Dampak Positif-Negatif Pandemi pada Hubungan Keluarga

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 15/05/2020 08:41 WIB
Ilustrasi makan malam dengan keluarga. (Skeeza/Pixabay) Ilustrasi. Dalam kehidupan berkeluarga, dampak pandemi Covid-19 bisa dilihat dari dua sisi, baik negatif maupun positif. (Pixabay.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanpa terasa, banyak perubahan berarti setelah sekitar dua bulan terus berada di rumah. Selama 24 jam berada di rumah berhari-hari jelas memberikan dampak nyata pada suasana keluarga.

Dalam kehidupan keluarga, dampak pandemi Covid-19 bisa dilihat dari dua sisi, baik negatif maupun positif. Secara positif, misalnya, masa karantina mandiri secara tidak langsung memberikan waktu untuk lebih saling mengenal secara mendalam antar-anggota keluarga.

"Ada hal-hal baru yang baru disadari setelah work from home (WFH). Ternyata selama ini sebagai orang tua itu enggak tahu apa-apa soal anak. Setelah ketemu lama, menemukan ternyata anak punya kebiasaan ini itu," ujar psikolog anak dan keluarga Ratih Zulhaqqi pada CNNIndonesia.com, Rabu (13/5). Kejadian ini banyak ditemui Ratih selama melayani konseling daring di masa pandemi.


Pandemi, lanjut Ratih, secara tidak langsung memberikan kesempatan bagi orang tua untuk lebih mengenal anak-anak mereka. Anggota keluarga bisa saling menyesuaikan dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.

Sementara dari segi negatif, nyaris selama 24 jam berada di rumah rentan menimbulkan berbagai gesekan. Semakin sering anggota keluarga bertemu, semakin sering gesekan terjadi.

Konflik, kata Ratih, umumnya terjadi akibat perbedaan pendapat. Namun, seyogianya perubahan ini dapat disikapi dengan baik sehingga Anda dapat menyesuaikan diri.

Lantas, apakah bisa berbagai perubahan ini disebut sebagai 'the new normal'? The new normal sendiri merujuk pada gaya hidup baru yang muncul untuk berdamai dengan Covid-19.

"Kalau misal kita anggap ini sebagai 'new normal', seharusnya, sih, enggak membawa dampak stressfull. Satu pembiasaan memang butuh waktu. Tapi, setelah itu dibiasakan jadi dapat aja ritmenya," jelas Ratih.

Apa pun kondisinya, kata Ratih, manusia diharapkan selalu bisa untuk menyesuaikan diri. Masalah bisa timbul jika seseorang masih menganggap 'new normal' sebagai sesuatu yang sementara.

Penyesuaian tiap orang akan saling berbeda satu sama lain, terutama dalam hal jangka waktu. Ada beberapa orang yang cepat beradaptasi, ada pula yang masih memerlukan banyak waktu.

Menerima bahwa kondisi baru ini tidak bersifat sementara, kata Ratih, merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk beradaptasi.  "Terima dulu bahwa situasi yang terjadi bukan lah persinggahan sementara. Ini bagian dari perjalanan hidup," kata Ratih. (els/asr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK