yang disuguhkan danau ini sungguh luar biasa. Embun dan kabut belum pergi, saya menjadi saksi keindahan alam Sukabumi pagi itu. Matahari juga masih tampak malu menampakkan keelokannya dari belakang bukit.

Menunggu matahari terbit bagaikan menunggu anggukan seorang gadis yang akan dipinang. Yakin kalau si gadis tidak akan menolak, tetapi tetap membuat jantung berdebar.

Yakin bahwa matahari bakal terbit, tetapi ada perasaan khawatir jika bahwa sinarnya mungkin tertutup mendung.

Akhirnya sinar matahari muncul di balik pepohonan dan bersambut kabut pagi yang naik dari air danau. Saya mendapatkan pemandangan cantik yang tak terlupakan. Tak sia-sia perjalanan yang saya lalui pagi itu.

Danau Situ Gunung menawarkan keindahan alam dan hawa pegunungan yang sejuk. Suasana hutan pinus dan hutan damar serta indahnya air terjun menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang untuk berkemah di sini.

Di beberapa bagian danau terdapat semacam pulau-pulau kecil yang ditumbuhi rerumputan hijau. Tidak hanya panorama yang indah, suara kicauan burung kepondang, kutilang, dan perenjak menambah kemeriahan di danau pagi itu.

Sesekali saya melihat seekor monyet dengan ekor panjang di antara pepohonan sekitar danau.

Dari kisah warga setempat, diceritakan kalau Danau Situ Gunung adalah danau buatan seorang bangsawan Mataram yang bernama Rangga Jagad Syahadana alias Mbah Jalun.

Danau ini dibuat sebagai wujud syukur atas kelahiran anaknya. Nama Danau Situgunung sendiri dipilih karena danau ini ada di gunung.

Saking indahnya, jika dilihat dengan mata telanjang pasti tidak ada yang menyangka kalau danau ini adalah danau buatan.

Lancong Semalam penulis di Jembatan Situ Gunung dan Curug Sawer masih berlanjut ke halaman berikutnya...


[Gambas:Video CNN]

Berkemah di Sudut Eksotis Situ Gunung

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2