Studi: Obat Malaria Tak Berefek untuk Pasien Corona

tim, CNN Indonesia | Jumat, 08/05/2020 07:33 WIB
Doctor or physician recommend pills medical prescription to male Patient  hospital and medicine concept Ilustrasi: Sebuah penelitian tak menemukan adanya manfaat ataupun bahaya dari pemberian obat malaria hydroxychloroquine kepada pasien virus corona yang sakit parah.(Stockphoto/SARINYAPINNGAM)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah penelitian yang dilakukan di sebuah rumah sakit di New York tak menemukan adanya manfaat ataupun bahaya dari pemberian obat malaria hydroxychloroquine kepada pasien virus corona yang sakit parah.

"Risiko intubasi atau kematian tidak secara signifikan lebih tinggi atau lebih rendah di antara pasien yang menerima hydroxychloroquine dibandingkan di antara mereka yang tidak," kata para penulis penelitian, dikutip dari AFP.

Penelitian ini diterbitkan pada Kamis (7/5) dalam The New England Journal of Medicine.


Studi pengamatan dilakukan di antara pasien ruang gawat darurat di New York-Presbyterian Hospital dan Columbia University Irving Medical Center dan didanai oleh National Institutes of Health.

Untuk penelitian ini, 811 pasien menerima dua dosis 600 mg hydroxychloroquine pada hari pertama dan 400 mg setiap hari selama empat hari.


565 pasien lainnya tidak menerima obat.

"Namun, temuan kami tidak mendukung penggunaan hydroxychloroquine saat ini, di luar uji klinis acak yang menguji kemanjurannya," kata mereka.

"Tidak ada hubungan yang signifikan antara penggunaan hydroxychloroquine dan intubasi atau kematian."

Penelitian sebelumnya menyebut pada ratusan pasien di pusat kesehatan Veterans Health Administration, Amerika Serikat menemukan pasien Covid-19 yang menggunakan hydroxychloroquine memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak menggunakan obat itu.

Berdasarkan hasil riset terbaru ini, peneliti menyimpulkan bahwa obat tersebut tak berpengaruh pada pasien Covid-19, tak menyembuhkan atau menyebabkan  kematian. 

Health Canada, European Medicines Agency, dan FDA AS telah memperingatkan penggunaan obat malaria itu untuk mengobati COVID-19 di luar uji klinis.


Hydroxychloroquine dan senyawa chloroquine selama ini telah digunakan selama beberapa dekade untuk mengobati malaria, gangguan autoimun lupus, dan rheumatoid arthritis.

Pemerintah AS pekan lalu mengizinkan penggunaan darurat dari remdesivir obat eksperimental terhadap COVID-19 setelah ditunjukkan dalam uji klinis utama untuk mempersingkat waktu pemulihan pada beberapa pasien virus corona. (chs)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK