Bertahan dari Pandemi Corona di Bilik Kafe Internet Tokyo

CNN Indonesia | Senin, 04/05/2020 12:38 WIB
Kafe internet di Tokyo sering dijadikan hunian oleh tunawisma. Pandemi virus corona memaksa mereka angkat kaki dari sana. Ilustrasi. (iStockphoto/Terraxplorer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagai pekerja konstruksi bangunan, Takahashi mendapat penghasilan yang membuatnya bisa menyewa ruangan pribadi di salah satu bilik kafe internet di Jepang.

Namun, pandemi virus corona yang sedang melanda membuat ia harus angkat kaki dari "rumahnya" itu.

Hingga saat ini, pemuda berusia 35 tahun itu sudah tinggal di terminal bus Tokyo selama dua minggu.


"Banyak perusahaan yang bangkrut karena pandemi. Banyak pengangguran seperti saya sekarang," kata Takahasi, di tengah antrean makanan dari kelompok kemanusiaan Moyai.

Takahasi adalah satu dari 4.000 "pengungsi kafe internet" - tunawisma, kebanyakan pria, yang sebelum pandemi biasanya membayar sekitar Rp257 ribu sampai Rp424 ribu untuk bermalam dalam bilik seluas 2 meter persegi di kafe internet 24 jam.

Jepang masih terus bergulat demi menekan jumlah kasus virus corona.

Dikutip dari Worldometer per Senin (4/5), saat ini ada 14.877 kasus positif di Jepang, dengan 487 kematian dan 3.981 kesembuhan.

Untuk mencegah penyebaran virus, Japan menerapkan status darurat nasional, yang memaksa pebisnis menutup tempat usahanya, termasuk kafe internet, sehingga penghuninya terpaksa mencari tempat berlindung yang lain.

Pemerintah Jepang menyediakan perumahan darurat untuk penghuni kafe internet, tetapi masalah tunawisma ini sudah lama terjadi bahkan sebelum pandemi virus corona berlangsung.

Menyewa rumah di kafe internet

Meskipun Tokyo memiliki reputasi sebagai kota modern yang serba canggih, kota ini juga tercatat memiliki 5.126 tunawisma, menurut data pemerintah Tokyo pada 2019.

Sebanyak 4.000 tunawisma adalah penghuni kafe internet, sementara lebih dari 1.000 tunawisma yang menganggur hidup di bawah jembatan, taman, atau tepi sungai. Kelompok kemanusiaan percaya jumlah tunawisma sebenarnya jauh lebih tinggi.

Begitu juga dengan jumlah tunawisma pria dibanding wanita, karena tunawisma wanita lebih sering dibantu.

Meningkatnya jumlah tunawisma juga dikarenakan banyak dari mereka yang terlalu malu untuk mencari bantuan.

Kafe internet memberi mereka tempat tinggal dan anonimitas. Pemilik hanya mengajukan beberapa pertanyaan lalu menerima pembayaran tunai di muka.

"Orang-orang mulai menggunakan kafe internet sebagai alternatif murah untuk tempat penginapan. Sejak itu berangsur-angsur berubah menjadi semacam tempat penampungan tunawisma," kata Tom Gill, seorang antropolog sosial di Universitas Meiji Gakuin, seperti yang dikutip dari CNN International pada Senin (4/5).

Buka sepanjang waktu, banyak kafe internet, kafe manga, dan kafe video game di seluruh Jepang menyediakan kamar kecil, binatu koin, restoran, dan yang paling penting - bilik pribadi dengan kursi malas yang dapat disewa dengan tarif per jam, harian atau semalaman.

Partisi kayu tipis memisahkan bilik dan koridor panjang nan sempit, yang membagi satu bilik dengan bilik lainnya.

Ada begitu banyak kafe internet di Tokyo, sehingga siapa pun dapat menemukan tempat untuk tidur setiap malamnya.

Japan Internet CafeDeretan kafe internet di Tokyo, Jepang. (Mino mu via Wikimedia Commons)

Ingin kehidupan lebih baik

Sebelum menjadi pengangguran, Takahashi bekerja sebagai buruh harian di kompleks pembuatan kapal di Hiroshima. Tetapi dia hijrah ke Tokyo pada November lalu ketika mendengar upah yang lebih baik di ibukota.

Upah minimum di Tokyo sekitar Rp136 ribu per jam, jumlahnya lebih kecil di Hiroshima, menurut organisasi perdagangan eksternal Jepang.

Dengan upah hariannya, Takahashi memilih untuk tinggal di kafe manga. Di sana ia dapat membaca beragam buku komik sepulang kerja.

Sebanyak 15 ribu orang menginap di kafe internet dalam satu malam di Tokyo - banyak dari mereka adalah pekerja kantoran Jepang ketinggalan kereta terakhir setelah minum-minum.

Tetapi penghuni yang lain, seperti Takahashi, merupakan orang-orang yang tidak mampu membeli rumah.

Takahashi tidak keberatan jika kafe sedang ramai. Ia menyewa bilik pribadi dengan akses masuk berupa kartu. Semua barang-barangnya ada di ransel, sehingga dia bisa dengan mudah berpindah dari satu kafe ke kafe lainnya.

Tapi semuanya berubah ketika pandemi melanda.

Perusahaan tempat ia bekerja bangkrut. Takahashi mendengar tentang sebuah kafe internet di taman Yoyogi yang hanya bertarif Rp30 ribu per 12 jam dan pindah ke sana.

Tetapi ketika tempat itu ditutup, dia tidak punya tempat lain untuk tidur.

Hotel dari pemerintah

Tren menghuni kafe internet sudah berlangsung sejak tahun 1990-an. Pandemi virus corona seakan menyibak masalah serius dalam tren tersebut.

Pada 30 April, Hatanaka Kazuo, juru bicara pemerintah kota Tokyo, mengatakan pihaknya akan menyediakan kamar bagi para penghuni kafe internet di sebuah hotel bisnis hingga 6 Mei, ketika keadaan darurat negara itu dijadwalkan akan berakhir.

Periode itu, katanya, dapat diperpanjang jika keadaan darurat belum mencabut.

Untuk memenuhi syarat, penghuni kafe internet perlu menunjukkan kartu keanggotaan kafe atau membawa tanda terima untuk membuktikan bahwa mereka telah tinggal di kafe internet.

Setiap rumah sakit di Tokyo memiliki konter informasi di mana para pengungsi kafe internet dapat berkonsultasi mengenai tempat tinggal.

Sebelum 21 April, para penghuni kafe internet perlu memiliki bukti bahwa mereka telah tinggal di Tokyo selama 6 bulan. Pada 22 April, Tokyo membatalkan aturan itu.

Sejak deklarasi keadaan darurat di Tokyo pada 7 April, hampir 700 orang telah pindah ke kamar hotel bisnis yang disediakan oleh pemerintah setempat.

Di sebelah selatan Tokyo di kota Yokohama, para pejabat telah mengubah aula seni bela diri menjadi tempat perlindungan dengan bilik kecil pribadi yang memiliki tirai untuk memberikan privasi dan menghormati aturan jarak sosial.

Takahashi berharap ia bisa kembali mendapat pekerjaan, sehingga bisa mengumpulkan uang dan kembali ke Hiroshima.

"Saya tercatat tinggal di Hiroshima, sepertinya saya tidak memiliki persyaratan untuk bisa tinggal di hotel dari pemerintah. Jika besok bisa mendapat pekerjaan, mungkin saya bisa pulang ke Hiroshima," katanya.

[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)