LAPORAN DARI BANDUNG

Wisata Hiburan Rakyat di Kota Paris van Java

Melanie Putri, CNN Indonesia | Minggu, 15/03/2020 13:06 WIB
Di antara objek wisata yang Instagram-able dan komersil, ternyata kota Bandung juga masih memiliki banyak tempat keriaan dengan harga kerakyatan. Gedung Merdeka, saksi bisu Konferensi Asia-Afrika di Bandung, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/aacc2015/Widodo S. Jusuf)
Bandung, CNN Indonesia -- Ada banyak cara menikmati Bandung, mulai dari wisata kuliner sampai wisata belanja. Tapi di antara objek-objek wisata yang Instagram-able dan komersil, ternyata Paris van Java juga masih memiliki banyak tempat keriaan dengan harga kerakyatan.

Siang hari setelah wisata sejarah Belanda bersama Komunitas Aleut, saya iseng keluar hotel yang berada di Jalan Braga untuk menikmati malam minggu di Bandung.

16.00 - Gedung Sate


Saya mengawali malam minggu di Bandung dengan berkunjung ke Gedung Sate. Gedung yang menjadi ikon kota Bandung ini masih terlihat kokoh dan megah, terutama pada malam hari.

Sejak peletakan batu pertama pada 1920, Gedung sate ditujukan sebagai tempat pemerintahan Hindia Belanda (Gouvernements Bedrijiven).

Di menaranya ada sirene penanda perang yang konon katanya bisa meraung hingga jarak 60 kilometer. Gubernur Hindia Belanda pada masa itu biasanya membunyikan sirene jika ada tanda-tanda penyerangan dari musuh.

Gedung ini juga jadi saksi bisu pemberontakan warga pasca kemerdekaan untuk mengusir Belanda yang pada saat itu masih kekeuh menempati Bandung.

Saya tiba di Gedung Sate sebelum Magrib. Sayangnya saya tidak boleh masuk ke bagian dalam karena jam operasionalnya sudah usai.

Untuk bisa masuk hingga menara puncak, saya harus kembali lagi pada pagi keesokan harinya, sebab hanya 70 orang pertama yang diperbolehkan naik, itu pun hanya hari Sabtu dan Minggu.

Kawasan di sekitar Gedung Sate terlihat cukup ramai pada hari Sabtu. Terletak di seberang Gedung Sate ialah lapangan Gasibu.

Pada sore hari, lapangan ini digunakan warga untuk jogging plus makan Bakso Cuankie setelah jogging.

Wisata Hiburan Rakyat di Kota Paris van Java*Wajah Gedung Sate saat malam hari yang penuh cahaya. (CNN Indonesia/Melani Putri)

18.00 - Bakso Ikan Express

Dari Gedung Sate, saya berjalan ke Lapangan Gasibu untuk mencari angkot ke Jalan Merdeka. Dari lapangan Gasibu, saya naik angkot 06 rute Cicaheum-Ciroyom dan turun di Simpang Dago. Jarak yang ditempuh lumayan dekat, hanya 2,6 kilometer dengan harga Rp3.000.

Di Simpang Dago, saya berjalan hingga daerah Jalan Merdeka dan menemukan Mall Bandung Indah Plaza (BIP) yang ramai dikunjungi orang.

Namun kedatangan saya ke Jalan Merdeka tentunya bukan untuk mengunjungi mall yang banyak digandrungi mojang Bandung itu. Saya mencari Bakso Ikan Express yang sudah ada sejak tahun 1999 di sana.

Dari BIP, kira-kira 200 meter dekat simpang lampu merah, bisa terlihat roda gerobak berwarna coklat dengan asap dari rebusan bakso yang mengepul. Cocok menjadi cemilan perjalanan, apalagi suasana Bandung malam itu gerimis dan berangin.

Wisata Hiburan Rakyat di Kota Paris van JavaBakso Ikan Express. (CNNIndonesia/Melani Putri)

Jika jalan-jalan ke Bandung dan melewati Jalan Merdeka, bisa sempatkan membeli Bakso Ikan Express yang sudah berjualan selama 21 tahun.

Harga satu porsi bakso ikan Rp10 ribu terdiri dari satu bakso besar, tiga bakso kecil, dan tiga tahu.

Bisa juga meminta isian bakso lebih banyak. Tapi bagi saya, satu porsi baksonya sudah sangat mengenyangkan.

19.00 - Alun-alun Bandung

Beranjak dari Jalan Merdeka, saya pergi ke daerah Alun-alun Bandung. Dari Jalan Merdeka, saya kembali naik angkot 02 trayek Abdul Muis (Kebon Kalapa) - Dago.

Perjalanan cukup jauh dan masih diiringi hujan. Untuk tiba di Alun-alun Bandung saya membutuhkan waktu 30 menit menggunakan angkot, sebab jalanan utama kota Bandung malam itu terbilang cukup padat. Sepertinya seluruh warga Bandung keluar rumah di malam minggu. Saya melihat sejumlah remaja asyik nongkrong di pinggir taman.

Saya turun di Jalan Dewi Sartika, tepat pukul 19.30. Ternyata angkot saya tidak mencapai Alun-alun Bandung, dan butuh jalan kaki sedikit untuk sampai ke sana.

Selama perjalanan di Dewi Sartika, hujan semakin lebat, namun pertokoan di sepanjang jalan ini masih saja ramai.

Sepanjang jalan ini saya menemukan banyak pedagang jajanan kaki lima, seperti gorengan, cilok, cimol, es cendol, sampai es dawet. Di samping itu banyak juga penjual yang menjajakan tas, sepatu, aksesoris gelang, jam tangan, bahkan ada juga tukang tato sampai tukang ramal.

Sayangnya saya perlu antre cukup panjang untuk bisa diramal, sedangkan cuaca hujan dan perjalanan saya masih cukup panjang malam ini.

Saya terus berjalan hingga Alun-alun Bandung hingga pukul 20.00. Keramaian lanjut terlihat.

Di Alun-alun Bandung berdiri Masjid Agung Bandung. Halaman masjid biasa digunakan untuk bermain anak-anak dan tempat santai para pengunjung.

Halaman masjid menggunakan rumput sintetis sehingga saya perlu melepas sepatu untuk bisa memasuki kawasan Alun-alun Kota Bandung.

Banyak anak dan orang tuanya memilih untuk berteduh di masjid pada malam itu, sehingga pemandangan di halaman cukup sepi.

Saya memutuskan lanjut berjalan lebih jauh ke daerah kawasan Jalan Asia Afrika yang terlihat cukup ramai.

21.00 - Jalan Asia Afrika dan Braga

Benar saja, kawasan Asia Afrika terlihat ramai. Satu hal yang mencuri perhatian saya adalah banyaknya 'hantu' di sepanjang jalan.

Hantu yang saya maksud adalah orang-orang dengan kostum Kuntilanak Merah, Nyi Roro Kidul, Suster Ngesot, hingga kostum Dewa Kematian. Mereka juga berakting menyeramkan sehingga banyak orang yang dibuat takut dan kabur.

Wisata Hiburan Rakyat di Kota Paris van Java*Cosplayer yang bisa diajak berfoto. (CNN Indonesia/Melani Putri)

Para cosplayer bisa diajak berfoto bersama, asal pengunjung mau merogoh kocek seharga Rp2000-Rp5000 per orang.

Masih di Jalan Asia Afrika, tepatnya di bekas bangunan Palaguna, saya menemukan pasar malam rakyat lengkap dengan wahana bianglala, kapal pembajak, dan komedi putar.

Wisata Hiburan Rakyat di Kota Paris van Java*Bianglala di pasar malam. (CNN Indonesia/Melani Putri)

Hujan sudah berhenti kala itu sehingga saya bisa naik bianglala yang harga tikenya Rp10 ribu per orang. Dari atas bianglala, saya bisa melihat pemandangan kawasan Dewi Sartika, Alun-alun, Braga, dan Asia Afrika secara jelas.

Di akhir pekan atau hari libur nasional, pasar malam ini buka sampai pukul 02.00.

Selain tiga wahana yang saya sebutkan tadi, ada juga permainan khas pasar malam, seperti dart, tangkap ikan, hingga tembak target berhadiah smartphone. Namun hingga tengah malam, saya tak menemukan orang beruntung yang bisa membawa pulang smartphone tersebut.

Saya sempat mengunjungi Gedogan Coffee Braga, kedai kopi yang cukup terkenal di Bandung, sebelum jam tutupnya pukul 24.00.

Satu es kopi susu dihargai Rp18 ribu. Sayangnya saya tidak bisa masuk ke dalam ruangan yang juga merupakan bekas bangunan bersejarah di Jalan Braga karena sudah masuk jam tutup toko.

01.00 - Warung Nasi Ce'mar

Wisata Hiburan Rakyat di Kota Paris van JavaMenu yang dipesan. (CNNIndonesia/Melani Putri)

Usai berjalan-jalan sepanjang Asia Afrika dan Braga perut saya memberontak minta asupan gizi. Saya kemudian mencari warung makan legendaris di kawasan Braga, Warung Nasi Ce'Mar.

Warung Ce'Mar berdiri sejak 1986, di Jalan Braga nomor 29, tepat di belakang kawasan kuliner Cikapundung.

Menu khas yang ditawarkan adalah gulai daging sapi yang selalu tersedia dalam kondisi hangat, serta sayur sop dengan kuah bening yang juga disediakan hangat-hangat.

Di Warung Nasi Ce'Mar, pelanggan mengambil sendiri makanan yang diinginkan. Saya mengambil nasi, gulai daging sapi serta tumis kacang merah ditemani teh tawar panas.

Dari tempat duduk saya, saya bisa melihat lalu lalang pengunjung di kawasan Braga-Cikapundung, juga bianglala yang sempat saya naiki tadi.

Warung Nasi Ce'mar buka mulai pukul 19.00 hingga 04.00 WIB setiap harinya.

02.00 - Jalan Braga

Wisata Hiburan Rakyat di Kota Paris van JavaJalan Braga di malam hari. (CNNIndonesia/Melani Putri)

Belum puas berjalan-jalan di sepanjang Jalan Braga, saya kembali ke sana usai perut terisi.

Pertokoan di Jalan Braga tutup jam 21.00, namun tempat hiburan malam mulai bergairah. Tempat karaoke, bar, sampai kelab malam membuka pintunya.

Di sini banyak gedung-gedung peninggalan Belanda yang tidak terawat. Bahkan salah satu gedung tertua di Braga sudah ditumbuhi pohon dan rumput liar karena tidak mendapat perawatan.

Karena sudah seharian wisata sejarah di Bandung bersama Komunitas Aleut, malam minggu di Bandung saya akhiri di Jalan Braga dan langsung pulang ke hotel yang tak berada jauh dari sana.

Wisata Hiburan Rakyat di Kota Paris van JavaInfografis Fakta Menarik Gedung Sate. (CNNIndonesia/Basith Subastian)
(ard)