Studi: Diet Keto Hanya Ampuh Seminggu

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 08/02/2020 18:32 WIB
Studi: Diet Keto Hanya Ampuh Seminggu Penelitian dari Universitas Yale menunjukkan bahwa diet ini hanya menunjukkan manfaat selama seminggu sebelum obesitas dan diabetes muncul.(Gadini/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Diet keto masih banyak dianggap sebagai diet yang tepat untuk menurunkan berat badan. Hanya saja, penelitian dari Universitas Yale menunjukkan bahwa diet ini hanya menunjukkan manfaat selama seminggu sebelum masalah yang menyebabkan obesitas dan diabetes muncul.

Peneliti menyebutkan bahwa manfaat diet dengan makan-makanan tinggi lemak dan rendah karbohidrat akan terbatas dengan waktu. Setelah satu minggu menjalani diet, tubuh akan kembali mulai mengisi simpanan lemaknya lebih cepat daripada yang bisa dibakar.

Ketika menjalankan diet keto, Anda akan membutuhkan makanan tinggi lemak, rendah karbohidrat seperti bacon. Tubuh yang lapar akan membantu membakar lemak, tapi penelitian menunjukkan bahwa tubuh bereaksi dengan membangun simpanan lemak lagi setelah beberapa minggu.


Mengutip South China Morning Post, peneliti mengungkapkan bahwa setelah lebih dari seminggu manfaatnya akan mulai berhenti. Studi yang dipublikasikan di Nature Metabolism menunjukkan bahwa selama periode waktu terbatas mungkin bisa memberikan manfaat kesehatan bagi manusia, termasuk menurunkan risiko diabetes dan peradangan.


Efek positif diet tersebut terkait dengan sel yang disebut sel T gamma delta, sel kekebalan yang leindungi jaringan dan menurunkan risiko diabetes dan peradangan. Namun, sel yang sama juga terkait dengan efek negatif dari diet keto.

Vishwa Deep Dixit, penulis utama studi ini, yang adalah seorang profesor kedokteran komparatif dan imunologi di Yale School of Medicine, mengatakan diet keto menipu tubuh untuk membakar lemak. Tubuh bertindak seolah-olah dalam mode kelaparan ketika konsumsi karbohidrat rendah.

[Gambas:Video CNN]

Namun ketika tubuh bertindak seolah-olah berada dalam mode kelaparan, para peneliti menemukan bahwa lemak disimpan dalam tubuh yang saat yang sama ketika kerusakan lemak terjadi. Penelitian yang dilakukan kepada tikus ini memberikan beberapa hasil. Ketika tikus melakukan diet tinggi lemak, Dixit mengatakan kalau mereka menyimpan lemak lebih banyak dibanding yang bisa dibakar. Hasilnya obesitas dan diabetes mulai berkembang.

"Mereka kehilangan sel T gamma delta sebagai pelindung dalam lemak," kata Dixit,

Temuan ini menyoroti interaksi antara metabolisme dalam sistem kekebalan tubuh dan bagaimana mereka berkoordinasi untuk memeliharaan fungsi jaringan yang sehat," kata rekan peneliti Emily Goldberg.


Lalu apakah diet ini benar-benar terlarang?

Dixit mengungkapkan bahwa penelitian jangka panjang diperlukan untuk diet ini.

"Sebelum diet itu bisa diresepkan, uji klinis besar dalam kondisi terkontrol sangat diperlukan untuk memahami mekanisme di balik manfaat metabolik dan imunologi atau potensi bahaya apapun bagi individu yang kelebihan berat badan dan pra-diabetes." (chs)