Anak Muda Australia Rentan Bunuh Diri karena Efek Pandemi

CNN Indonesia | Kamis, 07/05/2020 23:11 WIB
Deb Ware, left, urges her son, Sam, to go to rehab upon letting him return to her home for the first time since he last overdosed there three weeks earlier, in Fountaindale, Central Coast, Australia, Friday, July 19, 2019. But he doesn't like rehab, he says. He doesn't like the people who go there. He doesn't like the rules. And there's something else. Ilustrasi. (AP Photo/David Goldman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para ahli memperingatkan bahwa ada peluang terjadi lonjakan angka kematian akibat bunuh diri di Australia sebagai imbas dari tekanan keuangan dan psikologi dari pandemi virus corona.

Model garapan Brain and Mind Centre, Sydney University, menduga akan ada tambahan kasus bunuh diri sebanyak 750 hingga 1.500 kejadian per tahun hingga lima tahun mendatang.

Hal itu disebut terjadi karena imbas dari kebijakan lockdown yang membuat ekonomi menjadi melambat, demi mencegah penyebaran virus corona.


Penambahan kasus tersebut mencapai 25 hingga 30 persen dari rata-rata kasus bunuh diri di Australia sebanyak 3.000 kasus per tahun.

Dalam laporan bersama para ahli kejiwaan dan The Australian Medical Association, disebutkan bahwa anak muda menjadi kelompok yang paling terkena imbas dari penutupan sekolah dan jasa.

Pada kelompok tersebut, para ahli menyebut, bisa terjadi lonjakan angka bunuh diri hingga 30 persen.

"Kami mengetahui bahwa anak muda akan terkena dampak pandemi Covid-19 secara tidak proporsional, dan langkah yang perlu dilakukan untuk menghentikan penyakit mematikan ini," kata pihak peneliti.

"Kelompok ini rentan mengalami stres psikologis, keuangan, dan tempat tinggal baik dalam periode singkat maupun jangka panjang," lanjutnya.

Australia menjadi salah satu negara dengan tingkat keberhasilan penanggulangan Covid-19 yang tinggi. Jumlah kasus positif di negara tersebut kurang dari 7.000 dan 100 kematian dari total populasi yang mencapai 25 juta penduduk.

Akan tetapi, larangan bepergian, pertemuan massal, dan bisnis retail telah memberikan dampak buruk terhadap ekonomi. Sejauh ini, pandemi telah membakar Aus$4 miliar atau US$2,5 miliar uang negara itu per minggu dari kegiatan ekonomi dan memaksa jutaan orang menjadi pengangguran.

Menteri Kesehatan Greg Hunt memberikan respons atas laporan tersebut. Ia menyatakan Pemerintah Australia tengah menyuntik tambahan dana sebesar Aus$500 juta untuk pendanaan kesehatan mental sebagai upaya pencegahan kejadian bunuh diri.

Selain itu, Pemerintah Australia mengumumkan miliaran dolar akan diberikan sebagai tambahan tunjangan pengangguran dan pembayaran kepada pengusaha yang mempertahankan karyawannya selama krisis ini.

Pemerintah Australia diperkirakan akan mengumumkan relaksasi dari pelarangan kala pandemi pada Jumat (8/5). Akan tetapi, diperkirakan masih butuh berbulan-bulan untuk kehidupan berjalan normal seperti sedia kala.

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Into The Light ([email protected]) untuk penduduk Jabodetabek atau Inti Mata Jiwa untuk penduduk Yogyakarta dan sekitarnya ([email protected]).


(AFP/end)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK