FOTO: Tato Para Pemburu Kepala di Myanmar

AFP PHOTO, CNN Indonesia | Jumat, 28/02/2020 17:46 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Warga Suku Naga di Myanmar berharap seni tato leluhurnya tak punah dimakan zaman.

Seorang anggota Suku Naga berdiri di depan rumahnya yang dihiasi tengkorak kepala banteng yang berada di Lahel, kawasan Sagaing, Myanmar. (Ye Aung THU / AFP)
Ku Myo (35), perempuan anggota Suku Naga, dengan badan penuh tato sedang menggendong anaknya. (Ye Aung THU / AFP)
Warga Suku Naga pada umumnya perang karena perebutan tanah, dan ada laporan para pejuang memotong kepala musuh-musuh mereka sebagai tanda kemenangan hingga akhir tahun 1960-an. (Ye Aung THU / AFP)
Duri akan digunakan untuk menggoreskan getah pohon di kulit prajurit sebagai pengingat permanen akan kehebatan mereka, tradisi turun temurun yang masih dilakukan hingga saat ini. (Ye Aung THU / AFP)
Suku Naga terdiri dari puluhan suku di suatu daerah yang begitu terpencil, sehingga desa-desa tetangga sering berbicara dengan bahasa dan dialek yang sangat berbeda. (Ye Aung THU / AFP)
Pemukiman suku-suku Naga adalah salah satu contoh sudut termiskin di Myanmar, di mana banyak orang harus berjalan berhari-hari untuk mencapai kota terdekat, hanya beberapa anak yang mengenyam pendidikan sekolah dasar, dan hanya 40 persen desa yang memiliki aliran listrik. (Ye Aung THU / AFP)
Tato Suku Naga dapat menandakan identitas kesukuan, pencapaian kehidupan, atau pencapaian ritual. (Ye Aung THU / AFP)
Dalam beberapa kasus, orang percaya bahwa mereka membutuhkan tato untuk transisi kehidupan setelah kematian. (Ye Aung THU / AFP)
Konflik antar suku kini jarang terjadi. Tradisi tato juga semakin ditinggalkan. Warga Suku Naga berharap seni tato leluhurnya tak punah dimakan zaman. (Ye Aung THU / AFP)