Persiapan Kiamat, Kelompok Survivalis Huni Bungker Hari Akhir

CNN Indonesia | Rabu, 18/03/2020 16:25 WIB
Tak hanya makanan dan minuman, mereka juga memiliki senjata kaliber tinggi, panel surya, peternakan, hingga lahan pemakaman. Pengelola "bungker kiamat" The Fortitude Ranch, Steve Rene. (AFP/NICHOLAS KAMM)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jalan sempit dan mengecil di Virginia Barat, dekat dengan kaki Bukit Appalachian, mengarah ke sebuah kamp yang terletak di hutan, tempat sekelompok survivalis (penyintas/pertahanan hidup) di Amerika Serikat bersiap-siap menghadapi runtuhnya peradaban jauh sebelum kedatangan virus corona COVID-19 yang kini sedang menghantui dunia.

Kotak-kotak yang penuh dengan kaleng-kaleng makanan porsi keluarga, kantong-kantong anggur beku yang dapat bertahan hingga 25 tahun, beras, tepung terlihat di dalam bungker bertulang beton yang digali satu meter di lahan milik The Fortitude Ranch.

Dengan begitu, kelompok ini tidak perlu merasakan gelombang kepanikan belanja yang telah membuat kosong rak-rak supermarket di seluruh negeri yang semakin sering terjadi.


Selain makanan dan minuman, mereka juga memiliki stok kertas toilet dan masker yang cukup.

"Investasi ini sangat berharga sekarang!" canda Steve Rene, memperlihatkan lahan seluas 40 hektare yang dia kelola.

The Fortitude Ranch memiliki semboyan mengenai hari akhir: "Bersiap untuk yang Terburuk ... Nikmati Sekarang!"

Para anggotanya memiliki hingga dua minggu setiap tahun untuk bersenang-senang di kamp ini, menikmati alam, hiking, atau memancing ikan trout di Lost River yang berada tak jauh dari sana.

Rene, manajer cabang Virginia Barat, sejak awal rajin mengelak anggapan negatif orang-orang mengenai kelompok survivalis, atau yang juga disebut preppers, mengenai "persiapan kiamat" mereka.

"Mereka bukan sekelompok orang gila dengan gagasan bahwa dunia akan berakhir dan kita harus bersiap," katanya.

Akhir dunia

"Kami bukan kelompok militer. Kami tidak memiliki hubungan dengan milisi, hal-hal seperti itu," kata Rene, meski ia pernah bergabung dalam operasi militer di Teluk Persia pada tahun 1991.

Meski demikian ada pos pengintai di keempat sudut properti. Di lobi penerimaan tamu calon anggota baru juga terlihat senapan kaliber tinggi, yang mampu menembus kendaraan lapis baja.

"Orang-orang yang putus asa bisa saja melakukan hal-hal yang tidak masuk akal," kata Rene.

Selain penyusup, ancaman lain yang dikhawatirkan kelompok survivalis ialah bencana alam, kerusuhan, terorisme, perang, sampai wabah penyakit.

"Kemungkinan itu bisa saja terjadi," kata Rene.

"Jika tidak melakukan persiapan, kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dalam keadaan genting, semua hal menjadi tidak terkendali."

Penampakan "bungker kiamat" di The Fortitude Ranch. (AFP/NICHOLAS KAMM)

Sebuah komite yang terdiri dari lima orang, termasuk Rene, akan memutuskan dalam keadaan darurat apakah akan mendeklarasikan "skenario bencana," dalam hal ini semua anggota akan diundang datang ke kamp yang hanya bisa dimasuki dengan kata sandi rahasia.

Dalam kasus penyebaran wabah penyakit, suhu tubuh setiap orang yang masuk dipantau dengan termometer.

Jika lolos pemeriksaan kesehatan di pintu gerbang, mereka bisa menikmati akses fasilitas kamp mulai dari sumber air sampai peternakan.

Tersedia juga parit untuk membakar mayat yang terkontaminasi virus.

Asuransi jiwa

Penggagas The Fortitude Ranch, Drew Miller, adalah mantan pakar intelijen militer dan lulusan Harvard yang berharap dapat membangun selusin kamp semacam itu di seluruh Amerika Serikat.

Berbeda dengan "bunker mewah" yang dibangun oleh orang super kaya, ia membidik pasar kelas menengah.

Orang membayar setidaknya US$1.000 (sekitar Rp15,4 juta) per tahun, per orang, untuk paket dasar: tempat tidur di asrama bunker.

"Ini seperti polis asuransi jiwa yang benar-benar melindungi hidup Anda, daripada polis asuransi jiwa yang membayar untuk mengubur Anda," kata Rene, yang mencatat lahannya memiliki kapasitas untuk menampung hingga 500 orang di berbagai bangunan yang tersebar di seluruh properti berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Washington.

Rene telah mendapatkan semakin banyak pertanyaan dan email saat wabah virus corona menyebar ke seluruh negeri.

Orang-orang khawatir yang sudah memiliki gagasan survivalisme "di pikiran mereka" sekarang melihat "mungkin kamp ini perlu dipertimbangkan," kata mantan tentara itu kepada AFP.

Sebuah laptop yang terbuka di sebelahnya menunjukkan peta online yang menampilkan penyebaran virus corona secara terkini.

Tidak ada titik merah yang menandakan wabah telah datang di sekitar kamp ini. Hingga hari Senin (16/3), Virginia Barat adalah negara bagian terakhir di Amerika Serikat yang belum memiliki data korban virus corona.

[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)