Studi Belgia Teliti Antibodi Darah Ilama untuk Obat Corona

tim, CNN Indonesia | Selasa, 19/05/2020 15:34 WIB
Alpaca, white ilama, funny animal, profile Penelitian lain di Belgia baru-baru mencoba mengisolasi antibodi dari tubuh ilama (Lama glama) untuk mengobati pasien virus corona. (iStockphoto/Pascale Gueret)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terobosan demi terobosan bermunculan demi menemukan terapi infeksi virus corona (Covid-19), salah satu yang tengah heboh adalah dengan eucalyptus yang dianggap punya potensi sebagai antivirus.

Selain itu, penelitian lain di Belgia baru-baru mencoba mengisolasi antibodi dari tubuh ilama (Lama glama) untuk mengobati pasien virus corona. Menurut Profesor Xavier Saelens dari Flemish Institute of Biotechnology (VIB), jika berhasil ini bukan kali pertama ilama berguna dalam ilmu kedokteran.

"Sudah ada obat di pasaran yang berasal dari antibodi dalam darah ilama," kata Saelens mengutip dari Medical Xpress.


Antibodi ilama sebelumnya sudah terdapat pada caplacizumab yang digunakan untuk terapi gangguan trombosit darah atau Thrombocytopenic purpura. Kini Saelens dan tim bekerja sama dengan tim dari University of Texas Austin untuk menemukan terobosan besar dalam pencarian obat corona.


Tim peneliti pun melibatkan seekor ilama betina bernama Winter. Winter disuntik dengan protein dari permukaan virus corona. Tubuhnya pun bereaksi dengan mengembangkan antibodi.

"Ilama memiliki respons imun terhadap protein ini. Tujuan kami adalah menghasilkan pengobatan antivirus yang akan melibatkan pemberian antibodi secara langsung kepada pasien," jelas peneliti VIB Dorien De Vlieger.

Mereka berkata pengujian pada pasien bisa dimulai sebelum akhir tahun.

Meski tampak menjanjikan, riset ini jelas memerlukan waktu lama dan mahal. Bahkan riset tak selalu membuahkan hasil. Selain itu, tak semua peneliti bisa mengakses hewan mirip unta ini.

Penelitian terkait antibodi ilama ini bukanlah hal baru. Melansir dari Harvard Medicine, ilama, alpaca, unta, dan anggota keluarga unta lainnya menghasilkan kelas antibodi yang memungkinkan para ilmuwan menentukan struktur protein yang tidak mungkin dipelajari dalam tubuh, memahami bagaimana protein-protein itu tidak berfungsi pada penyakit, dan merancang obat baru yang efektif pada mereka.


Menanggapi hal tersebut, spesialis penyakit dalam dan anggota IDI Prof Zubairi Djoerban mengungkapkan bahwa hal tersebut mungkin saja terjadi.

"Iya itu mungkin saja, tetapi ada tapinya, kan itu lain spesies jadi kalo dipindahkan ke manusia itu harus pakai proses panjang," ucapnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (14/5).

"Jadi pada prinsipnya kita tidak bisa mendapatkan bagian darah binatang untuk kita, itukan reaksinya akan membahayakan sekali kalaupun kemudian bisa dipillih antibodinya saja yang diisolir itu perlu proses yang lebih rumit.

Namun ada beberapa kelemahan yang ditemukan ketika menggunakan antibodi ilama.

Salah satunya adalah akses ke hewan, harga yang mahal serta waktu uji yang cukup lama.

Saat itu penelitian dengan antibodi ilama dan keluarga unta lainnya digantikan dengan ragi. Tim ahli biologi struktural dari HMS Department of Biological Chemistry and Molecular Pharmacology dan dari University of California mengembangkan botol ragi yang direkayasa khusus.


Metode ragi bisa dilakukan dalam tabung reaksi di laboratorium. Ragi dianggap memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi dan waktu penyelesaian lebih cepat daripada vaksinasi ilama.

Tim peneliti HMS telah membuat perpustakaan 500 juta antibodi unta menggunakan sel ragi. Setiap sel ragi memiliki nanobody yang sedikit berbeda ditambatkan ke permukaannya.

Namun daripada menggunakan antibodi dari beda spesies, diungkapkan Zubairi penggunaan antibodi dari manusia sendiri dinilai lebih efektif.  Dengan satu spesies yang sama, risikonya dianggap bakal lebih kecil.

"Kalau plasma convalecent (penyembuhan berkala setelah pasien terinfeksi) plasma pasien yang sudah sembuh prosesnya lebih sederhana dan cepat memakai alat tertentu. Darah dari pembuluh darah pasien yang sudah sembuh dimasukkan ke dalam alat kemudian plasma dipisahkan dan sel yang lain dikembalikan ke pasien tersebut." (chs)

[Gambas:Video CNN]