Corona dan Cerita Mereka yang 'Tertinggal' di Kantor Kosong

tim, CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2020 14:55 WIB
Corona dan Cerita Mereka yang 'Tertinggal' di Kantor Kosong ilustrasi: Berbahagialah Anda yang bisa merasakan work from home, namun di kantor, masih ada mereka yang tertinggal di kantor kosong, satpam, cleaning service, dan OB. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak anjuran work from home dan juga sistem shift diberlakukan beberapa kantor di Jakarta, ruas jalan protokol sedikit sepi dan ruang-ruang kantor bak ruang baru tanpa penghuni.

Meski ruangan kerja di kantor kosong, gedung-gedung tak sepenuhnya tanpa penghuni. Anda beruntung jika sebagai karyawan kantoran Anda bisa bekerja dari rumah. Hanya saja di kantor Anda yang sepi itu, beberapa orang masih bertahan di sana karena mereka menjadi garda terdepan untuk melindungi kantor Anda dan segala sesuatu yang ada di dalamnya.

Satpam, cleaning service, office boy atau office girl adalah segelintir dari orang yang tak mendapat keistimewaan untuk bisa bekerja di rumah atau bahkan libur. Pahitnya, mungkin ada di antara mereka yang justru terkena PHK.


Bagi mereka, imbauan untuk WFH atau diliburkan kantor bukanlah sebuah pilihan. Mereka tak punya opsi sebab pekerjaan mereka dianggap hanya bisa dilakukan di kantor. Tak bisa dikendalikan dari jarak jauh.



"Shift saya tidak berubah sama sekali, sama seperti hari biasanya. Enggak ada yang beda," kata Rudi (bukan nama sebenarnya), satpam salah satu satpam perkantoran di Jakarta kepada CNNIndonesia.com.

"Orang yang ke kantor memang lebih sedikit, tapi kerjaan kami semakin banyak dan lebih capek. Salah satunya harus ngecek-ngecekin suhu orang yang masuk. Itu artinya kami harus berdiri terus dan standby 24 jam. Pegel juga."

Di gedung berlantai sebelas itu, Rudi memang harus standby dan menjaga seluruh lantai --dari atas sampai bawah-- untuk memastikan tak ada barang hilang atau orang yang tak dikenal masuk serta berbuat onar. Di samping mereka juga harus tetap menjaga kesehatan diri sendiri. Terkadang mereka juga 'nyambi' jadi penerima paket dari perusahaan ekspedisi pengantaran untuk karyawan yang tengah WFH.

"Enggak ada tambahan apalagi bonus, ya sama saja," katanya sembari tersenyum getir.

Namun setidaknya dia masih bersyukur karena perusahaan tempatnya bekerja masih mempersenjatainya dengan masker kain, sarung tangan, hand sanitizer, dan wastafel portabel di depan kantor.

"Sarung tangan plastik ini diganti setiap hari, kalau masker kain ya seumur hidup," ujarnya bercanda.


Mereka juga mendapat makan siang di kantor bersama karyawan lainnya. Hanya saja Rudi mengeluhkan diskriminasi perkara hal ini.

"Di hari biasa enggak dapat makan siang dari kantor, tapi karena ada wabah ini jadinya dapat makan siang. Alhamdulilah."

"Tapi kemarin sempat kena masalah juga, karena tiba-tiba diomelin dan dibilang satpam disuruh makan terakhir, karyawan dulu. Kami kan juga karyawan, apa bedanya ya?"

"Ambil positifnya saja, karena beliau pikir kalau satpam makan duluan nanti ga ada orang di pos. Tapi ya sebenarnya kami juga sudah atur sih, ambil makannya gantian. Jadi sekarang ya waktu makan nunggu dipanggil saja."

Masalah serupa juga dialami para cleaning service dan juga office boy.

Noval, seorang office boy, dan Neneng seorang cleaning service di perusahaan yang berbeda juga mengaku tetap masuk kantor seperti biasa. Namun kali ini jadwal shiftnya berbeda-beda.

"Ada rollingan, masuknya gantian dengan yang lain," ujar Noval.

Saat di kantor, Neneng dan Noval masih mengerjakan berbagai kerjaan mereka sehari-hari. Membersihkan toilet, menyapu, mengelap meja, mengepel, mencuci gelas, sendok, dan gelas.

Namun bedanya, kali ini pekerjaan mereka tak terlalu lelah dibanding hari sebelumnya. Mereka juga memakai masker untuk melindungi dirinya.

"Takut sih (infeksi corona) tapi mau gimana lagi, kami tetap disuruh masuk. Tapi ya Bismillah aja enggak ada apa-apa," ujar Neneng. Hal senada juga diungkapkan Rudi dan Noval.

"Kerjaan kami dirolling, tapi gaji yang kami terima juga cuma separuhnya saja. Dipotong kantor," keluh Neneng dan Noval. (chs)

[Gambas:Video CNN]