Bagi sebagian orang, anjuran 'stay at home' terasa mewah dan menyenangkan. Tapi bagi sebagian lainnya, anjuran ini terasa bak 'neraka'. Mereka berjuang keras untuk menyesuaikan diri.
Wajar saja, selama dua miliar tahun terakhir, otak manusia berkembang pesat demi bersosialisasi. Melansir Science Focus, otak sangat diperlukan untuk memfasilitasi ikatan sosial dan komunikasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara dari sudut pandang ilmiah lainnya, diketahui bahwa banyak bagian di dalam otak yang mengatur soal ikatan sosial dan komunikasi. Mulai dari hormon oksitosin, visual cortex, anterior insular cortex, juga bagian yang mengatur emosi.
Ilustrasi. Perkembangan teknologi memungkinkan seseorang untuk tetap berkomunikasi dan bersosialisasi tanpa perlu tatap muka. (Istockphoto/Warchi) |
Hormon oksitosin bertugas untuk meningkatkan ikatan interpersonal. Visual cortex didedikasikan untuk mendeteksi dan membaca wajah. Sedang anterior insular cortex bertanggung jawab dalam hal empati, kemampuan untuk mendeteksi kondisi emosional orang lain.
Bagi otak, aktivitas sosialisasi menjadi pengalaman yang bersifat low level pleasure. Interaksi dengan orang lain bisa membentuk ide dan pengertian akan lingkungan sekitar. Seseorang juga akan merasa bahwa pilihan yang diambilnya benar akibat interaksi dalam kelompok yang dilakukan sebelumnya.
Isolasi diri dan menghindari kontak dengan orang lain, dalam dunia psikologi, dianggap sebagai satu bentuk siksaan. Studi menunjukkan, aktivitas otak pada orang yang sedang menjalani isolasi persis seperti rasa kelaparan. Otak merasa 'lapar', bahkan hanya dalam hitungan 10 jam.
Namun, Anda tak perlu khawatir. Beruntung pandemi Covid-19 terjadi pada tahun 2020 saat teknologi telah berkembang pesat. Masyarakat mengembangkan beragam cara untuk tetap berkomunikasi dari jarak jauh. Media sosial juga aplikasi berbasis internet mengisi jurang kebutuhan akan interaksi.
Hanya saja, perlu dipahami pula bahwa komunikasi dan interaksi manusia juga memasukkan beberapa nonverbal seperti kontak mata, ekspresi, dan nada bicara. Komunikasi jarak jauh yang difasilitasi teknologi tak sepenuhnya memuaskan hasrat dan rasa 'lapar' otak untuk bersosialisasi.
[Gambas:Video CNN]
(els/asr)
Ilustrasi. Perkembangan teknologi memungkinkan seseorang untuk tetap berkomunikasi dan bersosialisasi tanpa perlu tatap muka. (Istockphoto/Warchi)