LANCONG SEMALAM

Mausoleum Thio Sing Liong, Abadinya Sang Taipan

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Minggu, 19/01/2020 12:01 WIB
Setelah wafat, Thio Sing Liong tidak dimakamkan, melainkan disimpan di mausoleum bersama istri kesayangan. Mausoleum Thio Sing Liong. (Dok. Silvia Galikano)
Semarang, CNN Indonesia -- Mausoleum Thio Sing Liong berada di Jalan Sriwijaya, Peterongan, Semarang, tak jauh dari pertigaan Jalan Wonodri Sendang Raya dan Jalan Sriwijaya. Mausoleum ini adalah bagian dari Makam Keluarga Thio Sing Liong dan termasuk dalam daftar cagar budaya kota Semarang.

Area ini semula merupakan pemakaman Tionghoa bernama Tegalwareng. Luasnya konon mencapai lima hektare, menyatu dengan Makam Besar Bangkong. Desakan pendirian bangunan komersil menyebabkan tergusurnya pemakaman Tegalwareng, kecuali Makam Keluarga Thio Sing Liong.

Thio Sing Liong (1871 - 1940) adalah pengusaha besar di bidang properti dan pengekspor rempah-rempah di bawah firma NV Thio Sing Liong. Propertinya sampai sekarang tersebar di Semarang. Dua di antaranya gedung bekas perusahaan asuransi Lloyd Indonesia yang berdampingan dengan bangunan yang dikenal instagrammers dengan julukan "Rumah Akar" di Kota Lama, serta gedung yang ditempati Toko Oen di Jalan Pemuda.


Mausoleum terletak di ketinggian, sekitar tiga meter lebih tinggi dari jalan. Dari luar, bangunan mausoleum tampak seperti rumah ibadah Tionghoa atau klenteng. Tinggi dindingnya sekira lima meter. Jika sampai puncak atap bisa mencapai tujuh meter.

Tiga sisi mausoleum adalah dinding solid. Satu sisi lain, yakni yang menghadap jalan (utara), adalah sepasang pintu angin tinggi berbahan rangka besi yang diapit dua pintu angin.

Antara gerbang dan pintu utama terdapat semacam altar batu tempat peziarah sembahyang menghadap timur untuk "kulonuwun" dahulu sebelum masuk.

Di dalam bangunan tinggi itulah diletakkan dua peti marmer hitam besar masing-masing berukuran 220 x 100 x tinggi 80 cm, yang dindingnya dipahat karakter Mandarin nama keduanya. Bahannya dari marmer hitam Italia berkualitas tinggi yang biasa dipesan bangsawan Eropa.

Di sinilah jasad Thiong Sing Liong dan istri ke-tiga sekaligus terakhir, Goei Kwan Nio (1878-1954), dibaringkan. Di dalam peti kayu yang dimasukkan ke dalam peti marmer yang tidak dibenamkan ke tanah.

Penutup masing-masing peti berupa patung marmer putih berbentuk sosok Thio Sing Liong dan Goei Kwan Nio. Keduanya dalam posisi bangun tidur, duduk di atas tempat tidur menghadap utara, dengan selimut masih ada di pangkuan. Thio Sing Liong berjas dan berdasi. Goei Kwan Nio mengenakan cheongsam dan rambutnya digelung.

Di sisi peti Thio Sing Liong dan Goei Kwan Nio berdiri dua foto bocah Goei Thuan Hwat sedang dipeluk masing-masing oleh kakek dan neneknya itu.

Di dinding mausoleum dipajang foto pemakaman Thio Sing Liong yang dihadiri banyak kerabat dan karangan bunga.

Sejumlah karangan bunga berbahan tembaga masih terpasang di dinding. Cat warna-warninya tetap tampak walau sudah kusam. Salah satu pengirimnya Societeit Hwa Yoe Hwee Kwan. Tertulis di karangan bunga itu angka 1940, tahun kematian Thio Sing Liong.

Mausoleum Thio Sing Liong, Abadinya Sang TaipanKarangan bunga dari tembaga di mausoleum Thio Sing Liong. (Dok. Silvia Galikano)

Makam istri pertama Thio Sing Liong, Tan Tien Nio (sebelum 1900- sebelum 1905), ada di belakang mausoleum.

Makam inilah yang jadi cikal bakal dijadikannya Tegalwareng sebagai tempat pemakaman keluarga Thio Sing Liong.

Beberapa waktu setelah wafatnya Tan Tien Nio akibat kecelakaan delman, pada 1906 Thio Sing Liong memperluas areal makam dengan membebaskan lahan milik orang lain di pemakaman itu seluas 72 meter persegi.

Dengan izin Wali Kota Semarang Hadisoebeno Sosrowardojo, pada tahun 1955, lahan pemakaman milik Thio Sing Liong diperluas lagi menjadi 500 meter persegi.

Mausoleum Thio Sing Liong, Abadinya Sang TaipanBangunan mausoleum. (Dok. Silvia Galikano)

Ketika Thio Sing Liong wafat, tahun 1940, jenazahnya disimpan di peti mati yang kemudian dimasukkan dalam peti marmer, tidak dibenamkan ke tanah. Mausoleum ini membelakangi makam istri pertamanya.

Empat belas tahun kemudian, istri ketiga dan paling disayang, Goei Kwan Nio, menyusul menemani suami. Jenazahnya juga diabadikan di samping Thio Sing Liong.

Istri kedua, Tjoa Kwat Nio (sebelum 1910-1967), lain lagi ceritanya. Perkawinan yang tak direstui istri pertama membuat jenazah istri kedua tidak dimakamkan di Tegalwareng. Tjoa Kwat Nio dimakamkan di pemakaman Tionghoa di daerah Kobong, Semarang.

Pemakaman Kobong kemudian pada 1970-an digusur pemerintah untuk dijadikan pasar ikan bernama Pasar Kobong. Makam Tjoa Kwat Nio akhirnya dibongkar, jenazahnya dikremasi.

Di belakang mausoleum disiapkan juga makam untuk anak laki-laki Thio Sing Liong dari istri pertama, yakni Thio Tiam Tjong. Namun karena Thiam Tjong meninggal di Belanda, makam itu kosong. Hanya ada bongpay bertuliskan nama Thio Thiam Tjong dan dua istrinya: Goei Hoen Yang (1902 - 1945) dan Goei Lee Ging (1903 -1985).

Goei Hoen Yang yang wafat akibat sakit dimakamkan di sini. Thiam Tjong kemudian menikahi adik iparnya, Goei Lee Ging. Dari dua istrinya, Thio Thiam Tjong tak berketurunan.

Agak berjarak dari makam istri Thio Thiam Tjong adalah makam Goei Thwan Hwat (kira-kira 1925 - 1950). Goei Thwan Hwat sebenarnya anak dari puteri Thio Sing Liong dari istri pertama, Tan Tien Nio. Sang puteri, Thio Kiong Nio, menikah dengan Goei (Goey) Ing Liat.

Goei Thwan Hwat menjadi cucu kesayangan Thio Sing Liong dan Goei Kwan Nio yang tak berketurunan, sampai-sampai fotonya ikut menemani sampai di makam kakek dan neneknya itu.

Padahal, menurut kepercayaan Tionghoa, adalah sebuah pantangan meletakkan foto orang yang masih hidup, di kuburan.

Karenanya kematian sang cucu yang dianggap tidak wajar kemudian dikaitkan dengan kepercayaan itu. Goei Thwan Hwat meninggal setelah jatuh dari sepeda motor di Jalan Mataram Semarang pada tahun 1950.

Perawatan terus dikerjakan di Makam Keluarga Thio Sing Liong, antara lain mengecat dinding dan rutin memeriksa agar atap tidak bocor.

Keturunan Thio Sing Liong masih menziarahi kompleks makam ini, terutama pada hari Ceng Beng (hari ziarah kubur).

Masyarakat umum juga dapat berziarah dengan menemui penjaga makam terlebih dahulu yang tinggal di belakang kompleks makam.

[Gambas:Video CNN]

(ard)