4 Masalah yang Belum Tuntas di Serial Dokumenter Tiger King

CNN Indonesia | Jumat, 03/04/2020 11:25 WIB
4 Masalah yang Belum Tuntas di Serial Dokumenter Tiger King Joe Exotic, salah satu karakter dalam serial dokumenter Tiger King yang tayang di Netflix. (Dok. NETFLIX/Courtesy of NETFLIX)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penayangan serial dokumenter Tiger King di Netflix pada bulan ini berhasil menghibur orang-orang yang sedang melakukan karantina mandiri di rumah.

Pendeknya, serial dokumenter itu berkisah mengenai persaingan kotor antar kebun binatang di Amerika Serikat (AS) dalam menampilkan atraksi Si Kucing Besar, seperti harimau, macan, dan singa.

Walau drama dan tingkah para karakter - salah satunya Joe Exotic, dalam serial dokumenter itu sangat kocak saking norak dan anehnya, namun ada sejumlah masalah mengenai populasi Si Kucing Besar yang belum tuntas di sana.


Salah satunya ialah soal tren memelihara hewan liar di kalangan orang kaya di AS.

Dikutip dari World Wild Life (WWF), berikut empat masalah soal Si Kucing Besar yang belum tuntas dalam serial dokumenter Tiger King:

1. Ada tren memelihara harimau di AS

Diperkirakan ada sekitar 5.000 harimau yang menjadi hewan peliharaan di AS, sedangkan kurang dari 3.900 yang tersisa di alam liar. 

Sebagian besar harimau di AS tinggal di kandang rumah, menjadi objek atraksi pinggir jalan, dan dikurung dalam fasilitas pengembangbiakan pribadi. Sangat menyedihkan.

Hanya sekitar 6 persen populasi harimau di AS yang tinggal di kebun binatang dengan sertifikasi legal dari badan resmi Association of Zoos and Aquariums.

Banyak pemilik harimau peliharaan di AS yang tidak memiliki kemampuan merawat hewan liar, membuat hewan-hewan ini rentan terhadap perlakuan buruk dan eksploitasi.

Menyentuh langsung dan melatihnya untuk atraksi merupakan beberapa contoh eksploitasi nyata.

Bukan cuma cara hidup harimau saja yang terancam, namun juga keselamatan orang di sekitarnya.

2. Belum ada hukum tegas

Keberadaan harimau di AS saat ini dirasa belum dilindungi dengan payung hukum yang "tegas dan terarah".

Tidak ada satu pun agen pemerintah yang memantau dan melacak lokasi semua harimau di Negeri Paman Sam, sehingga kasus kepemilikan ilegal sampai penjualan anggota tubuh tak terlacak.

Publik masih menanti AS meloloskan Big Cat Public Safety Act, yang membuat seluruh pemilik Si Kucing Besar wajib melaporkan aktivitasnya ke pemerintah pusat, sehingga pemantauan bakal lebih ketat.

Big Cat Public Safety Act juga bakal melarang orang-orang berinteraksi langsung dengan bayi harimau.

Carole Baskin, salah satu karakter dalam serial dokumenter Tiger King. (Dok. NETFLIX/Courtesy of NETFLIX)

3. Kandang buatan bukanlah tempat konservasi

Sesi bermain dan berfoto dengan bayi harimau menjadi sumber pemasukan yang besar bagi tempat wisata - yang sering berkedok tempat konservasi.

Semakin banyak permintaan, akan semakin sering mereka "memaksa" harimau untuk berkembang biak demi lahirnya bayi-bayi nan lucu dan menggemaskan.

Karena dipaksa kawin dan melahirkan secara cepat - sebagian besar terjadi di kandang yang tak layak, banyak bayi harimau yang gagal tumbuh besar dengan sempurna. Ini juga contoh lain eksploitasi terhadap hewan liar.

Kegiatan konservasi sejatinya ialah melindungi kawanan harimau di alam aslinya, tanpa kandang buatan, sehingga mereka bisa beranak pinak dengan natural tanpa deadline.

4. Asia juga ikut bermasalah

Jumlah harimau di "peternakan harimau" telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan 7.000-8.000 harimau dilaporkan dikandangi di sejumlah besar fasilitas di seluruh Asia Timur dan Tenggara - terutama di China, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Populasi "tawanan" ini jauh lebih tinggi dari 3.900 harimau yang diperkirakan tersisa di alam liar.

WWF percaya bahwa operasi "peternakan harimau" bakal mengganggu peningkatan populasi harimau di alam liar, tempat di mana mereka seharusnya hidup.

[Gambas:Youtube]

(ard/ard)