Stres Terbukti Ilmiah Jadi Penyebab Ubanan

tim, CNN Indonesia | Selasa, 28/01/2020 16:15 WIB
Stres Terbukti Ilmiah Jadi Penyebab Ubanan Usia muda bukan halangan untuk beruban. Sudah banyak buktinya orang muda yang punya banyak uban di kepala. (Istockphoto/emapoket)
Jakarta, CNN Indonesia -- Merasa usia masih muda, tapi kok uban sudah mulai menumpuk di kepala?

Apa karena penuaan dini? Belum tentu. Ya Chieh Hsu, profesor stem cell dan biologi regeneratif di Universitas Harvard dan Harvard Stem Cell Institute mengungkapkan bahwa uban bukan soal tua atau usia. Dalam penelitian tersebut, biang keroknya adalah stres.

Mengutip Time, ada beberapa contoh tokoh sejarah terkenal yang juga menjadi bukti antara hubungan antara stres dengan rambut yang memutih. Marie Antoinette dilaporkan berubah setelah dia ditangkap saat Revolusi Prancis.


Namun Hsu dan rekannya berhasil menemukan alasan biologis mengapa stres bisa membuat rambut beruban.



Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature, Hsu dan timnya melaporkan bahwa proses uban ini dimulai dengan sistem saraf simpatik. Sara ini yang mengatur semua proses pentng tubuh yang tak pernah terpikirkan, misalnya detak jantung, pernapasan, mencerna makanan, dan melawan kuman penyakit.

Sistem saraf simpatik ini terkait erat dengan respons stres seseorang, jadi hal ini berhubungan juga dengan pengaruh rambut beruban. Namun respons sistem saraf terhadap stres ini umumnya merupakan pilihan terakhir dan diaktifkan hanya dalam keadaan darurat ketika sistem lain terlalu lambat atau gagal.

Hsu mengungkapkan jika stres mungkin dipengaruhi oleh sistem simpatik.

"Sistm ini akan menjadi sistem terakhir yang Anda pikirkan. Kami tahu kalau sistem ini diaktifkan di bawaha tekanan, tapi biasanya dianggap sebagai sistem darurat untuk kekebalan. Sel yang ditargetkan oleh sistem saraf simpatik ini adalah sel penghasil warna rambut di bawah folikel rambut. Sel ini disebut sel melanosit. Sel ini akan aktif ketika rambut baru tumbuh di folikel.

Sel induk kemudian membelah dan memproduksi sel penghasil pigmen yang akan mewarnai batang rambut yang baru tumbuh.

Hsu menemukan saat stres, sistem saraf ini akan aktif dan menghasilkan bahan kimia noepinefrin yang mengarah pada peningkatan kontraksi otot, termasuk di jantung.


Untuk menanggapi norepinefrin, sel induk melanosit akan mengacak jatah pigmen, sel ini akan salah membaca isyarat untuk memberikan warna rambut baru tumbuh. Hal ini menyebabkan sel pewarna rambut tak bisa menghasilkan warna.

"Sel induk melanosit penting untuk menjaga sel penghasil pigmen dalam folikel rambut, dan hanya mereka yang bisa melakukannya. Begitu mereka hilang, maka akan benar-benar hilang. Rambut pun berubah menjadi abu-abu." (chs)