SURAT DARI RANTAU

Mencoba Menjadi Ekspatriat di Negeri Jiran

Lucky Trihadi, CNN Indonesia | Sabtu, 28/03/2020 15:57 WIB
Selain biaya sekolah, yang juga mengagetkan ialah lingkungan pergaulannya. Ada anak pemilik tambang emas di Afrika sampai anak raja di sini. Pemandangan dari Singapura yang menunjukkan jalur ke kota Johor Bahru, Malaysia. (ROSLAN RAHMAN / AFP)
Johor Bahru, CNN Indonesia -- Kapal telah berlabuh dari Batam, sekitar 2 jam sampai di Puteri Harbour, Johor Bahru, Malaysia. Dari Singapore ke Johor Bahru jaraknya lebih dekat. Cukup menyeberangi jembatan sepanjang 1.056 meter di atas Selat Johor.

Perjalanan darat dari Johor Bahru ke Bandara Changi Singapore juga sangat mudah, hanya 30 menit bila tidak terjadi antrian.

Hari itu awal September 2019. Kami memulai hidup baru, di Johor Bahru, Malaysia. Mencoba menjadi ekspatriat selama 2 tahun, bila sesuai dengan rencana.


Bulan pertama, kami menginap di Somerset, di kawasan samping dermaga, agar lebih dekat dengan sekolah putri kami yang kala itu berusia 13 tahun, pindahan dari SMP Labschool Kebayoran Baru, Jakarta, kelas VII.

Di sekolah internasional ini anak kami melompat 1 tahun, menjadi kelas IX, karena sekolah di Negeri Jiran ditempuh selama 13 tahun, atau 1 tahun lebih lama dari Indonesia. Dari SD sampai SMA.

Tidak masalah, hanya perlu penyesuaian budaya. Namun saat pertama kali pindah, anak kami memang belum menerima sepenuhnya, karena harus berpisah dengan teman-temannya.

Berhati-hatilah terhadap doa. Konsekuensinya, harus terlaksana bila terkabulkan. Boleh jadi, pindah ke Negeri Jiran terjadi karena istri saya.

Ia pernah berdoa untuk bisa bekerja sebagai ekspatriat di luar negeri. Setelah bertahun-tahun sebagai HR Country Manager, mengurusi akomodasi orang bule yang bekerja di Jakarta, ia merasa ekspatriat cukup dimanja dengan beragam fasilitas. Laksana Dewa.

Pikirnya, kapan kita bisa gantian menjadi ekspatriat?

Puji syukur, doa orang teraniaya terjawab. Tak mungkin kami menolak.

Selain mengurus surat menyurat, biaya, dan dokumen, salah satu hal terberat lain adalah meyakinkan anak kami, agar dapat kerasan tinggal bersama kami dan pindah ke sekolah baru.

Benar saja, sebagai ekspatriat di sini hampir semua fasilitas seperti penginapan, biaya sekolah, transportasi, dibayar oleh kantor. Kalau pakai uang sendiri, jelas kami tidak mampu.

Untuk sewa apartemen, kami mendapat jatah Rp20 juta per bulan. Bersyukur, di sini kami dapat bekerja di perusahaan multinasional asal Eropa, yang sepertinya punya modal lebih untuk membiayai ekspatriat.

Mendapat kesempatan emas seperti ini membuat saya tak habis pikir, kenapa teman saya yang usianya lebih muda, jabatannya lebih tinggi, tidak mau menantang diri untuk berkarier di luar negeri.

Jika umurnya masih muda dan belum menikah, mungkin fasilitas yang akan diterima akan lebih menyenangkan lagi.

Tapi kalau ditanya demikian masing-masing punya alibi, itu pilihan. Bagi kami hanya ingin mencoba menjadi ekspatriat. Bukan untuk selama-lamanya.

Waktu berlalu, bulan ke-dua di Negeri Jiran kami pindah apartemen ke tengah kota Johor Bahru, dengan harga sewa sama.

Alasannya agar lebih dekat dengan tempat bekerja, belanja bahan baku, dapat memesan makanan secara on line.

Jarak antara Puteri Harbour ke tengah kota, sekitar 20 menit. Anak kami ikut bus sekolah untuk kebutuhan antar jemput. Biayanya kami tanggung sendiri, Rp3 juta per bulan.

Mencoba Menjadi Ekspatriat di Negeri JiranPemandangan kota Johor Bahru di Malaysia. (Roslan RAHMAN / AFP)

Perlu diketahui bahwa biaya sekolah internasional di Malaysia sungguh luar biasa, setara dengan harga mobil baru jenis Alphard untuk biaya per tahunnya. Mengelus dada, mengagetkan. Ibaratnya bisa beli mobil baru jenis city car setiap bulannya.

Sempat terlintas, berapa gaji gurunya? Ah sudahlah, yang penting bagi kami gratis. Tapi kantor kami hanya membiayai pendidikan sekolah, bukan pernak-perniknya.

Kami wajib membeli laptop dengan merk tertentu, harganya di atas Rp20 juta.

Sepatu juga harus berbahan kulit. Ada sepatu olah raga, sepatu bola dan lainnya.

Urusan studi tur ke luar kota, bermalamnya di hotel bintang lima.

Mungkin ini yang dirasa orang kaya, pusingnya tidak ada habisnya. Rasanya kurang melulu. Besar pemasukan, besar pula pengeluaran. Kami berusaha keras, untuk tidak berhutang, walau godaan di sana sini.

Beruntung, di Johor Bahru wisata kuliner cukup banyak tersedia. Kami bisa makan sampai kenyang dengan harga yang murah meriah.

Ada masakan zaman dahulu, sejak tahun 1881. Sampai dengan yang terkini, berbumbu Melayu, India, Thailand, Vietnam dan Eropa.

Ruang publiknya juga cukup banyak tersedia, seperti panjat tebing tinggi di dalam mal hingga lapangan basket di atas gedung.

Lama kelamaan anak kami mendapat beberapa teman baru. Di mana bumi dipijak, di situ orangtua harus tetap membimbing anak, walau kadang dihiraukan sang anak yang baru tumbuh remaja.

Teman-teman sekolah anak kami bisa dibilang berasal dari keluarga super kaya. Ada yang bapaknya punya tambang emas di Afrika, pengusaha ternama di Singapore, sampai ada yang anak raja.

Puji syukur, tidak ada kasus perundungan. Mereka cukup santun dan baik. Pepatah lama tetap berlaku; tak kenal maka tak sayang. Kami yakin, seiring berjalannya waktu dan kesabaran, anak kami bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

Tak terasa, hampir 6 bulan kami di Johor Bahru. Saat tulisan ini dibuat, sudah hari ke-tujuh semenjak lockdown akibat Virus Corona COVID-19 mulai berlaku di Malaysia.

Tetap bersyukur, walau terpaksa bekerja dari rumah, kebutuhan dasar masih dapat terpenuhi. Gaji bulanan tidak dipotong. Waktu berkumpul dengan keluarga juga semakin berkualitas.

Badai pun tak tahu kapan akan segera berlalu. Semoga saja lebih cepat.

Kabar gembiranya Putri mulai menikmati tinggal di Johor Bahru. Dapat menyesuaikan diri dan punya beberapa teman baru.

Semoga kami dapat pulang kampung saat Lebaran nanti.

-

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi sdr@cnnindonesia.com

[Gambas:Video CNN]

(ard)