Studi: Punya Banyak Pasangan Seksual Berisiko Kanker

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 17/03/2020 00:53 WIB
Penelitian baru menemukan, orang-orang yang memiliki 10 atau lebih pasangan seksual semasa hidup berisiko lebih tinggi terkena kanker. Ilustrasi. Penelitian baru menemukan, orang-orang yang memiliki 10 atau lebih pasangan seksual semasa hidup berisiko lebih tinggi terkena kanker. (Istockphoto/ PeopleImages)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jika Anda memiliki lebih dari dua pasangan seksual semasa hidup, Anda perlu khawatir soal risiko kanker yang kemungkinan bakal menyerang. Sebuah penelitian baru menemukan, orang-orang yang memiliki 10 atau lebih pasangan seksual dalam hidupnya berisiko lebih tinggi terkena kanker.

Wanita yang memiliki 10 atau lebih pasangan seksual berisiko dua kali lipat terkena kanker dari mereka yang hanya memiliki satu pasangan seksual.

Sementara risiko kanker pada pria dengan 10 atau lebih pasangan seksual meningkat hingga 70 persen dari mereka yang hanya memiliki satu pasangan seksual. Sementara mereka yang hanya memiliki 2-4 pasangan seksual berpeluang 57 persen lebih tinggi.


"Kami mencari hubungan antara jumlah pasangan seksual dan risiko kanker karena penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa infeksi menular seksual [IMS] tertentu dapat menyebabkan kanker," ujar penulis studi, Lee Smith dari Anglia Ruskin University, Inggris, mengutip situs kesehatan WebMD. Jumlah pasangan seksual yang tinggi membuat seseorang berisiko terkena IMS.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ Sexual and Reproductive Health pada Februari ini juga menemukan, risiko kanker lebih tinggi terjadi pada wanita dibanding pria. Peneliti menduga, hal tersebut disebabkan oleh hubungan kuat antara IMS tertentu dengan kanker pada perempuan seperti human papillomavirus (HPV) dan kanker serviks.

Untuk penelitian ini, Smith dan rekan-rekannya menggunakan data yang melacak orang-orang berusia 50 tahun ke atas.

Selama fase studi, lebih dari 5.700 peserta melaporkan jumlah pasangan seksual selama hidup. Para peneliti kemudian membandingkan jawaban mereka dengan diagnosis kanker yang dilaporkan.

Rata-rata peserta berusia 64 tahun. Sebanyak 75 persen di antaranya telah menikah. Sekitar 28 persen pria dan 41 persen wanita mengaku hanya memiliki satu pasangan seksual semasa hidup. Sementara 22 persen pria dan 8 persen wanita mengaku memiliki 10 atau lebih pasangan seksual.

IMS menjadi tersangka utama dalam peningkatan risiko kanker ini. Selain itu, orang-orang dengan lebih banyak pasangan seksual juga cenderung memiliki kebiasaan berisiko lainnya seperti merokok dan konsumsi alkohol. Kedua kebiasaan ini dikenal sebagai faktor risiko kanker.

"Ada kemungkinan risiko kanker meningkat karena kombinasi antara jumlah pasangan seksual dengan paparan IMS dan gaya hidup," kata Smith.

Meski menarik, namun penelitian ini memiliki kekurangan yang membuat para ahli sulit untuk menarik kesimpulan berarti.

"Seks dan kanker sama-sama subjek yang sensitif. Patut dipertanyakan apakah apa yang dilaporkan bisa dipercayai. Kita tidak tahu seberapa jujur mereka," ujar ahli ginekologi, Konstantin Zakashansky, mengomentari hasil penelitian tersebut.

Hal berbeda disampaikan ahli epidemiologi dari American Cancer Society, Mia Gaudet. "Kesimpulan studi konsisten dengan apa yang kita ketahui tentang hubungan antara virus dan kanker," kata dia.

HPV diketahui telah meningkatkan risiko kanker serviks dan penis. Sementara hepatitis B dan C dihubungkan dengan kemunculan kanker hati. Ada kemungkinan virus lainnya dapat dikaitkan dengan bentuk kanker yang berbeda.

"Kesehatan seksual adalah sesuatu yang kurang diperhatikan karena tabu. Meskipun penelitian ini belum ideal, ada baiknya untuk mengambil sedikit informasi di dalamnya," kata Gaudet.

[Gambas:Video CNN]

(asr/asr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK