Hari Rabies Sedunia

Cara Mengatasi Gigitan Rabies Agar Tak Timbulkan Kematian

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 28/09/2020 19:04 WIB
Kematian karena rabies bisa dicegah dengan cara mencuci luka setelah mendapatkan gigitan dari hewan penular. Ilustrasi. Kematian karena rabies bisa dicegah dengan cara mencuci luka setelah mendapatkan gigitan dari hewan penular. (Pixabay/Chiemsee2016)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rabies merupakan penyakit mematikan yang dapat dicegah. Kematian karena rabies bisa dicegah dengan cara mencuci luka setelah mendapatkan gigitan dari hewan penular rabies.

Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh virus rabies Lyssavirus. Virus ini menyerang manusia dan hewan berdarah panas. Di Indonesia, 98 persen penularan terjadi melalui gigitan anjing dan 2 persen lainnya dari kucing dan kera.

Virus rabies menyerang sistem saraf pusat dan otak. Setelah melewati masa inkubasi dan menimbulkan gejala, tak ada obat yang bisa melawan virus sehingga kematian mencapai 100 persen.


"Kalau sudah menimbulkan gejala, pasti meninggal. Tapi, sebelum menimbulkan gejala, pasien masih bisa diselamatkan dengan sejumlah langkah," kata dokter spesialis penyakit dalam Asep Purnama dalam konferensi pers peringatan Hari Rabies Sedunia atau World Rabies Day, Jumat (25/9). Hari Rabies Sedunia diperingati setiap 28 September.

Asep menjelaskan, masa inkubasi virus dapat berlangsung 20-60 hari hingga tahunan dengan rata-rata berkisar 1 bulan setelah menerima gigitan dan hewan penular.

Setelah masa inkubasi virus selesai, umumnya akan timbul gejala pertama berupa kesemutan dan gatal-gatal. Tahap akut umumnya akan ditandai dengan gejala takut udara dan takut air. Setelah itu, pasien akan mengalami koma hingga meninggal dunia.

Berikut langkah mencegah gigitan hewan rabies dari kematian.

1. Segera cuci luka setelah digigit

Setelah mendapat gigitan dari hewan penular rabies, segera cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit. Cara ini ampuh untuk membunuh virus.

Asep menjelaskan, virus rabies merupakan virus yang terdiri dari RNA rantai tunggal dan dilapisi oleh envelope berupa lemak serta dapat dibunuh dengan sabun atau detergen.

"Sama seperti virus corona yang bisa mati dengan cuci tangan, rabies juga memiliki lemak di lapisan luarnya sehingga mencuci luka bisa membunuh virus hingga 90 persen," kata Asep yang menangani wabah rabies di RSUD dr Tjark Corneille Hillers, Maumere, NTT.

2. Bawa ke rumah sakit dan vaksinasi anti-rabies

Setelah mencuci luka, segera bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Dokter akan memberikan vaksinasi anti-rabies untuk mencegah virus menyerang saraf pusat.

3. Pemberian serum anti-rabies

Jika terdapat indikasi lanjutan, dokter juga akan memberikan serum anti rabies. "Luka dengan risiko tinggi akan ditambahkan dengan pemberian serum anti rabies," ujar Asep.

Cuci luka ditambah dengan pemberian vaksin dan serum efektif untuk mencegah kematian akibat rabies.

Saban 28 September setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Rabies Sedunia atau World Rabies Day. Pandemi virus corona tahun ini memberikan tantangan baru terhadap upaya menekan angka kasus rabies.

Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan menunjukkan pemberian vaksin anti-rabies (VAR) semasa pandemi ini menurun, dari tahun lalu yang mencapai 67 ribu menjadi 14 ribu periode Januari hingga Agustus 2020.

(ptj/asr)