Kobe Bryant & Momen Terakhirnya di Taksi Udara Rp54 Juta/jam

CNN Indonesia | Selasa, 28/01/2020 16:36 WIB
Kobe Bryant & Momen Terakhirnya di Taksi Udara Rp54 Juta/jam Kobe Bryant. (CNN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Helikopter menjadi alat transportasi yang lumrah di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Polisi, petugas pemadam kebakaran, kru TV, sampai turis bisa menumpanginya. Namun hanya orang sekaya Kobe Bryant yang mampu menggunakannya setiap hari.

Helikopter menjadi jalan keluar dari kemacetan serta jarangnya transportasi umum seperti bus atau keretadi Los Angeles. Namun kemudahan tersebut harus dibayar dengan harga yang mahal.

"Menyewa helikopter seperti Bryant (jenis Sikorsky S-76) adalah sekitar US$4.000 (sekitar Rp54,7 juta) per jam, pilot menghasilkan setidaknya US$100 ribu (Rp1,3 miliar) setahun," kata Philippe Lesourd, seorang pilot helikopter dan instruktur yang telah terbang di Los Angeles selama 29 tahun, mengatakan kepada AFP.


"Ini bukan alat transportasi yang bisa digunakan oleh semua kalangan."

Selain Bryant, selebriti lain yang sering menggunakan helikopter termasuk keluarga Kardashian, kata Lesourd, serta pengusaha yang lebih suka opsi perjalanan "sekitar lima atau enam kali lebih cepat dibandingkan mobil pribadi."

Bryant mulai menggunakan helikopter pribadi sejak tahun 2006.

Setelah mengantar putrinya ke sekolah dengan mobil di pagi hari, ia akan terbang 40 mil ke utara menuju stadion LA Lakers di pusat kota LA untuk latihan basket, dan kembali ke Newport Beach.

Perjalanan dengan helikopter hanya memakan waktu 15 menit. Sementara dengan mobil bisa sekitar dua jam saat jam sibuk.

"Saya harus mencari cara di mana saya masih bisa melatih tetapi tidak mengorbankan waktu untuk keluarga," kata Bryant.

Setelah pensiun pada tahun 2016, legenda bola basket - berharga sekitar US$600 juta (Rp8,2 miliar) - rutin menyewa helikopter dan pilot untuk perjalanannya.

Dia berada di helikopter pada Minggu (26/1) pagi ketika menabrak lereng bukit di dekat Los Angeles.

Delapan lainnya tewas, termasuk putrinya yang berusia 13 tahun, yang hendak ditemani Kobe ke pertandingan bola basketnya.

Tidak stabil

Penyebab kecelakaan belum diumumkan, tetapi langit Los Angeles sedang diselimuti kabut tebal pagi itu.

"Dia seharusnya berkata pada dirinya sendiri, 'Mari kita bawa mobil,' atau menunggu beberapa jam sampai kabut reda," kata Lesourd.

Menurut Lesourd, penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa pilot mengalami "disorientasi spasial" setelah kehilangan pandangan saat helikopter memasuki awan.

"Helikopter tidak stabil - tidak seperti mobil atau pesawat terbang. Anda harus secara konstan mengendalikan ketinggiannya," katanya.

"Saat Anda berada di awan, otakmu tidak tahu rute mana yang naik dan mana yang turun, seperti saat menyelam."

Pilot Bryant sangat berpengalaman, karena helikopter yang mengangkut penumpang individu "sesuai permintaan" memerlukan izin yang ketat dan beroperasi dengan gaya maskapai.

Pilot "taksi udara" semacam itu juga harus menjalani pelatihan rutin dan pemeriksaan pengujian narkoba, tambah Lesourd.

California adalah negara bagian AS dengan jumlah kecelakaan helikopter terbanyak, dengan 177 kasus tercatat antara 2007-2016, menurut statistik resmi.

Helikopter rata-rata lebih aman daripada pesawat di AS, dengan tingkat kematian 0,82 per 100 ribu jam terbang, termasuk 55 kematian dalam 24 kecelakaan tahun lalu.

Tetapi menurut angka-angka dari kelompok keselamatan helikopter AS, penerbangan swasta memiliki kinerja terburuk di sektor mana pun.

Selama dekade terakhir, mereka hanya menyumbang tiga persen jam terbang, tetapi terdapat 26 persen kecelakaan fatal selama periode tersebut.


[Gambas:Video CNN]



(AFP/ard)