Mi Saus Kacang, Sarapan Akhir Penantian Warga Wuhan

tim, CNN Indonesia | Jumat, 03/04/2020 09:51 WIB
Wuhan tanpa mi siram saus kacang bagaikan Roma tanpa pasta. Dirindukan. Usai wabah corona yang melanda kota tersebut, perlahan  kota ini mulai pulih. Wuhan tanpa mi siram saus kacang bagaikan Roma tanpa pasta. Dirindukan. Usai wabah corona yang melanda kota tersebut, satu per satu kota ini mulai pulih. (AP/Olivia Zhang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wuhan tanpa mi siram saus kacang bagaikan Roma tanpa pasta. Dirindukan. Usai wabah virus corona yang melanda kota tersebut, perlahan kota ini mulai pulih.

Warung mi saus kacang pun langsung diserbu warga kota yang sudah mulai merindukan makanan tersebut. Namun Zhou Guoqiong pemilik warung mi masih tak diizinkan untuk melayani pelanggan untuk makan di dalam warungnya. Dia hanya melayani take away. Tapi nyatanya arus pelanggan yang merindukan mi-nya tak surut. Para pelanggan mengaku betapa rindunya mereka untuk menikmati makanan yang familiar setelah berbulan-bulan terisolasi.

Meskipun jumlah orang yang terinfeksi virus corona sudah menurun, namun pemerintah setempat menekankan Wuhan dan China masih punya jalan panjang. Tetapi kemunculan kembali mie sarapan favorit Wuhan adalah tanda lezat bahwa kehidupan perlahan-lahan mulai beralih ke normal di kota tersebut.


Lima hari setelah dibuka kembali, Zhou dan suaminya sekarang menjual beberapa ratus kantong "reganmian," atau "mie kering panas," setiap hari - memang tak sebanyak sebelum wabah dimulai, tapi lebih dari cukup untuk membuat mereka sibuk.

"Saya bahagia selama ada bisnis," kata Zhou dikutip dari AP.

Wuhan telah mencatat 2.548 kematian akibat virus korona dan melaporkan lebih dari 50.000 kasus, dan kota itu pada dasarnya ditutup mulai 23 Januari.

Ketua Komisi Kesehatan Nasional, Ma Xiaowei, mengatakan pada hari Selasa bahwa "tahap paling berbahaya, paling kritis" dari wabah domestik tampaknya telah berlalu. Tetapi dia bersikeras bahwa karantina ketat pada pelancong dan pembatasan lain seperti penutupan sekolah akan menjadi terangkat hanya secara bertahap dan sangat, sangat hati-hati.

"Saat ini, situasi epidemi di China belum berakhir," kata juru bicara kementerian luar negeri Hua Chunying.


Geliat bisnis kuliner juga terjadi di sepanjang Yanzhi Road di distrik Wuchang Wuhan, toko-toko melakukan bisnis makanan kemasan cepat seperti daging dan mie. Pengeras suara mereka bersahutan untuk menarik pelanggan.

Mi Saus Kacang, Sarapan Akhir Penantian Warga WuhanFoto: AP/Olivia Zhang


Di luar pasar makanan, antrean panjang sebagian besar terdiri dari pelanggan lansia, semuanya menjaga jarak satu sama lain dan mengenakan masker yang diperlukan, beberapa menambahkan sarung tangan karet dan topi.

Pasar beroperasi dari hanya 9 pagi hingga 5 malam. dan hanya menerima 30 pelanggan sekaligus, masing-masing maksimal 20 menit. Pensiunan pegawai negeri sipil berusia 70 tahun, Xiao Yuxia, salah satu pelanggan yang mengantre di pasar itu mengatakan dia berencana untuk makan ikan untuk pertama kalinya dalam dua bulan.



Namun bisnis memang belum berjalan normal. Ini dialami oleh Xiao -yang menolak menyebut nama lengkapnya-. Dia mengatakan stoknya bisa bertahan paling lama 10 hari dan dia ingin melihat lompatan besar dalam bisnisnya.

"Saya perkirakan dalam beberapa bulan ke depan, saya bisa menjual setengah sapi setiap hari," kata (chs)