Sweater ini biasanya berbahan wol dengan nuansa warna merah, putih, dan hijau. Di sweater itu juga terdapat motif yang identik dengan Natal seperti Santa Claus, boneka salju alias snowman, atau rusa. Beberapa juga melengkapinya dengan tambahan lonceng 3 dimensi.
Ugly sweater bertema Natal ini mulai muncul pada tahun 1950-an. Awalnya disebut sebagai Jingle Bell Sweaters yang populer dikenakan dalam beberapa tokoh di TV.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Ucapan Natal dan Selamat Tahun Baru 2020 |
Dikutip dari CNN, pada 1990-an sweater Natal mulai memudar. Sweater ini identik dengan orang tua yang tidak modis. Saat memasuki abad ke-21 sweater Natal dianggap semakin ketinggalan zaman.
Kendati demikian, sweater Natal itu tetap saja ada dan menjadi pilihan saat Natal dan musim liburan. Bahkan beberapa kalangan sengaja membuat pesta berpakaian sweater, termasuk di Indonesia.
Sekalipun Indonesia hanya punya dua musim, dan Natal di bulan Desember diwarnai dengan turunnya hujan air, bukan salju, namun ugly sweater kerap jadi dress code di kalangan milenial untuk perayaan Natal.
Lihat juga:FOTO: Deretan Pohon Natal Unik di Nusantara |
Tahun 2012 dianggap sebagai titik balik sweater Natal. Sebuah badan amal di Inggris mendorong orang-orang untuk mengenakan sweater terbaik mereka saat Natal. Selebriti seperti Taylor Swift, Kanye West juga mengikuti tren itu.
Saat ini, media sosial berperan besar dalam perkembangan sweater Natal yang dianggap buruk rupa itu. Banyak orang berlomba memamerkan sweater terbaik mereka lewat media sosial. Mungkinkah ugly sweater berubah menjadi sweetest sweater mereka di Natal tahun ini? Bisa jadi. (ptj/chs)