CELOTEH WISATA

Sudah Turun Gunung, Pendaki Himalaya Tak Bisa Keluar Nepal

CNN Indonesia | Senin, 20/04/2020 14:39 WIB
Mountaineers climbing Everest Pegunungan Himalaya. (Istockphoto/Sansubba)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terdampar di Kathmandu, kehabisan uang tunai, dan tidak bisa pulang, Alexander Sys adalah satu dari ratusan turis yang petualangannya terpaksa berakhir akibat lockdown di Nepal.

Turis asal Rusia dan China menjadi mayoritas pendatang yang melakukan pendakian di pegunungan Himalaya. Saat ini mereka telah dievakuasi dari jalur pendakian.

"Untuk saat ini tidak apa-apa, tetapi kami tidak tahu berapa lama kami harus menunggu penerbangan pulang kami," kata Sys, yang berada di wilayah Annapurna ketika Nepal memberlakukan lockdown pada 24 Maret.


"Terkadang saya panik dan bertanya-tanya apa yang terjadi," tambah turis asal Latvia, Aleksandra Terandjaka.

Musim semi adalah musim puncak pendakian di Nepal. Rute pendakian Himalaya dari negara ini mendatangkan sekitar 150 ribu orang setiap tahunnya.

Lockdown menyebabkan pihak berwenang memblokir jalur dari dan ke tempat pendakian serta bandara.

Lebih dari 1.700 orang, termasuk Sys, dievakuasi dengan bus dan penerbangan carter ke ibukota, di mana sekitar 1.000 orang kini belum bisa pulang ke negara asalnya.

"Kami seharusnya terbang dari Jomsom ke Pokhara, tetapi semua penerbangan dibatalkan. Kami menunggu dua hari dan kemudian datang ke Kathmandu dengan bus," katanya.

Penerbangannya kembali ke Rusia, yang dijadwalkan 29 Maret, hingga saat ini masih dibatalkan.

"Sejak itu kami terus menunggu penerbangan kami," katanya.

Sys dan sebagian besar turis mancanegara lainnya sekarang terjebak di distrik wisata Thamel, di mana beberapa hotel tetap buka dan beberapa restoran menyiapkan makanan gratis.

Lebih dari 4.000 turis mancanegara telah meninggalkan Nepal melalui penerbangan khusus ke Australia, Eropa dan Amerika Serikat.

Badan Pariwisata Nepal telah membantu mengatur penerbangan dengan kedutaan dan membuat akun "Terdampar di Nepal (Stranded in Nepal)" di media sosial bagi para wisatawan untuk berbagi kebutuhan mereka.

"Kami tidak pernah adanya masalah ini. Banyak hal telah berubah sejak kami pergi," kata Terandjaka yang telah berada di Kathmandu bersama tunangannya Karlis Zemke selama tiga minggu.

"Hari-hari pertama adalah yang paling sulit karena tidak ada restoran atau toko yang buka. Pihak hotel memberi kami makan," tambah Zemke.

Pasangan itu tidak yakin kapan mereka akan pulang.

"Tidak banyak warga Latvia, sehingga tidak ada yang akan mengirim pesawat hanya untuk menjemput kami. Dan bahkan jika kami mendapatkan penerbangan ke Eropa, semua penerbangan ke negara kami ditutup," kata Zemke.

[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK