Turki Lockdown, Lumba-lumba Pelesir di Selat Bosphorus

CNN Indonesia | Senin, 27/04/2020 13:10 WIB
A dolphin swims in the straits of the Bosphorus where sea traffic has nearly come to a halt  on April 25, 2020, as Turkish government announced a four-day curfew to prevent the spread of the epidemic COVID-19 caused by the novel coronavirus. - In the waters of the Bosphorus, dolphins are these days swimming near the shoreline in Turkey's largest city Istanbul with lower local maritime traffic and a ban on fishing. The city of 16 million has been under lockdown since April 23, 2020, as part of government measures to stem the spread of the coronavirus -- after two successive weekends. (Photo by Ozan KOSE / AFP) Lumba-lumba yang terlihat berenang dengan santai di Selat Bosphorus yang tenang selama lockdown pandemi virus corona di Turki. (AFP/OZAN KOSE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Larangan memancing dan sepinya lalu lintas kapal di Selat Bosphorus - yang "memisahkan" daratan Eropa dan Asia, membuat kawanan lumba-lumba datang lagi.

Istanbul, ibu kota Turki yang berpenduduk 16 juta orang, telah dikunci sejak Kamis (23/4), sebagai bagian dari langkah pemerintah untuk membendung penyebaran virus corona, menyusul penutupan dua akhir pekan berturut-turut sebelumnya.

Lockdown disebut akan berakhir pada hari Minggu (3/5) tengah malam.


Pandemi virus corona telah merenggut lebih dari 2.700 jiwa di Turki.

Melihat lumba-lumba di Bosphorus - jalur air sempit nan sibuk yang menghubungkan Mediterania ke Laut Hitam tepat di jantung kota Istanbul - sering menjadi destinasi wisata bagi penduduk kota.

Tetapi lockdown mengakibatkan lebih sedikit kapal dan lebih banyak ikan di dalam air, mendorong kawanan mamalia itu untuk berenang lebih dekat ke pantai.

"Penurunan lalu lintas kapal dan manusia di Bosphorus berdampak besar," kata Erol Orkcu, kepala asosiasi pemancing amatir di Istanbul.

"Makhluk hidup di perairan dapat hidup bebas tanpa manusia. Itu memungkinkan lumba-lumba mendekat ke garis pantai," katanya kepada AFP.

Sebelum pandemi, memancing adalah ritual sehari-hari di Istanbul.

Pemancing biasanya menyalakan api unggun sambil membawa samovar - alat membuat teh tradisional, di sepanjang pantai.

Pemandangan ribuan pemancing di Jembatan Galata dan di tepi Bosphorus adalah salah satu ikon kota ini. Tetapi kini area tersebut kosong.

'Teror' dari penangkapan ikan

Yoruk Isik, seorang pengamat kapal yang gemar mendokumentasikan kapal yang melewati Bosphorus, mengatakan ia telah memotret lumba-lumba sebelum pandemi datang, tetapi sekarang mereka berenang jauh lebih dekat ke pantai.

"Lumba-lumba" semakin dekat ke tepi air ketika teror pemancing tidak terkendali di garis pantai sementara waktu berhenti, "katanya kepada AFP.

"Saya menyebutnya teror, karena 90 persen dari mereka tidak menyadari apa yang mereka lakukan dan menyebabkan pencemaran lingkungan yang luar biasa," katanya.

Di Sarayburnu, yang memisahkan Golden Horn dari Laut Marmara, sekelompok lumba-lumba terlihat berenang bersama pasukan burung camar - yang menjadi kegembiraan para fotografer.

Kemunculan lumba-lumba dipandang sebagai indikator sehatnya ekosistem maritim, ketika mamalia berjuang untuk bertahan hidup.

Sastrawan legendaris Turki, Yasar Kemal menulis tentang kehancuran yang terjadi pada ekosistem pesisir negara itu akibat perburuan lumba-lumba untuk minyak dalam novelnya tahun 1978 yang berjudul 'The Sea-Crossed Fisherman'.

Sejak 1983, perburuan mamalia laut telah dilarang di Turki, dan lumba-lumba dilindungi oleh hukum.

[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK