KemenPPPA: 58 Persen Anak Tidak Suka Belajar dari Rumah

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 11/04/2020 13:04 WIB
Riset Kementerian PPPA mengungkapkan sebanyak 58 persen anak mengaku tidak senang selama menjalani program Belajar dari Rumah. Riset Kementerian PPPA mengungkapkan sebanyak 58 persen anak mengaku tidak senang selama menjalani program Belajar dari Rumah.(ANTARA FOTO/Maulana Surya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Riset Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengungkapkan sebanyak 58 persen anak mengaku tidak senang selama menjalani program Belajar dari Rumah. Siswa terpaksa menjalani program Belajar dari Rumah untuk menghindari penularan virus corona (Covid-19).

Sekretaris Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian PPPA Eko Novi Ariyanti menuturkan perasaan tidak menyenangkan tersebut dipicu keterbatasan komunikasi dengan teman.

"Mereka sulit berinteraksi dengan teman-temannya," katanya dalam video conference, Sabtu (11/4).


Di samping itu, anak-anak juga menghadapi kendala teknis selama program Belajar dari Rumah. Tercatat, 38 persen anak mengungkapkan bahwa sekolah belum punya program yang baik untuk sistem belajar di rumah.



Novi juga memaparkan anak-anak tersebut berharap para guru tidak memberikan banyak tugas untuk dikerjakan di rumah. Anak-anak juga mengharapkan ada komunikasi dua arah antara guru dan murid serta pelaksanaan pembelajaran yang efektif.

"Kemudian penyediaan fasilitas internet dan perangkat yang mumpuni dan penyediaan e-book edukasi dan video kreatif," imbuhnya.

Riset tersebut dilakukan berdasarkan survei melalui google form yang dilakukan oleh pengurus Forum Anak Seluruh Indonesia. Pengumpulan data dilakukan pada periode 26-29 Maret 2020 dari 29 provinsi. Mayoritas responden adalah anak usia 14-17 tahun sebanyak 90 persen. Rinciannya, 69 persen anak perempuan dan 31 persen anak laki-laki.


Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyatakan akan menayangkan program Belajar dari Rumah di TVRI, sehingga bisa diakses oleh pelajar di seluruh Indonesia. Program tersebut akan mulai dapat diakses seluruh masyarakat Indonesia mulai Senin (13/4) mendatang sejak pukul 08.00 sampai 23.00. Nantinya, penayangan program tersebut akan dilakukan selama 3 bulan dan akan dievaluasi kemudian.

"Kami sadar bahwa banyak juga sekolah-sekolah di daerah-daerah, satu tidak punya akses ke internet ataupun, dua masih sulit untuk memahami bagaimana menggunakan platform-platform teknologi. Ataupun ada keterbatasan dana," kata Nadiem. (ulf/chs)

[Gambas:Video CNN]