Fenomena Pasir Timbul kala Laut Surut di Flores Timur

CNN Indonesia | Senin, 30/12/2019 13:12 WIB
Fenomena Pasir Timbul kala Laut Surut di Flores Timur Pulau Pasir Timbul Meko di Flores Timur, NTT. (Dok. Kementerian Pariwisata)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasir Timbul Meko berupa pulau kecil yang berada di wilayah perairan laut Dusun Meko, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pulau tak berpenghuni dan tak berpohon ini berukuran kurang dari 1 km persegi. Di tengah pulau terdapat gundukan pasir berwarna pink.

Pulau mungil ini memiliki keunikan bisa timbul dan tenggelam, tergantung jawal pasangnya air laut.


Karena berada di tengah laut, turis perlu menempuh perjalanan sekitar 20 menit menggunakan kapal motor milik nelayan menuju pulau ini.

Selain ke Pulau Pasir Timbul Meko, kapal nelayan juga bisa mengantar turis ke destinasi wisata sekitarnya, seperti Pulau Watan Peni atau Pulau Kelelawar.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Meko, Bakri Lolowajo, mengatakan tarif perjalanan pergi pulang ke Pulau Pasir Timbul Meko dengan kapal nelayan seharga mulai dari Rp15 ribu per orang.

Harga tersebut belum termasuk karcis masuk resmi untuk dewasa sebesar Rp5.000 dan Rp2.000 untuk anak-anak.

"Untuk tarif ke Pulau Watan Peni atau Pulau Kelelawar belum diatur. Sehingga kalau ada wisatawan yang ingin ke pulau itu, mereka bisa melakukan negosiasi dengan pemilik perahu," kata Bakri, seperti yang dikutip dari Antara pada Senin (30/12).

Hiu dan kapal pesiar

Perairan Meko juga masuk dalam Kawasan Konservasi Suaka Alam Perairan (KKSAP) di Kabupaten Flores Timur.

Kepala Cabang Dinas DKP Provinsi NTT untuk wilayah Flores Timur, Lembata dan Sikka, Antonius Andy Amuntoda menjelaskan bahwa perairan Meko habitat penting bagi hiu.

Menyelam bersama kawanan hiu ikut menjadi salah satu kegiatan wisata yang bisa dinikmati di sini.

Pasir timbul Meko bisa dikunjungi saat surut. (Dok. Kementerian Pariwisata)

Pulau Pasir Timbul Meko rupanya sudah cukup dikenal oleh wisatawan mancanegara, terutama para peserta lomba perahu layar internasional yang selama ini menjadikan Kota Kupang sebagai pintu masuk.

Pada bulan Juli-Agustus, puluhan wisatawan mancanegara lego jangkar di sekitar Pulau Pasir Timbul Meko dan membangun tenda-tenda untuk bermalam di pulau itu.

"Para wisatawan biasanya berhari-hari tinggal di pulau itu. Pada siang hari mereka mandi dan berjemur dan kembali ke kapal. Tetapi pada malam hari mereka membangun tenda untuk bermalam," kata Henry, seorang nelayan di Dusun Meko.

Cara menuju

Untuk mengunjungi Pulau Pasir Timbul Meko, turis harus menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam dari Kupang menggunakan pesawat udara ke Larantuka.

Bagi yang memilih menggunakan pesawat, harus merogoh kocek sekitar Rp3 juta untuk tiket pulang pergi Kupang-Larantuka.

Selain transportasi udara, ada transportasi laut yang murah meriah, yakni KMP Fery Kupang-Pelabuhan Deri di Pulau Adonara dengan biaya sekitar Rp100 ribu per orang.

Hanya saja pelayaran tersebut hanya berlangsung satu kali dalam sepekan, yakni pada setiap hari Jumat, dengan durasi sekitar 12-14 jam, tergantung cuaca di wilayah perairan laut.

Setibanya di Larantuka, turis lanjut melakukan penyeberangan pendek sekitar 15 menit melalui Pantai Palo menuju Tanah Merah.

Sesampainya di Tanah Merah, turis kembali melanjutkan perjalanan darat menuju Dusun Meko sekitar 1,5 jam.

[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)