Manusia di Rumah, Hewan Liar Riang Gembira Jelajahi Kota

CNN Indonesia | Senin, 30/03/2020 12:02 WIB
Mulai dari lebah, katak, burung, rusa, sampai lumba-lumba kini sedang bersiap menikmati musim kawin tanpa gangguan manusia. Kawanan rusa menjelajahi jalanan di Nara, Jepang, selama kawasan sepi ditinggal penduduk isolasi diri di rumah demi mencegah virus corona. (AP/Jae C. Hong
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika manusia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena semakin banyak negara yang menerapkan social distancing sampai lockdown demi mengatasi penyebaran pandemi virus corona COVID-19, kawanan hewan liar terlihat menjelajahi jalanan yang kosong di beberapa kota besar dunia.

Babi hutan telah turun dari bukit-bukit di sekitar Barcelona, sementara rusa sika jalan-jalan di sekitar stasiun metro Nara, Jepang.

Media sosial India dihebohkan dengan video viral seekor rusa jantan yang berlari kencang melintasi Dehradun, ibukota negara bagian utara Uttarakhand.


Geng kalkun liar telah mondar-mandir di jalan-jalan Oakland, California, sementara puma muncul di pusat ibukota Chile, Santiago, yang tengah memberlakukan jam malam.

"Ini adalah habitat yang pernah mereka miliki dan yang kita ambil dari mereka," kata Marcelo Giagnoni, kepala dinas pertanian dan peternakan Chile yang membantu polisi menangkap kucing besar yang penasaran itu.

Penampakan lumba-lumba di kanal Venesia juga sangat fantastis.

"Mereka bermunculan di pelabuhan-pelabuhan Mediterania seakan mengambil kendali kebebasan menjelajahi kota," kata Romain Julliard, kepala penelitian di Museum Sejarah Alam Prancis.

Dia mengatakan kepada AFP bahwa rubah berada di barisan depan para satwa penjelajah kota ini.

"Mereka mengubah perilakunya dengan sangat cepat. Ketika suatu tempat menjadi sunyi, mereka langsung hadir di sana."

Musim penuh cinta

Kawanan burung yang biasanya hidup di taman kota, seperti burung pipit dan merpati, kini juga terlihat berkeliaran di luar wilayahnya, kata Julliard, "mungkin membebaskan ruangnya untuk hewan lain".

Walau kota terasa lebih sepi, namun spesialis akustik museum Jerome Sueur mengatakan bahwa itu tidak berarti ada lebih banyak burung di kota daripada sebelumnya.

Tak ada polusi suara justru membuat nyanyian burung kini lebih terdengar, jadi bukan karena jumlahnya yang bertambah.

"Para burung kini menggantikan polusi suara yang biasanya dibuat manusia," kata Sueur, yang mengatakan kalau kesenyapan ini juga mungkin pertanda baik bagi musim kawin mereka.

Dengan musim perburuan dihentikan di beberapa negara Eropa, itu menjanjikan musim semi dan musim panas sarat cinta untuk kerajaan hewan liar.

Ini tentu saja berita bagus untuk spesies seperti katak dan salamander.

Amfibi itu kini bisa terhindar dari maut terlindas di jalanan yang ramai kendaraan dan segera menemukan jodohnya, kata Jean-Noel Rieffel, dari kantor keanekaragaman hayati Prancis (OFB).

Dengan sedikit anjing yang mengganggu mereka, bayi rusa juga mendapatkan awal yang indah untuk hidup, sementara kawanan burung seperti burung camar Mediterania yang bersarang di sepanjang tepi sungai jauh dari gangguan.

Di Taman Nasional Calanques yang menghadap ke Mediterania dekat kota Marseille, Prancis, satwa liar "mengklaim kembali habitat aslinya dengan kecepatan yang mengejutkan," kata pemimpin taman itu, Didier Reault.

Dengan larangan berjalan-jalan dan berperahu, "puffin berdiam di area tertinggi dan tidak lagi berkeliaran di lautan," katanya.



Pengamatan burung

Kondisi yang sama juga terjadi untuk tanaman. Anggrek liar yang seharusnya dilindungi namun sering dipetik oleh pejalan kaki ketika mereka mekar pada akhir April dan Mei, kata Rieffel, tahun ini bernasib lebih baik.

Dan di pinggiran kota, rumput yang tidak dipangkas akan menjadi sumber "makanan untuk lebah, lebah dan kupu-kupu", Julliard menambahkan.

Tetapi baginya, efek perubahan ini dialami manusia. "Fenomena paling penting adalah perubahan hubungan manusia terhadap alam. Selama berada di rumah, mereka jadi lebih menghargai alam," katanya.

Terjebak di dalam ruangan, dengan dunianya berkurang menjadi beberapa meter persegi, orang-orang yang terkurung mendadak menjadi pengamat burung.

Ornitolog Inggris David Lindo, yang dikenal sebagai "Urban Birder", telah menulis cuitan di Twitter mengenai burung-burung yang ia lihat dari atap rumahnya di Spanyol.

"Langit adalah arena yang hebat, apa pun bisa terbang melewatinya dan, paling tidak, itu akan memberi Anda kedamaian. Pesan saya sederhana: teruslah memandang ke atas," tulisannya di Twitter.

Namun, ada juga dampak negatif dari social distancing dan lockdown manusia bagi alam.

Upaya untuk membatasi hewan "perusak" dan yang terancam punah juga ikut terhenti sementara, kata Loic Obled dari OFB.

Dan ketika lockdown berakhir, Rieffel memperingatkan bahwa "orang akan memiliki kebutuhan besar akan alam dan akan ada risiko terlalu banyak pengunjung (ke taman alam), yang tidak akan baik untuk flora dan fauna."

Burung-burung yang bersarang di halaman sekolah atau pabrik yang ditinggalkan akan kembali menemukan diri mereka terganggu, ia memperingatkan.

Kebebasan hewan dan tanaman liar mungkin nantinya bakal berumur lebih pendek.

(AFP/ard)