Sepinya Objek Wisata Akibat Corona Terlihat dari Luar Angkasa

CNN Indonesia | Jumat, 06/03/2020 15:25 WIB
Pemandangan sepinya dunia setelah virus corona mewabah tampak jelas dari luar angkasa. Foto udara Angkor Wat di Kamboja yang sepi turis setelah virus corona mewabah. (AFP/TANG CHHIN SOTHY)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemandangan sepinya dunia setelah virus corona Covid-19 mewabah tampak jelas dari luar angkasa. 

Ruang publik, stasiun kereta, situs suci dunia, terlihat kosong melompong dari gambar satelit yang dirilis pada Jumat (6/4),

Foto-foto udara, yang dirilis oleh perusahaan teknologi ruang angkasa Maxar yang berbasis di Colorado, Amerika Serikat, menunjukkan tempat-tempat yang biasanya ramai orang, dari Mekah ke Beijing yang kini sepi.


Satu gambar menunjukkan sekelompok kecil peziarah mengelilingi Kakbah di Masjidil Haram Mekah - sebuah situs suci yang biasanya dipadati oleh umat Muslim dari penjuru dunia.

Pihak berwenang Arab Saudi telah menunda kegiatan umrah sepanjang tahun ini, sebagai upaya untuk menghentikan penyebaran virus yang telah menewaskan lebih dari 3.000 orang di seluruh dunia.

Sebuah gambar di atas Hazrat Masumeh di Qom, salah satu tempat paling suci di Iran yang populer dengan keindahan kubah emasnya yang berkilau di bawah sinar matahari, juga terlihat sepi.

Jalanan dan halaman di sekitarnya ikut terlihat kosong.

Foto-foto di atas kota Wuhan, China - pusat penyebaran virus corona - menunjukkan lusinan kereta yang diparkir di Stasiun Dongdamen.

Akibat kota terkunci dan benar-benar terputus dari dunia luar sejak 23 Januari, stasiun kereta yang biasanya ramai itu telah diubah menjadi depo.

Di lapangan Tiananmen, yang disebut Gerbang Kedamaian Surgawi, hanya beberapa mobil yang lewat dan tidak hampir ada pejalan kaki yang terlihat.

Dikutip dari AFP pada 28 Februari, Badan legislatif China resmi melarang perdagangan satwa liar untuk mencegah penyakit zoonosis dari hewan ke manusia, yakni virus novel corona atau Covid-19.

Pelarangan itu dinilai akan menyelamatkan trenggiling yang diduga sebagai inang perantara Covid-19 dan satwa liar lain dari kepunahan akibat diperdagangkan secara masif di China.

Melansir CBS News, Direktur International Fund for Animal Welfare China Jeff He memuji kebijakan yang diambil oleh pemerintah China tas perdagangan satwa liar. Namun, dia berkata kebijakan itu akan berjalan efektif jika bersifat tetap.

"Saya memuji larangan itu, karena kita melihat bahwa pemerintah China bertekad untuk mengubah tradisi berusia ribuan tahun yang sangat tidak pantas di masyarakat saat ini," kata He.

He menilai pelarangan perdagangan satwa liar adalah langkah konservatif pertama yang penting untuk perlindungan satwa liar di China.

Selanjutnya, dia menyerukan adanya revisi yang lebih kuat dan progresif terhadap Undang-Undang Perlindungan Satwa Liar yang selama ini berlaku di China.

CEO WildAid, Peter Knights menuturkan negara lain diharapkan juga meniru langkah China untuk melarang perdagangan trenggiling. Dia berkata populasi trenggiling akan tetap menurun jika hanya China yang membuat kebijakan tersebut.

"Kami berharap China dapat memimpin dunia dalam melarang pasar-pasar ini secara global," ujar Knights.

Knights menuturkan wabah Covid-19 harus menjadi peringatan bagi manusia untuk meningkatkan pelestarian alam. Sebab, dia berkata eksploitasi alam berlebihan akan berdampak pada perekonomian dan kesehatan.

"Jika kita mengindahkan peringatan itu tidak hanya kita akan melindungi kehidupan manusia, tetapi kita benar-benar bisa menyelamatkan spesies seperti trenggiling," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)