Lidah Api, 'Harta Karun' Indonesia di Puncak Monas

Khaira Putri, CNN Indonesia | Minggu, 23/02/2020 15:02 WIB
Lidah Api, 'Harta Karun' Indonesia di Puncak Monas Monumen Nasional (Monas) di Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rasanya tidak ada orang menolak untuk dihadiahi emas yang bertengger di puncak Monumen Nasional (Monas). Dipandangi dari bawah saja sudah terlihat aduhai, bagaimana jika bisa membawa pulang bongkahan berharga tersebut.

Sempat terlintas dalam benak; apakah pernah ada yang berusaha mencuri emas Monas?

Saat berbincang pada pekan kemarin, Staff Unit Pengelola Kawasan (UPK) Monas Endrati Fariani mengulas kembali sejarah emas Monas yang bernama resmi Lidah Api Monas.

Dijelaskannya, Lidah Api merupakan pucuk filosofis pembangunan Monas sebagai pengobat semangat kebangkitan Indonesia.


Lidah Api Monas tercipta dari perunggu seberat 14,5 ton dan terdiri dari 77 bagian yang disatukan, kemudian bagian luarnya dilapisi oleh emas murni seberat 35 kg yang hampir sebagian besar merupakan pemberian dari pengusaha Aceh Teuku Arkam.

Kemudian pada tahun 1995, untuk memperingati 50 tahun Indonesia Merdeka, terjadi penambahan emas murni sebesar 50 kg yang diambil dari dana APBD DKI Jakarta.

Yang belum banyak orang tahu, lapisan emas tidak hanya ada pada Lidah Api Monas.

Endrati menyebut beberapa atribut di Ruang Kemerdekaan yang terletak di dalam cawan Monas juga dilapisi emas murni, seperti lambang negara Indonesia dan juga lanskap gugusan pulau Indonesia.

"Tahun 17 Agustus 1965 Lidah Api sudah ada, hanya saja di Ruang Kemerdekaan belum ada," jelasnya.

Sementara itu, dalam buku 'Panggung Indonesia' yang ditulis Yuke Ardhiati, secara filosofi dikatakan Soekarno ingin Lidah Api sebagai simbol cita-cita bangsa Indonesia setinggi langit.

Perawatan rumit

Sayangnya, tidak semua orang memiliki akses untuk menyentuh Lidah Api Monas.

Dijelaskan Endriati, hal itu cukup riskan, baik untuk keselamatan orang karena ketinggian plus angin kencang maupun kelestarian Lidah Api yang berlapis emas murni.

Setelah lebih dari setengah abad, sudah pasti Lidah Api Monas terpapar matahari yang menyebabkan korosi hingga penjamuran pada bagian tubuhnya.

Endriati mengaku perawatan dalam koridor konservasi pertama kali dilakukan oleh Pempro DKI Jakarta pada tahun 1995 sekaligus penambahan jumlah lapisan emas.

Pada tahun 2014 dan 2016 sempat ada proses perawatan Monas oleh salah satu perusahaan melalui program CSR-nya, namun produk yang digunakan ternyata meninggalkan efek buruk.

"Pembersihan berbeda dengan konservasi ya. Bagian luar pernah dibersihkan oleh CSR suatu produk, namun dua kali dibersihkan memakai air panas.

"Penggunaan air panas menimbulkan dampak yang kurang baik, pasalnya nat (perekat) pada tubuh marmer tugu Monas semakin merenggang, sehingga membuat celah untuk jamur tumbuh, ditambah terpaan sinar matahari, angin serta hujan.

"Jadi sejak itu Monas berjamur," tambahnya.

Saat disinggung perihal jadwal Lidah Api dibersihkan, Endrati mengaku pihaknya kini telah melakukan koordinasi dengan Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (Citata) terkait rencana pemeliharaan dan konservasi tubuh Monas secara keseluruhan.

Endrati menyebut pembahasan kajian tersebut sudah dibahas sejak tahun 2018 dan akan direalisasikan secepatnya dengan target selesai pada tahun 2021.

"Kita masih menunggu kajian dari Dinas Citata untuk perawatan emas ini," ujarnya.

"Harusnya 2021 itu harus selesai, tapi dalam perjalanannya ada saja, kita mau pelan tapi pasti, permintaan pak Gubernur 2021 selesai," tambahnya.

Selain itu Endrati mengaku, penambahan emas di Lidah Api pada tahun 1995 membuat lapisan emas tersebut semakin memerlukan perawatan.

Perunggu yang dilapisi emas murni itu mulai menampakkan penurunan kualitas.

"Lidah api pertama dilapisi, entah dicelup atau disemprot saya kurang begitu tahu, cuma yang jelas dia melekat erat. Yang 32 kg emas itu sampai sekarang masih melekat erat.

Namun penambahannya itu dilakukan dengan sistem berbeda, emasnya itu dibuat seperti kertas kemudian ditempel, nah itu yang sangat-sangat memerlukan perbaikan khusus," paparnya.

Sementara itu untuk perawatan pada lapisan emas di ruang kemerdekaan, Endrati menyebut pihaknya masih menggunakan cara perawatan manual, yakni menggunakan larutan pembersih biasa juga alami.

"Dulu pernah dicoba dengan buah lerak yang untuk mencuci batik fungsinya agar membersihkan korosi tetapi ternyata juga tidak maksimal," ujarnya.

(ard)