Pertimbangan sebelum ke Taman atau Pantai saat Pandemi Corona

CNN Indonesia | Selasa, 31/03/2020 11:17 WIB
Salah satu risiko datang ke taman atau pantai saat pandemi corona ialah tertular atau malah menulari orang lain. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap hari kita mendengar anjuran untuk berdiam di rumah demi mencegah penyebaran pandemi virus corona COVID-19 lebih luas.

Namun bagi yang rumahnya tanpa balkon atau halaman, tentu saja social distancing bakal lebih sulit dijalani. Udara segar dan sinar matahari sangat dibutuhkan para pengidap alergi debu dan sinusitis.

Sebenarnya ada banyak cara untuk menikmati "dunia luar" dengan hanya beberapa langkah dari rumah. Misalnya membuka jendela dan pintu kamar atau menjemur pakaian saat pagi dan menyapu teras saat sore.


"Anda tidak bisa hanya duduk di dalam rumah. Ada titik tertentu di mana Anda bisa menjadi gila," kata Dr. Daniel Griffin, spesialis penyakit menular di Columbia University Medical Center, seperti yang dikutip dari CNN Travel pada Selasa (31/3).

Bagi yang rumahnya tak berada jauh dari taman, pantai, atau bukit - serta pemerintahnya belum mengetatkan aturan soal ke luar rumah, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum melancong ke sana saat pandemi corona ini.

Faktor pertama ialah jika kawasan tempat tinggal termasuk area dengan angka positif atau kematian akibat corona tertinggi.

Seperti di Italia. Pemerintah di sana telah menutup taman, kebun, dan area bermain, serta melarang jogging dan kegiatan rekreasi luar ruang lainnya, yang sekarang hanya akan diizinkan di sekitar rumah.

Di Los Angeles, jalur pendakian yang ramai telah ditutup seluruhnya.

Faktor ke dua ialah soal penularan. Psikolog Baruch Fischhoff mengatakan boleh saja ke ruang publik untuk mendapatkan udara segar, asal bisa mengingatkan diri disiplin dengan aturan menjaga jarak.

Berdiri minimal dua meter satu sama lain - kecuali dengan orang yang tinggal di satu ruangan yang sama, kalau sudah tak tahan lagi untuk menikmati udara segar atau sinar mentari di taman atau pantai.

Namun, Fischhof mengingatkan, risiko terhindar dari virus dengan cara menjaga jarak tidak akan bisa dilakukan di taman atau pantai yang ramai. 

Terutama taman bermain anak, karena mereka keberadaan wahana permainan yang disentuh banyak pengunjung, seperti ayunan atau perosotan.

Untuk pendakian, ketahuilah ada lebih banyak risiko yang harus dihadapi ketimbang harus ke taman atau pantai.

Risiko yang utama ialah jika Anda atau salah satu teman mendaki mengalami kecelakaan dan terpaksa harus ke rumah sakit, yang notabene saat ini tengah dipenuhi oleh pasien virus corona.

Kecelakaan akibat pendakian bakal menambah panjang daftar pekerjaan petugas medis di sana, yang tentunya sangat merepotkan.

[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)